Warisan Leluhur, Pengkajian Ilmu yang Sarat Makna

Galeri Foto, Pendidikan

Pengaruh globalisasi dalam dunia pesantren sudah tidak bisa dihindari lagi. Hal tersebut mendesak pesantren untuk berkemas diri agar budaya dan tradisi pesantren masih tetap terjaga otentisitasnya. Seperti yang telah menjadi momok saat ini, pesantren telah sering melakukan inovasi-inovasi baru dalam manajerial maupun habitualnya. Inovasi tersebut bertujuan untuk membangun pertumbuhan pendidikan santri agar lebih modern atau tidak ketinggalan zaman.

Perkembangan inovasi yang dilakukan pesantren sangat cenderung pada dunia pendidikan. Tidak bisa dipungkiri lagi, alat-alat edukasi modern yang semakin cangggih membuat goresan besar pada kelangsungan pembelajaran klasik pesantren. Sehingga bisa tidak bisa pesantren mulai mengikuti perkembangan tersebut guna untuk membanding-luruskan antara pendidikan modern dan pengetahuan klasik. Salah satu pendapat mengenai konsep pengembangan pesantren disampaikan Gus Dur dalam bukunya yang berjudul, Pesantren Sebagai Subkultural, dalam Pesantren dan Pembaruan. Salah satu ungkapannya yaitu, almuhafadatu alaa alqadiimi as-shaalihwa al-akhdzu bi al-jadidii al-ashlah, (memagangtradisi lama yang baik, serta mengambil inovasi baru yang lebih baik).

Perkembangan-perkembangan yang dilakukan pesantren cukup bagus dan kritis, karena bertujuan untuk mendidik santri-santri agar tidak kaku ketika telah berhadapan langsung dengan modernisasi di masyarakat nanti. Namun di lain sisi, perkembangan tersebut memiliki efek samping yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan budaya dan tradisi pesantren itu sendiri. Inovasi-inovasi modern yang masuk dan berkembang tentunya akan menggeser nilai-nilai budaya yang ada di dalam pesantren, sehingga pengetahuan dan pola piker santri mulai berubah sedikit demi sedikit.

Jika penggeseran nilai tersebut tidak cepat disikapi, tentunya akan mengubah setiap budaya dan tradisi yang telah lama tumbuh di dalamnya. Salah satu contoh nyata saat ini adalah tradisi pengkajian, tradisi ini merupakan tradesi lawas yang telah ada dari zaman Rasulullah, hanya saja berbeda dalam penyebutannya saja. Dalam sejarahnya yang telah diceritakan oleh Abdul Manaf, selaku salah satu Narasumber sekaligus santri tua di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Beliau menceritakan, pada mulanya pengkajian tersebut dimulai oleh Rasulullah ketika berdiskusi bersama sahabatnya di suatu masjid di makkah. Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk duduk melingkar di sekitar rasulullah, guna untuk memperdekat jarak antara Rasulullah dan sahabat. Dengan begitu tidak ada penghalang bagi mereka untuk saling berbicara, dan mempermudah dialog satu sama lain. Aktifitas tersebut disebut dengan Halaqah, dan ditiru oleh para sahabat kepada orang lain sampai saat ini. Hingga kemudian para wali songo membawat radisi tersebut ke bangsa merah putih ini dengan istilah lain, Pengkajian. Hanya saja ada beberapa yang diganti oleh para wali songo menyesuaikan kondisi di nusantara ini, dengan menambahkan beberapa bacaan-bacaan di dalamnya.

Memang posisi tradisi ini tidak mengancam kepunahan pada eksistensinya, karena tradisi ini tetap akan selalu dilaksanakan setiap hari oleh santri dan Kyai di dunia pesantren. Melainkan yang menjadi sorotan penting adalah pemahaman akan tradisi tersebut, pula mengenai esensi yang terkandung di dalamnya sudah mulai dilupakan oleh santri maupun masyarakat luas.

Tradisi pengkajian ini sering dijadikan ajang pembelajaran santri dalam dunia pesantren. Karena pengkajian tersebut hanya fokus pada seorang Kyai dan banyak santri. Pula pengkajian ini juga sering dijadikan sebagai metode pembelajaran pesantren, karena keberadaannya yang sangat sesuai jika diterapkan pada dunia pesantren.

Pula tradisi ini diyakini membawakan kemudahan bagi santri dan Kyai dalam melaksanakan pembelajaran. Melalui bacaan-bacaan yang dibacakan pada awal pembukaan pengkajian tersebut, ada beberapa potensi yang tumbuh dibalik fenomena tersebut. Dengan membacakan bacaan atau yang mereka sebut sebagai tawassul, akan membantu untuk menyambung ikatan emosional dari santri pada suatu hal yang berada di dimensi lain. Seperti yang diungkapkan oleh Zainal Husaen, selaku salah satu pengurus tertua di Pesantren Genggong. Beliau mengatakan, ada keterkaitan antara alam bawah sadar manusia dan dimensi lain. Dan  alam bawah sadar tersebut yang akan mendorong pikiran dan hati santri untuk lebih terbuka, sehingga mudah dalam memhami penjelasan yang diutarakan oleh Kyai. “seperti di film-film hipnotis yang sering ditayangkan di stasiun TV, mereka memanfaatkan kekuatan alam sadar orang yang dihipnotis untuk dibangunkan. Sehingga membantu pada orang yang dihipnotis untuk melakukan yang dinginkan dan diyakini.”, lanjutnya.

Tawassul yang dibacakan oleh para santri dan kyai berupa bacaan-bancaan kecil yang dikhususkan atau dikirimkan kepada leluhur mereka yang telah mewariskan pengetahuan dan tradisi tersebut sampai saat ini. Dengan mengirimkan bacaan pada luluhur mereka yang berada di alam lain atau dimensi lain, diyaqini dapat membantu untuk mensinergikan dan menyadarkan kekuatan alam bawah sadar pengirim.

Beberapa ungkapan mengenai tradisi pengkajian di atas, tentunya telah sangat tidak asing bagi kita untuk memahaminya. Pemahaman dan pengetahuan inilah yang telah mulai pudar di kacamata santri modern. Memang sangat kreatif jika kita melihat suatu pesantren yang berkembang mengikuti zaman, dengan tujuan untuk meremajakan santri dalam dunia modern. Namun peremajaan tersebut tidak diiringi oleh antisipasi-antisiapasi lain untuk menyadap pergeseran nilai dan moral, jika suatu ketika nanti terjadi pada pribadi santri.

Antisipasi-antisipasi tersebut perlu dijadikan pembicaraan inten dikalangan cabinet pesantren. Agar warisan-warisan luluhur yang berupa budaya maupun tradisi masih tetap berjalan berbanding-lurus dengan tatanan modernisasi yang berada di lingkungan pesantren. Salah satu contoh pesantren modern yang menyandang budaya modern dan menetapkan potensi klasik adalah Pesantren Gontor. Pesantren tersebut menyinkronisasikan antara budaya lama dan budaya baru, santri-santrinya dicekoki dengan pembelajaran bahasa arab dan inggris. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan antara pengetahuan klasik dan pengetahuan modern. Agar santri alumni pesantren tersebut bisa cair dalam menyikapi perubahan zaman yang sangat tendensial.

Adapun contoh berikutnya yaitu Pesantren Sidogiri yang telah melakukan terobosan-terobosan kreatif dalam mendidik santri-santrinya. Pesantren tersebut mengembangkan pesantrennya dalam dunia entrepreneur, yang mana santri diajari untuk bersikap wirausahawan. Sangat cocok sekali jika disinggungkan pada pergejolakan globalisasi yang semakin parah. Dengan wirausaha santribisa belajar untuk memahami perubahan dunia melalui perdagangan yang dikembangkan oleh pesantren. Namun di lain itu, tradisi-tradisi lama pesantren tetap tumbuh berkembang tanpa ada campur tangan dari pengaruh modern.

Satu hal pula yang lebih penting adalah penerapan, dimana santri tidak hanya mengikuti pengkajian mengenai pembelajaran teori saja. Melainkan pula terjun langsung pada penerapannya, dengan begitu tradisi bisa berkembang dan sejajar posisinya bersama  budaya modern. Menurut M. Fauzi seorang sastrawan Indonesia menulis dalam bukunya Permaisuri Malamku mengatakan bahwa tugas teori hanya untuk meremajakan akal pikiran saja agar selalu salah dalam mengambil keputusan benar.

Dengan melalui penerapan, tradisi pengkajian yang telah mulai kabur bisa tumbuh lagi melalui penerapan-penerapan pengetahuan yang disampaikan oleh kyai ketika dalam pengkajian tersebut.sehingga santri bisa mengmambangkan pola pikirnya dalam memahami pengaruh global. [Jalil]

Comments

comments

Leave a Reply