Sweet Seventeen

Cerpen

Oleh: Siti Aisyatul Adawiyah*

            Pagi ini terasa hangat di ranjangnya. Tidak seperti biasanya Ria merasakan ranjangnya begitu nyaman dan dia enggan untuk beranjak dari posisinya. Berguling-guling dan membenah posisi dirasakannya dengan dalam. Ranjang itu membuat dia semakin tenggelam dari rasa tidurnya. “Ranjang ini begitu nyaman,” gumamnya kecil. Tangannya tak berhenti bergerak, menyusuri setiap sela-sela ranjang putih dan empuk itu. Lama dia meraba, merasakan kenyamanan dengan sangat dalam. Tiba-tiba dirasakannya ada seseorang di sebelahnya. Ria tidak berani membuka matanya. Badannya seketika kaku mengeras bagaikan batu. Jantungnya mulai berderu kencang, napasnya terengah-engah, tak tahan dengan selimut tebal yang menutupi wajahnya. Dia semakin takut, tak tahan rasanya untuk berteriak. Tangannya bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Dirasakannya tidak ada gerakan sedikitpun dari seseorang yang di sebelahnya tersebut.

“Siapakah orang ini, apa yang dilakukannya di kamarku?” Hatinya berbisik. Dia berusaha mengumpulkan keberaniannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Akhirnya Ria duduk dan memalingkan bahu untuk melihat seseorang tersebut.

“Wow??? Siapa kau? Beraninya kau berada di kamarku? Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau ada di sini, di kamar ini? (mata melotot, membelalak, pipiku merona ketakutan)

Pertanyaan itu serontak keluar dari bibir dan mulutku. Dilihatnya seorang pria dewasa berbaring di samping ranjangnya. Berpakaian serba putih, bersinar. Wajahnya bercahaya dengan paras yang rupawan. Dipegangnya tongkat mungil berwarna hitam di tangan kanannya.

“Aku adalah malaikat pengabul keinginan. Aku datang pada seseorang anak yang menginjak usia 17 tahun. Boleh dibilang aku malaikat sweet seventeenmu.” Kata pria itu sembari memutar tongkat yang tergemgam erat di ujung jemarinya.

“Bagaimana kau bisa ada disini ?” Aku melotot dengan garang.

“Aku bisa ada dimana saja. Bukan hal yang sulit untukku berada di suatu tempat dalam waktu yang singkat terutama dikamarmu saat ini.” Tanpa diberi aba-aba, kedua matanya menatap lekat-lekat, mengamati tiap sudut kamarku. Tampaknya dia merencanakan sesuatu yang sangat  besar.

“Apa yang harus aku lakukan dengan keberadaanmu?” Tanya Ria menatap tajam bola mata dengan sinar biru menyala.

“Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku adalah malaikat pengabul keinginan. Kamu mempunyai 3 keinginan di hari sweet seventeenmu.” Jawab pria tampan itu. Dia mulai beranjak dari ranjang itu berkeliling mengitari ranjang putihku.

“Apa yang harus aku lakukan dengan 3 permintaan ini, dan bagaimana jika ayah dan ibu tau bahwa ada pria aneh misterius datang ke kamarku ini, akankah mereka percaya padaku ?” Seribu pertanyaan muncul bersamaan dalam benak Ria. Dia mulai mengacak-ngacak rambut ikalnya. Seolah tak percaya dengan semua omong kosong memalukan ini. Pikirannya melayang tanpa arah, dan tersadar bahwa dirinya harus menuju kekamar mandi.

“Aku harus menenangkan pikiranku dulu. Mungkin setelah mandi aku dapat memikirkan semua kegilaan ini dengan jernih.”

***

            Waktu sarapan tiba. Ayah dan Ibu Ria memanggilnya untuk segera turun dari kamar menyantap sarapan pagi yang nikmat. Riapun menyantap sarapannya dengan lahap. Susu putih hangat dengan roti selai coklat menu sarapan pagi itu. Dilihatnya Ayah dan Ibunya sangat tenang. Mereka seakan tak merasakan kehadiran pria misterius yang sudah lama berdiri di sampingnya.

Ehem…” Ria berdeham halus untuk memulai percakapan

“Yah, Ayah… apakah ayah tidak melihat seseorang tengah berdiri di sampingku ?” tanya Ria pelan dengan nada sedikit berbisik.

“Seseorang? Siapa yang kau maksud sayang? Ibumu?” Ayah heran mendengar pertanyaanku.

“Bukan yah.. di sampingku… seorang pria dewasa berbaju putih serr.. serba putih, dan dan….Ayah memotong pernyataanku yang belum selesai

“Kamu bicara apa hari ini. Tidak ada seorangpun di sampingmu. Sudah makan saja sarapanmu.” Ayah menatapku sinis dan mata sedikit melotot.

” Ibu, Ibu melihatnya kan? Dia diiiiaa .” Jariku menunjuku tepat ke sosoknya yang sedari tadi menatap ke arah ku. Seketika pria itu melihat kearahku dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya, sebuah isyarat agar Ria tetap diam dan tidak menceritakan keberadannya.

“Ibu tidak melihat sipapun, hanya putri ibu yang cantik yang baru menginjak 17 tahun. Happy Birthday sayaaang.” Kecupan manis dan penuh kasih sayang tertancap didahinya. Lamunannya terhenti seketika ketika ucapan selamat ulang tahun itu jatuh di telinganya.

Arrghh… Apa hanya aku yang melihat pria ini di sini, bagaimana bisa?” Ria mengacak-ngacak rambutnya kesal. Ria terbawa oleh lamunannya. Banyak pertanyaan yang terselip di otaknya. Yang perlukan hanyalah satu jawaban yang bisa menjawab semua keganjilan sejak tadi pagi, tepat di sweet seventeennya.

” Sayang, Sayang?? Ayah dan Ibu lagi-lagi membangunkan lamunanku.

” Hari ini Ayah dan Ibu ada urusan mendadak. Nanti malam kita rayakan ulang tahunmu bersama. Bye..” Kecupan di pipi kanan dan kirinya mengakhiri perbincangan mereka. Ria tidak tau apa yang akan dilakukannya setelah ini dengan pria asing yang tidak jelas asal usulnya.

***

            Pagi yang cerah ini ia lewatkan dengan bersepeda. Suatu pilihan yang baik untuk menikmati angin yang berhembus lembut ditemani dengan gugurnya daun-daun yang mulai menguning. ya, kali ini musim gugur telah tiba. Sosok pria itu tiba-tba muncul dihadapannya menghentikan laju sepeda yang dikayuhnya dengan pelan.

” Mau apa lagi kamu?” Seru Ria dengan ketus

” Aku sudah mengatakannya sebelumnya bahwa aku adalah malaikat sweet seventeenmu hari ini. Aku tidak akan pergi sebelum kamu memberikan tiga permintaan yang harus aku kabulkan.” Pria itu memaksa.

“Aku tidak mempunyai permintaan padamu. Lagi pula apa yang dapat kamu lakukan? Penampilanmu tidak membuktikan bahwa kamu dapat mengabulkan tiga permintaanku.” Ria mulai mengeluarkan muka garangnya. Ia melirik sinis pada pria itu seperti singa yang memandang sinis mangsanya.

Pria itu tersenyum manis dengan perkataan Ria. Ia seperti tidak merasa kesal dengan sikap Ria padanya. Suasana menjadi berubah. Pria itu memutar-mutar tongkatnya dengan perlahan. Dengan sedikit gerakan bibir yang sedang membaca mantra. Tiba-tiba dengan sejenak angin berhenti, daun-daun yang berterbangan, air yang mengalir dari pancuran taman, burung-burung yang berkicau ria semunya diam seribu kata, tak bergerak seperti ada remote control yang mengaturnya. Semuanya berhenti tepat di depan matanya.

Ria mulai mengusap-ngusap matanya. Melihat sekeliling dengan mata melotot dan mulut sedikit menganga. Ia menyaksikan kejadian itu yang akan membuat orang merinding ketika melihatnya.

“Bagaimana, sekarang kamu percaya padaku ?” tanya pria itu dengan senyum lebar di pipinya.

Sedikit tertegun, Ria menjawab pertanyaannya pelan tapi tegas ia katakan ” Ya aku percaya” seperti bukan ria yang sebelumnya.

***

            Kejadian itu berlalu begitu saja. Entah kenapa Ria mulai mempercayai pria tersebut bahwa ia dapat membantunya mengabulkan harapan yang diinginkannya.

“Aku ingin keinginanku yang pertama kamu kabulkan.” seru Ria dengan gagap dan pipinya mulai merona merah karna malu

“Itu sudah kewajibanku.” jawabnya dengan tegas. Apa permintaanmu yang pertama ?”

“Aku dari dulu ingin sekali bertemu dengan One Direction. Aku ingin meminta semua tanda tangan personil One Direction di CD yang telah aku beli ini.  Sebelum mereka benar-benar fakum dari dunia musik. Bisakah kamu mengabulkannya?” Pandang Ria penuh harap dengan bibir yang tergigit

“Aku akan mengabulknya.” Jawab pria itu. Ia segera memutar-mutar tongkat hitam kecil itu. Sekali lagi bibirnya bergerak naik turun tanda membaca sebuah mantra. Aku menunggu pria itu selesai membaca mantranya. Mataku tetutup rapat, tanganku menggenggam dengan kuat sampai kuku tanganku menancap di kulit tanganku sendiri. Berusaha untuk menghilangkan pikiran bahwa semua ini bukan mimpi. Aku terus memejamkan mataku. Sampai terdengar suara lembut berbisik ke telingaku, “Bukalah matamu,” akupun mulai mengangkat kelopak-kelopak mataku yang tertutup rapat. Setengah percaya, aku benar-benar Di London saat itu juga. Mataku membelalak melotot dan mulutku sedikit terbuka, bulu kuduku merinding hingga ke ubun-ubun. Tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Suasana begitu bising disana. Sorak-sorak ria terdengar bergemuruh. Yaaa…. kita benar-benar berhadapan dengan idol ngetop Di Inggris itu. Selesai sudah coretan tangan yang aku suguhkan kepada 4 personil tampan pada CD itu. Entah bagaimana caranya Ria dan pria itu berada di posisi semula. Ditaman bermain itu dalam hitung detik saja. Mata Ria terus melotot, mukanya pucat dan pandangannya tajam menatap pada CD itu seolah tak percaya.

***

“Bagaimana dengan permintaanmu yang kedua ?” seru pria itu memulai perbincangan kita selanjutnya

“Untuk permintaanku yang kedua, ini terbilang aneh. Tapi aku benar-benar ingin melihatnya.” Ria termenung sejenak

“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu apapun itu.

“Aku ingin melihat masa kecilku dulu. Dulu itu aku seperti apa, bagaimana aku bisa tumbuh secepat ini. dan aku… aku juga mau…

Mulutku terhenti seketika. Sekali lagi aku dibuatnya heran dan mengunci rapat-rapat mulutku untuk melanjutkan ceritaku. Mataku tertuju pada suatu kejadian masa kecilku yang pernah aku alami. Seakan- akan melihat film layar lebar dengan kisah masa kecil seseorang. Aku benar-benar melihatnya. Ria benar-benar tidak percaya. Ia sungguh takjub dan terharu melihat dirinya kecil bagaikan cermin besar yang berlalu dimatanya. Pipi Riapun basah, dengan air mata yang mulai tumpah dari kelopak matanya.

***

            Hari sudah malam. Ria menunggu kedatangan Ayah dan Ibunya yang berjanji untuk merayakan hari ulang tahunnya. Jam hitam kecil yang melingkar dipergelangan tangannya menunjukkan 20.15 tak dilihatnya batang hidung kedua orang tuanya. Kini jam menunjukkan tepat pukul 21.00, ia tetap sabar menunggu. Sekarang jam itu terasa berat ditangannya menunjukkan 22.30, 23.00 dan akhirnya 00.00. Ria mulai lelah menunggu. Ia marah, matanya merah padam, dan badannya mulai menegang. Tangannya mengepal keras-keras.

“Mengapa Ayah, mengapa Ibu, kalian melanggar janji kalian lagi? Kalian gak ada sedikitpun untukku. Bahkan merayakan ulang tahunku yang ke 17 ini kalian tidak ada. Sejak kecil kalian sedikitpun tak pernah merayakan ulang tahunku. Cuma sekali Ayah, Ibu. Datanglah untuk hari ini saja.” Mata Ria berkaca-kaca. Pipinya mulai basah dan napasnya mulai sesak. Hari ini dia benar-benar marah, tanpa disengaja ia mengatakannya permintaannya yang ketiga.

“Aku ingin orang tuaku lenyap dari dunia ini.” Ria berlari terbirit-birit menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Seketika itu keluarganya dan pria itu menghilang bagai ditelan bumi. Entah bagaimana cara mereka bisa menghilang. Tapi semua terjadi karena permintaan terakhirnya yang tanpa sadar ia ucapkan. Air mata Riapun tumpah. Ia menangis tersedu-sedu berjongkok diatas ranjang putihnya. Ia menangis sangat lama. Matanya lebam dan suaranya serak. Tiba-Tiba bayangan kecilnya muncul, seperti yang dilihatnya siang tadi dengan pria itu. Tangisnya semaikn keras tak tertahankan. Ia merasa bersalah, menyesal sungguh sangat menyesal. Bisa-bisanya dia mengucapkan kata yang tidak pantas untuk dia ucapkan.

“Aku ingin semuanya kembali ke semula. Aku tidak menginginkan semua ini.” Teriak Ria dengan keras.

Ia terus menangis, hingga air matanya tak dapat keluar dari mata sipitnya itu. Matanya mulai lelah menatap karna lebam, tangan dan tubuhnya terasa lemas. Ia seperti kehilanagn tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri. Akhirnya Riapun tertidur.

***

            Dirasakannya ranjang itu semakin hangat. Terasa lembab sehingga suhu kamar itu menjadi berubah, tidak sedingin sebelumnya. Tak lama setelah itu ranjang itu menjadi dingin kembali, dingin dan lebih dingin lagi dibalik selimut tebal itu. “Ha? Dingin? Bukannya AC semalam aku matikan dan perapian sudah kunyalakan (penghangat suhu ruangan).” gumam Ria perlahan. Ia membuka matanya perlahan-lahan. Ria terkejut dan kaget dengan yang dilihatnya. Ternyata Ria telah membasahi ranjang putih itu dengan kencingnya.

” Ah.. ottokee.. bagaimana bisa aku ngompol diranjangku seperti ini, disaat sweet seventeenku!” Teriak Ria kesal.

Ia tersadar ketika teringat dengan sweets eventeennya. “Ayah dan Ibu?” Pikir Ria sejenak. Ia segera melompat dari ranjang dan melempar selimut tebal itu hingga tersungkur ke lantai untuk menuju ke ruang makan. Pikirannya seketika kacau, ia berharap apa yang dikatannya tadi malam itu tidak nyata.

Sampailah Ria pada ruang makan itu. Ia melotot kebingungan, kali ini mulutnya menganga sangat lebar.

“Baaagaimana Ayah dan Ibu datang? Seejak kapan?” Dengan terbata-bata  pertanyaan itu Ria lontarkan seketika.

“Apa maksudmu sayang? Ayah dan Ibu tidak datang dari mana-mana. Perkataanmu pagi ini ngawur. Bau apa ini? Kamu ngompol ya?” Jawab ayah dengan lembut menggodaku

“He-he-he iya Ayah.” Aku menyerngit karena malu

“Sekarang kamu ke kamar mandi. Kalau tidak makanan ini semuanya akan terkontaminasi dengan baumu.” Ayah menggodaku dan tertawa geli melihat ekspresiku.

” Oke Ayah…” Jawabku singkat.

Ria tersadar bahwa tadi malam itu hanyalah bunga tidurnya yang menyenangkan dan sangat mengerikan. “Syukurlah ini semua hanya mimpi.” gumamnya kecil. Ria mulai tersenyum lebar melihat CD One Direction yang terpajang di meja coklat ruang tamu. Tidak ada satupun tanda tangan yang melekat di CD itu. Semuanya telah kembali ke semula, ketempat yang seharusnya. Suatu tempat dimana aku hanya mendapatkan mimpi itu. Senyum lebar terlihat pada pipi Ria sebelum akhirnya dia menutup pintu kamar mandi itu.

 

~^^~  THE END   ~^^~

 

                                                                            *)Maganger 2016 LPM Solidaritas asal Probolinggo.

 

Comments

comments

Leave a Reply