Suka Duka di Balik Fenomena Mahasiswa Asing UINSA

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org—UIN Sunan Ampel Surabaya diramaikan dengan banyaknya mahasiswa asing yang memilih study di satu-satunya kampus Islam negeri di Surabaya ini. Pada hari Jumat (6/10) Devita selaku staf International Office (IO) memaparkan tercatat 150 mahasiswa asing yang kuliah S1 di UINSA dan tersebar di 5 fakultas, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Fakultas Adab dan Humaniora, serta Fakultas Syariah dan Hukum.

Jumlah mahasiswa asing ditargetkan akan terus mengalami peningkatan. Berkenaan dengan visi UINSA sebagai World Class University (WCU) menjadi alasan utama penerimaan mahasiswa asing dari tahun ke tahun. “Targetnya ya harus mencapai ratusan ya, ini kan masih serratus, karena UIN sudah World Class Internasional,” tutur Devita ketika ditemui Solidaritas di ruang kerjanya. Penerimaan jumlah mahasiswa asing masih terbilang sedikit dibandingkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di sana telah menerima mahasiswa asing lebih banyak dibandingkan UINSA. Hal ini berkaitan dengan kuota penerimaan mahasiswa asing yang telah ditentukan Kementerian Agama Republik Indonesia. “Kita di sini masih dikasih sedikit (mahasiwa asing, Red), kalau UIN Malang sudah ribuan dan itu dari pusat (Kemenag),” imbuhnya.

Menjadi mahasiswa asing yang belajar di negeri orang tentu ada suka dan dukanya. Suka duka dalam menuntut ilmu ini dirasakan mahasiswa luar negeri yang berada di UINSA. “Pertama kali mohon maaf ya, kalau di bahagian Bahasa Indonesia itu alhamdulillah, tapi kalau di masyarakat sedikit duka cita. Kan UIN ini Islam tapi dipandang saya pergaulan antara laki-laki dan perempuan itu sangat bebas. Indonesia sendiri mayoritas Islam, seperti pertama kali saya ke Indonesia terlihat laki-laki dan perempuan bersalaman tapi bukan muhrim sampai kaget saya kok bisa gitu,” tutur Daruni, Mahasiswa FTK asal Thailand.

Di sisi lain Hasdee, mahasiswa asal Malaysia, bercerita tentang dosen di UINSA yang sangat ketat dalam kedisiplinan, “Pengalaman di UIN kalau yang dukanya satu aja sih, satu dosen ini terlalu tegas dengan waktu, gak boleh lewat satu menit langsung gak bisa masuk kelas. Kalo sukanya senang melihat semangat mahasiswa dalam berorganisasi,” tutur mahasiswa semester 7 Prodi Bimbingan dan Konseling Islam tersebut.

Mahasiswa asing yang study di UINSA tidak semuanya menerima beasiswa. Ada beberapa di antara mereka yang membayar sendiri tanpa beasiswa dari UINSA. Beasiswa berasal dari kerja sama dengan Badan Alumni Thailand dan Malaysia. Tercatat 5 mahasiswa yang memperoleh beasiswa. Salah satunya Safri, Mahasiswa Baru Komunikasi Penyiaran Islam berasal dari Malaysia. Dia mengaku mendapat beasiswa dari NGO (Non Government Organization) badan swasta di Malaysia, Beasiswa Hikmah. Safri mengaku terpiih dari 20 orang laki-laki yang berangkat ke Indonesia. “Jalurnya itu di bawah Beasiswa Hikmah, kita harus masuk kelas persediaan dahulu dan akan dipilih 5 lelaki dan 5 perempuan yang akan dapat beasiswa. Yang ikut itu ada 20 lelaki dan 20 perempuan,” ungkap Safri, 19, mahasiswa asal Serawak Malaysia itu. (ais/ems/faf)

Comments

comments

Leave a Reply