Sisi Kemanusiaan dalam Konflik Syiah Sampang

Opini

Moh. Mizan Asrori*

Dalam dunia ini keberagaman menjadi sebuah keniscayaan. Indonesia dengan ribuan pulaunya membentang dari Sabang sampai Merauke. Berbagai jenis suku, budaya, bahasa, bahkan agama hidup berdampingan semenjak pendahulu kita berabad-abad silam. Begitu pula dengan kemerdekaan bangsa kita tak mungkin dicapai hanya dengan usaha satu golongan atau kelompok saja. Semua etnis, suku dengan latar belakang berbeda sama-sama mengangkat senjata memerangi penjajah. Menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi ini.

Pada akhirnya perjuangan itu berbuah manis, lahirlah Indonesia yang merdeka berkat tetesan darah juang para pahlawan yang tidak sedikit pun menyoal dan mempermasalahkan perbedaan yang ada di antara mereka. Satu hal yang paling penting dari keberagaman mereka saat itu, tidak saling menyakiti satu sama lain. Perjuangan mereka tidak selesai dengan rampungnya proklamasi kemerdekaan yang ditandai pembacaan teks proklamasi yang juga disiarkan melalui radio ke seantero negeri, mereka berkumpul lagi untuk merumuskan dasar negara ini. Kembali duduk bersama untuk menyusun undang-undang dasar yang menjadi acuan penyelenggaraan negara nantinya, hingga lahirlah pancasila sebagai sebuah wujud saling menghormati dan toleransi para pendiri bangsa.

Kini, kita sebagai penerusnya dibuat bingung dan prihatin dengan maraknya pemberitaan yang mengabarkan perihal penindasan kepada kaum minoritas. Pengusiran terhadap mereka yang dituduh sesat dan melecehkan agama. Inikah jalan satu-satunya? Pengusiran mereka dari tanah kelahiran menjadi akibat dari ketidaksamaan mereka menjalankan agamanya. Kejadian yang terjadi pada penganut Syiah di Sampang Madura 26 Agustus 2012 silam masih menyisakan duka mendalam.

Sampai saat ini mereka yang diusir dari pulau garam masih menempati Rumah Susun Puspa Agro Jemundo Sidoarjo. Hak mereka untuk hidup layak dan bermartabat seperti warga negara lainnya terpasung akibat pilihan mereka menganut paham yang dianggap meyimpang oleh mayoritas kelompok penyerang yang melakukan pembakaran terhadap rumah mereka. Di tempat pengungsian, hidup mereka dijamin oleh pemerintah, artinya dalam hal ini negara hadir sebagai pengayom. Namun tidak semua hak pengungsi terpenuhi, salah satunya seperti yang dialami Busidin (65) yang terpaksa dimakamkan di TPU (Taman Pemakaman Umum) Delta Praloyo Asri pada 27 September 2015 (Tempo, 28/9). Wasiatnya untuk dimakamkan di kampung halamannya tidak dapat dilaksanakan karena alasan keamanan.

Beberapa usaha sudah dilakukan untuk mengembalikan mereka ke tempat asalnya, Sampang. Seperti halnya pembentukan tim rekonsiliasi Syiah Sampang yang sampai sekarang belum sanggup mengembalikan para pengungsi di negaranya sendiri itu ke kampung halamannya. Ketidakbersediaan warga sekitar tempat mereka tinggal dulu menjadi salah satu faktor yang menghalangi niat kembali dan hidup normal seperti dulu.

Undang-undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak” seolah tumpul dan tak bertaji. Massa menjadi sangat berkuasa dalam konteks ini. Usaha pemerintah provinsi Jawa Timur yang mencoba membujuk masyarakat Sampang untuk menerima kembali saudara mereka yang ada di Sidoarjo kerap menemukan titik buntu. Andai pun mereka tidak bisa menerima kembali para pengungsi tersebut sebagai saudara seiman, karena dituduh sesat, cobalah  menerima mereka sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Pandang dan perlakukan mereka layaknya manusia lainnya yang butuh penghidupan secara layak dan manusiawi.

Teladan Gus Dur yang pluralis dan humanis sangat dirindukan. Kegigihannya membela kaum minoritas tanpa melihat latar belakangnya sangat diharapkan muncul dalam jiwa-jiwa para penerusnya. Agar tidak lagi terdengar rintihan-rintihan di seberang sana yang menjadi korban kekerasan hanya karena perbedaan. Belajar memahami dan meneladani Gus Dur bisa melalui buku-buku yang membahas pemikirannya maupun dari orang dekatnya yang masih hidup.

Saat ini yang dibutuhkan adalah kesadaran dan kepedulian dari saudara kita yang ada di Sampang untuk bisa menerima saudara Syiah yang masih berada di pengungsian. Keterbukaan mereka akan bisa terjadi jika tokoh masyarakat, dalam hal ini kiai dan ulama yang begitu dikultuskan dalam budaya orang Madura, bisa membuka pola pikir mereka dan tidak mengedepankan keyakinan bahwa para pengungsi tersebut sesat. Seandainya mereka memang sesat, alangkah lebih bijak jika menggunakan cara-cara persuasif untuk menyadarkan para penganut Syiah tersebut, bukan dengan kekerasan, pembakaran, dan pengusiran yang sampai menimbulkan korban jiwa beberapa tahun silam. Aksi-aksi tersebut cenderung frontal dan jauh dari prikemanusiaan, seakan-akan mereka adalah hama yang harus dibasmi.

Pesma, 15-2-2016

9:38 PM

*Jurnalis LPM Solidaritas asal Sumenep Madura.

Comments

comments

Leave a Reply