Semangat Spiritual Sang Purnawirawan TNI

Sosok

“Penglihatannya tak lagi awas, mendengar pun perlu usaha lebih, namun semangat keagamaan tetap membara dalam sanubarinya.

Indonesia lahir dari rahim perjuangan para pahlawan yang berkorban jiwa dan raga. Di usia ke-72 ini, kemerdekaan Indonesia tak lagi muda. Saksi bisu berupa puing-puing gedung yang masih bisa dilihat, juga saksi hidup yang tetap bisa didengar dan disimak kisah perjuangannya dapat ditemui di salah satu sudut Desa Klagenserut Jiwan Madiun, salah satu lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Ampel Surabaya. Berjalannya telah bungkuk, dua tongkat di kedua tangan sebagai penopang tubuh ringkihnya senantiasa menemani masa tuanya. Orang-orang memanggilnya Mbah Haji Harun, pejuang yang semangat mengabdinya tak pernah lekang dimakan masa.

Hidupnya dimulai 85 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1932 M. Saat itu dia lahir dari rahim seorang ibu yang sebelumnya telah berjuang melahirkan 8 putra-putri, di desa yang tak jauh dari tempat kediamannya saat ini, Desa Teguhan Jiwan Madiun. Di desa itulah Harun muda tumbuh menjadi orang yang giat menuntut ilmu. “Waktu kecil berangkat sendiri ke sekolah, SD Islamiyah, kalau tidak sekolah sendiri orang tua tidak menyekolahkan,” ungkapnya sambil bersiap menikmati rokok lintingan. Ia tahu betapa pentingnya orang yang berilmu, hingga ia tak mau sia-siakan masa kecilnya.

Foto bersama Mbah Harun dan Anggota Kelompok KKN 42 Desa Klagenserut Jiwan Madiun di depan Posko KKN

Meski tidak begitu pandai, gelora mudanya untuk berdakwah sangat kuat, terbukti sumbangsihnya pada perkembangan Islam di Teguhan sangatlah besar. Konon menurut penuturannya, Teguhan terkenal sebagai sarang judi, main kartu, mabuk-mabukkan, dan jarang sekali orang yang beribadah salat 5 waktu. Harun muda gelisah, ia coba dekati orang-orang yang memiliki kebiasaan kurang terpuji itu dengan caranya sendiri. Metode dakwah yang dipakainya tergolong unik, yakni membaur bersama mereka dan ikut serta memainkan kesukaan mereka, berjudi dan main kartu. Semuanya dilakukan untuk mendekati mereka secara emosional, diharapkan nantinya ia bisa mudah mengajak mereka ke jalan kebaikan, dan mereka sendiri akan sungkan mengganggunya.

Tidak cukup di situ saja usahanya dalam berdakwah, ia buatkan orkes bumbung untuk menarik minat masyarakat Teguhan. Setelah beberapa tahun lamanya usahanya membuahkan hasil, banyak orang-orang yang berbondong mendatangi masjid yang ia dirikan bersama saudaranya. “Alhamdulillah masjid yang saya dirikan di Teguhan rame, berkah, dan sekarang sudah banyak yang salat di sana, di sekitarnya sudah berdiri sekolahan,” imbuhnya dengan begitu antusias.

Mbah Harun menyalakan rokok lintingannya

Sewaktu menikah mertuanya kurang begitu suka terhadapnya, entah apa alasannya, yang jelas kala itu dia memutuskan minggat dari rumah guna merantau. Untuk membuktikan bahwa dia bisa jadi lelaki sukses, kala itu dia beranikan diri melamar menjadi tentara. Meski harus mengaku masih bujang tapi ia lakukan dengan terpaksa, supaya dapat menghidupi istri dan anaknya yang saat itu masih berjumlah dua orang. Berkat keyakinan yang selalu dia pegang teguh, bahwa Tuhan Maha Pemurah, akhirnya dia diterima menjadi tentara. Sesampainya di rumah, mertuanya kaget atas pencapaiannya, tak ada yang menyangka Harun akan diterima menjadi tentara. Ke mana-mana ia berpenampilan bois, keren, dan setia dengan celana komprang.

Karir militernya berkembang baik, sebagai tentara yang loyal ia pernah ditugaskan di Bogor dan Jakarta (tahun 1966). Jam terbangnya cukup tinggi, terbukti sudah dua kali dia ikut serta dalam perang di Timor-timor, daerah yang pernah menjadi bagian Indonesia. “Saya dua kali ikut perang ke Timor-timor, yang pertama 25 orang meninggal, kedua 35 orang. Alhamdulillah saya selamat,” ucapnya mengenang perjuangan masa muda. Prinsip yang selalu dipegang saat berada di medan pertempuran adalah “Hidup Mau Mati”, jadi tidak sedikitpun dia gentar apalagi takut mati saat berperang melawan musuh.

Ditanya perihal penjajah yang telah menguras kekayaan Indonesia dan menindas rakyat, Mbah Harun punya kesan tersendiri. Menurutnya Indonesia tidak mendapatkan keuntungan sama sekali dari penjajahan Belanda, meski tidak sekejam Jepang saat menjajah. Saat Jepang menjajah memang rakyat tidak diberi jatah beras atau gabah yang mereka tanam sendiri, semua diangkut ke Jepang, tetapi orang Jepang mengajarkan keberanian kepada para pemuda Indonesia. Niat awalnya supaya pemuda dan orang Indonesia yang dilatih perang dapat membantu Jepang melawan sekutu, namun akhirnya berbalik arah menyerang tentara Jepang.

Baginya berperang merupakan sebuah perjuangan yang di dalamnya pantang diisi dengan pembicaraan sembarangan. Sebagai tentara yang taat, Harun muda selalu mengenakan pakaian dinas lengkap, dan tak lupa membawa sarung. Meski tak pernah mencapai pangkat jenderal atau panglima, baginya saat perang semua sama, tidak pernah melihat pangkat. Sersan 2 menjadi jabatan terakhir yang disandangnya.

Kini Mbah Harun tinggal bersama istri, seorang cucu, dan seorang putri bungsunya yang berusia 50 tahun tapi enggan menikah. Dua anaknya yang lain memilih menetap di Kalimantan dan Jakarta. Menjadi orang Klagenserut baginya sangat sulit mengajak tetangga sekitar untuk sekadar salat berjamaah 5 waktu. 5 tahun silam ia bersama-sama warga mendirikan musala Nurul Hidayah yang berada tepat di depan rumahnya untuk syiar Islam.

“Dulu saat membangun musala ini orang-orang pada nyumbang peralatan, ada yang nyumbang pasir, semen, tenaga, dan lain sebagainya. Tapi setelah jadi malah enggak datang untuk salat berjamaah. Orang-orang sini sulit diajak maju dalam hal agama, sini dulu banyak santrinya tapi susah memajukan,” tuturnya mengisahkan asal mula berdirinya musala Nurul Hidayah. Sebelum mendirikan musala ia belikan terbang (rebana) untuk mengajak anak-anak.

Disamping sulit diajak salat berjamaah di musala, sebagian orang di sekitar musala ada yang nekat mengambil barang-barang berharga milik musala yang Mbah Harun beli dan wakafkan. Terhitung 19 karpet lenyap diambil tangan jahil tak bertanggung jawab. Kotak amal yang sedianya untuk menampung amal jariyah jamaah, juga pernah raib tanpa jejak. Meski pintunya sudah dikunci, akan tetapi dulu sampai ada yang berani merusak gembok yang terpasang. “Orang sini rusuh, banyak barang-barang yang hilang, makanya sebagian karpet saya taruh di rumah, supaya tidak diambil,” ungkapnya dengan nada suara kecewa.

Musala Nurul Hidayah

Ketika ditanya kemungkinan warga sekitar perihal salat berjamaah, karena banyak yang sibuk bertani sehingga tidak sempat salat berjamaah, Mbah Harun menjawab dengan suara lirih tapi pasti, “Di dunia ini memang banyak yang sibuk, harus disempatkan, kerja ya salat jamaah ya. Orang hidup itu buat apa numpuk harta, kecuali untuk beramal.”

Di usia yang tak lagi muda, saat teman-teman seangkatannya sudah meninggal, harapan besarnya adalah semoga orang-orang sadar dan mau mengembangkan musala, minimal salat berjamaah setiap waktu. “Saya sering mikir sepeninggal saya ini siapa penerusnya. Teman-teman yang se-leting dengan saya sudah meninggal semua, saya hanya menunggu kembali ke akhirat, yang penting saya sudah meninggalkan tempat pendidikan,” ujarnya penuh pengharapan adanya penerus perjuangannya menghidupkan agama Islam.

Lalu untuk Indonesia di tahun ke-72 kemerdekaannya, Mbah Harun berharap semoga Indonesia selalu diberkahi rezeki yang halal dan lurus jalannya, “Kalau hasil korupsi tidak akan berkah,” ucapnya selaku rakyat yang pernah ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. (mzn)

Comments

comments

Leave a Reply