Semangat Baru “Solidaritas” 2017

Opini, Refleksi

Salam Persma!!!

Kerabat-kerabat, sebelumnya saya akan bercerita sedikit tentang seorang jenderal perang masa silam.

Cerita ini dimulai pada era sebelum masehi, tepatnya 100 SM, seorang Gaius Julius Caesar dilahirkan.

Julius, saya menyebutnya, sudah menceburkan diri ke dunia politik sejak usia muda. Berbagai kedudukan penting pernah dipegangnya, karier politiknya begitu cemerlang, Pada tahun 58 SM ketika usianya menginjak 42 tahun ia ditunjuk sebagai gubernur yang menguasai tiga propinsi Cisalpine Gaul (bagian utara Itali), Illyricum (daerah pantai Yugoslavia kini), dan Narbanese Gaul (pantai Perancis sekarang). Dia memiliki angkatan perang dengan kekuatan 20.000 tentara yang digunakan untuk menaklukan wilayah Prancis dan Belgia, swiss, Jerman, dan Belanda. Dengan kecerdasan dan keahlian militernya, ia mampu mengalahkan orang-orang Gallik dan memperluas kekuasaan Romawi hingga lembah Sungai Rhine (Jerman). Penaklukan Gaul oleh Julius memperluas wilayah Roma di Laut Utara, Dan pada 55 SM ia melakukan invansi yang pertama ke Inggris.

Penaklukan Gaul membuat Julius tampil sebagai pahlawan bagi Roma, kerabat. Dan di mata lawan-lawan politiknya malahan terlampau populer dan terlampau kuat. Mengingat kuatnya posisi Julius maka komando militernya kemudian di akhiri. Jenderal ini mulai berpikir aneh-aneh ketika dia diperintahkan oleh Senat Romawi kembali ke Roma dan menjadi warga biasa. Perintah ini di anggapnya Julius sebagai upaya senat dan lawan politiknya memperlemah posisinnya. Akhirnya Julius memutuskan mengadakan perlawanan terhadap senat hingga pecahlah perang saudara yang berlangsung selama 4 tahun. Perang ini kemudian dimenangkan Julius.

Julius kemudian kembali ke Roma bulan Oktober tahun 45 SM dan memproklamasikan diri menjadi diktator seumur hidup. Meskipun dia sudah jadi diktator militer, musuh dalam selimut senantiasa mengintai dan tetap berupaya menggulingkan Julius.

Julius ini, oh kerabat, ada yang bilang dirinya memang dari lahir sudah diberikan kemampuan berperang sedemikian rupa. Mungkin kerabat tahu Adolf Hilter, Diktator Nazi Jerman. Hilter pun mengidolakan Julius, semangat perangnya hingga strategi politik, dipraktikan di era yang berbeda.

Namun kerabat. Di bawah komando Diktator Julius saat itu, banyak orang-orang di sekitarnya tidak setuju. Jika diktator biasanya dipilih hanya untuk enam bulan, Julius ini telah dipilih menjadi diktator besar sepanjang hayat dengan menerbitkan sejumlah undang-undang yang mengukuhkan kedudukan dan kekuasaannya.

Nasib Julius mungkin memang ditakdirkan tragis, kerabat. Hari itu. Pada 45 SM, saat upacara umum di sana. Bersama 60-an Senator dirinya dipaksa untuk membacakan petisi jika dia menerima untuk memberikan kekuasan kepada para senator. Dirinya sempat mencoba keluar dari forum tersebut. Oh nahas, kerabat. Anggota forum kalap. Satu tusukan belati ke leher Julius oleh seorang senator kemudian disusul puluhan tusukan oleh 23 senator yang lain. Cerita tentang Julius Caesar ini diabadikan dalam karya drama William Shakespeare (1564-1616).

***

Kerabat, 25 Desember 2016 kemarin adalah sebuah momen perubahan. Terhadap seluruh unsur di Solidaritas umumnya serta saya sendiri khususnya.

Dalam liku-likunya, sebagai lembaga pers mahasiswa lingkup universitas ternama di Surabaya, UINSA, organisasi yang eksis lebih dari 20 tahun ini perlu diadakanya perubahan-perubahan secara masif. Fungsi-fungsi dari organisasi pers itu sendiri perlu ditegakkan kembali melalui beberapa cara. Hingga bisa membawa iklim akademik kampus menuju WCU ini  semakin stabil.

Saya kira itu adalah tugas kita sebagai organ tubuh Solidaritas, melewati batas struktural kepengurusan. Karena jati diri kita sebenarnya adalah sebuah tujuan yang sama. Struktural adalah fungsi yang dibuat hanya untuk membantu menuju sebuah tujuan itu sendiri. Pemimpin yang sebenarnya itu adalah kita, pada periode ini.

Kerabat, hari itu, tepatnya kemarin, Musyawarah Anggota XIV dilakukan.

Jika kerabat berpikir perjalanan ini akan mulus menuju perubahan, maka sebenarnya perjalanan ini tidak akan semulus yang kerabat kira, saya akan mengatakan pasti akan terjal, pasti banyak batu-batu yang sandung-srimpet (baca:mengganggu). Soekarno pernah berkata di atas mimbarnya “Perjuanganku akan lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Tidak salah. Ketika ingin mencapai sebuah tujuan, egoisme perlu diletakkan jauh-jauh dari tempat berproses. Melawan bangsa dapat diartikan sebagai melawan keinginan pribadi yang sudah kelewatan dan menggangu kestabilan kelompok.

Sinergisme itu dibentuk dari sebuah niat dan ketulusan yang tidak bisa sesaat didapatkan, pastinya perlu proses. Sehingga mencoba memulai adalah hal yang perlu dilakukan oleh saya sendiri dan kerabat-kerabat.

Kerabat, cerita tentang Julius Caesar tadi adalah sedikit narasi yang bisa digunakan untuk berkontemplasi tentang semangat serta tentang penghianatan. Tentunya kerabat tidak akan ingin jika Julius tetap “mengobarkan kepentingan pribadinya” dan kesewenang-wenangannya, serta tentunya kerabat  tidak ingin para senatornya berhianat karena “egoisme” kelompoknya juga.

***

Kerabat, di era modern ini dikala banyak orang mencari sesuatu yang instan, maka sedikitnya proses yang telah kita lakukan harus kita apresiasi sendiri sebelum berharap dengan apresiasi orang lain. Karena dengan itu kita bisa terus berproses dan bertahan.

Semoga proses kedepannya nanti menjadi sebuah gerakan “Fastabiqul Khoirot” yang tidak orang lain punya.

Salam Persma!!!!

 

 

 

*) Mohammad Iqbal

Pemimpin Umum LPM Solidaritas 2017

Mahasiswa Aktif Fakultas Adab dan Humaniora UINSA

Prodi Sastra Inggris

 

Cerita Julius Caesar diambil dari pengalaman pribadi dan dari beberapa sumber, salah satunya gurusejarah.com dan peperangan.wordpress.com

 

Comments

comments

Leave a Reply