Sajak Sajak Daruz Armedian

Kolom, Puisi, Umum

Pada Bulan Biskuit, Aku Memanggil Sakit

 

pada bulan biskuit, bulan purnama

aku memanggil sakit, memanggil nama-nama

namamu, namamu, dan namamu

 

betapa aku ini perindu yang gagal merawat waktu

seperti gagal merawat bunga-bunga di beranda

betapa aku ini pecinta yang lupa

bahwa bumi luas ukurannya

 

sungguh jahat bulan ini

tahu kabar, hembus napas, juga detak jantungmu

tapi hanya luka bila aku bertanya,

“bulan, pekabar apa tentangnya yang kau terima?”

diam dileburkan cahaya-cahaya

menembus mataku, dengan kehampaannya

 

Bantul, 2015

 

Di Hadapanmu, Kepenyairanku Mengabu

di hadapanmu, kepenyairanku mengabu

aku lihat di mata itu, mata yang setia berada di bawah alismu

seperti ada orang berbisik

memanggil-manggil namaku:

armedian, tak tahu lagi di mana kutaruh rindu

 

kata-kataku hancur, bahkan semasih berbentuk telur

seperti pintu, mulutku terkunci

kata-kata itu tak pernah lahir kembali

terkadang aku merasa gila sendiri

untuk apa kucabut rumput kecil tak salah

untuk apa pada langit aku tengadah

lalu menunduk kembali seperti meratapi bumi

 

sedangkan kamu, dengan segenap senyum itu

seperti menertawaiku, betapa penyair ini sangat lugu

puisi-puisinya lebih jantan dari dirinya sendiri

yang mengaku benar laki-laki

 

aku jadi geram pada matahari

kenapa juga ia tak segera tenggelam dalam lautan
biar malam datang dan aku pulang

menikmati puisi dan khayalanku:

tentang kapan kita bisa kembali ketemu

 

Oktober, 2015

Kepada L.

 

 

 

Di Sepanjang Pantura

 

di sepanjang Pantura, dalam bis kota

menuju rumahmu, yang itu adalah rumahku

kita bersepakat; siapa paling cepat

membaca papan iklan

ialah pemenang

aku lihat mulutmu yang angkuh pada kesedihan

membaca satu per satu, pandanganmu ke sini ke situ

aku tak hendak bicara apa-apa, sebab celotehmu

seperti mengajakku untuk senantiasa mengabadikan momen ini

momen di mana luka tak punya ruang lagi

 

kau salah tingkah, atau mungkin lelah?

kepalamu  kini bersandar di pundaku

harum rambutmu kini kuciumi

akhirnya, seperti biasa, kau bertanya juga soal perpisahan

 

di sepanjang Pantura, biarlah debu-debu berterbangan

toh, kita masih di sini, bergandengan tangan

 

Tuban, 2015

 

* Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Mengelola Komunitas Sastra Sunnatunnur (KontraS).

Comments

comments

Leave a Reply