Saatnya Mahasiswa Kawal UINSA Menuju WCU

Opini

Oleh: Jihan Ristiyanti*

Tepat pada tanggal 1 Oktober 2013 silam, Institut Agama Islam Sunan Ampel Surabaya (IAIN) bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya . Sayangnya, tranformasi wajah baru UINSA hingga kini masih belum disadari oleh mahasiswa UINSA sendiri. Bagi mahasiswa UINSA perubahan yang mencolok sekilas hanya dilihat dari pergantian nama dan dibangunnya gedung pencakar langit yang berdiri megah. Di depan halaman kampus berdiri Twin Tower (TT) yang memiliki filosofi dua menara kembar dengan satu gedung penghubung di antara kedua menara. Menara yang menjadi ikon UINSA ini mencerminkan keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu agama.

Sudah tiga tahun ini semenjak tranformasi institut menjadi universitas, UINSA terus mengepakkan sayapnya agar bisa bersaing dengan universitas lain. Dari segi infrastruktur gedung, tampilan fisik UINSA tidak kalah bersaing dengan universitas pada umumnya. Hingga tahun 2017, UINSA telah melakukan pelbagai perombakan gedung-gedung lama. Gedung-gedung lama disulap menjadi gedung yang baru bertingkat untuk kenyamanan mahasiswa. Awal tahun ini saja gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dan gedung aktivitas mahasiswa (Student Center) selesai dibangun tujuh lantai. Dengan adanya bangunan-bangunan baru yang telah berdiri megah berdesain interior modern dan dilengkapi dengan berbagai tools yang baru, segar, dan sehat, seharusnya pemahaman, sikap dan perilaku lama yang tidak sehat bisa menyesuaikan tuntutan, harapan, dan kondisi yang diidealisasikan UINSA, yakni keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Hal Itu tidak akan bisa terwujud hanya dengan bermodalkan gedung megah dan fasilitas yang memadai, Namun sikap dan perilaku mahasiswa juga harus sejalan dengan tuntutan yang diidealisasikan oleh kampus. Tanpa peran aktif dari mahasiswa, mustahil kampus kita bisa mewujudkan impiannya menjadi World Class University (WCU).

Sayangnya, kebanyakan mahasiwa UINSA hanya menganggap kuliah sebagai rutinitas atau hanya sekadar tempat nongkrong, cari teman dan pengisi waktu luang. Terlepas dari kebanyakan mahasiswa itu tentu UINSA juga punya mahasiswa-mahasiswa berprestasi baik skala nasional maupun internasional. Pada bulan ini tepatnya tanggal 8-9 Februari 2017, Imroatul Ajizah, Nila Zulfa Khadijah dan Riski Wulandari, mahasiswa UINSA yang terpilih sebagai peserta sekaligus presenter dalam acara International Indonesia Forum for Asian Studies (IIFAS) di Universitas Gajah Mada (UGM) dan pada tanggal 1-12 Februari 2017. Selain itu, mahasiswa lain yang mendapat prestasi ialah Faiz Miftahul Huda terpilih sebagai delegasi Jawa Timur dalam acara World Interfaith Week (WIW) di Malaysia dan Singapura. Sangat disayangkan prestasi-prestasi yang telah diraih beberapa mahasiswa UINSA belum mampu mendobrak semangat mahasiswa lain secara keseluruhan untuk ikut berkompetisi dan mengawal UINSA menjadi kampus berkelas internasional. Mayoritas mahasiswa masih acuh dan hanya berminat lulus lebih cepat dari pada lulus bermanfaat.

Masih banyak “PR” yang harus digarap UINSA dan segenap yang berkecimpung di dalamnya untuk menjadi menjadi World Class University, sehingga embel-embel universitas tidak hanya dipandang sebagai kemasan luar (gedung baru bertingkat, Red), kualitas sumber daya manusia (mahasiswa dan dosen, Red) justru memegang titik vital yang mencerminkan substansi dari universitas itu sendiri. Perjalanan UINSA masih panjang, pembenahan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, oleh karena itu sebagai stake holder, mahasiswa UINSA memiliki tanggung jawab untuk mengawal perubahan kampusnya. Mari bangkit mahasiswa UINSA!

*) Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah semester 2 yang sedang berproses sebagai Maganger LPM Solidaritas UINSA Surabaya.

Comments

comments

Leave a Reply