Rokok Elektrik; Mimpi Pemuda Android

Kolom, Umum

Oleh : Nur Aini

Berbicara tentang sebuah kalimat dan kebiasaan ini masih tak asing dan tidak basi untuk diperdebatkan. Dimana ia sering dikatakan sebagai simbol identitas, budaya, dan sebagainya. Tidak ada hal yang menarik perhatian jika tak mengundang pro dan kontra. Dimana terdapat sebuah nilai yang akan dipandang khalayak umum dari berbagai dimensinya. Ada yang mengacungi jempol ada pula yang akann melengos atau mencoba menjauh dari sekelilingnya.Berbaur dengan udara yang setiap ari menjadi sumber kehidupan. Bagi pecinta kesehata mungkin akan berkata tidak. Jangankan mencoba, berada di lingkunganya saja tak mau. Dan  kalimat dan kebiasaan itu adalah merokok.

Merokok identitas bagi seseorang yang mengaku laki-laki begitu yang pernah didengung-dengungkan. “bila tak merokok bukan lelaki” kata salah seorang perokok. Memang bukan suatu yang baru yang mesti dibahas plus-minusnya. Karena sudah banyak sekali artikel yangmemuat tentang bahaya rokok maupun keuntungan dari pengusaha rokok dan sumbangsih pendapatan tentang merokok. Jadi, bukan negatif-positifnya yang akan dibahas disini.

Merokok merupakan suatu kegiatan yang sudah turun temurun ditularkan, bisa dibilang merokok sudah menjadi kebiasaan ataupun budaya bagi masyarakat Indonesia. Bahaya nikotin, karbon monoksida ataupun tar bukanlah ancaman. Sekalipun slogan “merokok membunuhmu” atau bahkan sekarang bukan lagi dengan kalimat peringatan. Melainkan gambar sebuah tengkorak disamping seorang perokok. “maksudnya merokok itu menyeramkan??” tanggapan salah seorang perokok aktif di sosisal media.

Bila ditelusuri budaya merokok ini memiliki sejarah hingga kelasnya dari waktu ke waktu. Rokok yang mempunyai zaman dan era. Dimana ia terkemas dalam bungkus tradisional, modern hingga sekarang tersaji dalam bentuk elektrik. Tak kala denganalat komunikasi. Mengibaratkan perkembangan dan wajah baru rokok seperti sebuah alat komunikasi. Dimana alat komunikasi yang juga memiliki sejarah dan perkembangannya.

Dalam catatan Thomas Stamford Raffles, disebutkan bahwa pada sekitar tahun 1600, rokok telah menjadi kebutuhan hidup kaum pribumi Indonesia, khususnya jawa.  rokok kretek merupakan rokok pertama ang dikemas dengan nama tingwe, liting dhewe(meliting sendiri) Rokok dalam bentuk ini menggunakan cengkeh kering dan tembakau yang dibungkus klobot( daun jagung kering). Selanjutnya bentuk rokok yang lebih berkelas, bentuk rokok ini seperti terompet dengan ujung berbentuk mangkuk kecil. Bentuk rokok yang dijual dan terkenal di pasaran adalan jenis filter, dimana terdapat gabus sebagai penyaring asap nikotin. Dikemas dalam kotak kecil dengan berbagai merk. dalam alat komunikasi kita mengenal surat sebagai alat komunikasi tradisional yang juga menggunakan tangan sendiri untuk menulis. Lalu kita menggunakan sebuah telegram, telephon, dan sampai pada handphone.

Sampai pada bentuk rokok yang bisa dibilang sebagai rokok modern. Namanya rokok elektrik. Rokok elektrik ini masih berumur puluhan tahun. inovasi tampilan sebuah rokok modern yang dikenalkan di beijing tahun 2003. Rokok yang dikemas ramah lingkungan, dan lebih hemat.  Tampilan rokok ini mengingatkan tentang tampilan handphone yang ramah lingkungan karena kita tak perlu mencoret-coret kertas untuk menyampaikan pesan, dan kita bisa mengecharger nya jika baterainya habis.

Semuanya berkembang sesuai zamannya. Zaman yang bergulir dari era tradisional hingga era modern. Era globalisasi, era yang lebih maju. Dengan tampilan elegan rokok elektrik memukau. Namun, yang namanya rokok tetap saja rokok. Katanya lebih aman dan lebih sehat nyatanya tetap saja berbahaya. Bahkan disebuah situs menyatakan bahayanya sepuluh kali lipat dari bahaya rokok biasa.

Dan lalu bagaimana menyikapinya? Apa tujuan saya menulis panjang lebar tentang rokok. Rokok paling dekat dengan remaja, dimana masa coba-coba dan ingin tahu yang tinggi. Rokok bisa membunuhmu, bukan kalimat itu yang perlu ditakuti, karena pada akhirnya semua orang akan mati. Terdapat asumsi yang mengatakan “perokok pasif lebih berbahaya, daripada perokok aktif. Daripada tak merokok juga mati mending merokok” jelas ungkapan seperti ini pasti di amini oleh para perokok. Namun, kembalikan pada tujuan hidup, seberapa besar mimpimu. Jika kau tidak berguna bagi orang lain, paling tidak jangan kau merugikan orang lain. “jika semua orang berhenti merokok, kasian pabrik rokok akan bangkrut, bagaimana para buruh rokok melanjutkan kehidupannya?”. Masih asumsi perokok aktif.

Jika tak bisa bermanfaat bagi yang lain, paling tidak jangan merugikan. Kalimat itu benar, jika diberi nilai benar. Tapi, kembali pada kebermanfaat yanga kita cari. Semua orang hidup di dunia tak dapat dipungkiri pasti menginginkan keberuntungan. Berfikir cerdas sebagai generasi muda. Kosumsi tak dapat dihentikan namun, bisa dikurangi. Jika kau merasa kaya dengan membeli rokok yang sekedar dibakar dapat membantu para buruh, kenapa tidak mencoba berfikir efek keberlanjutan di masa mendatang. Masa tua yang tak lagi bisa foya-foya dan belum dijamin kaya-raya.

Alat komunkasi berkembanga, rokok berkembang hingga rokok elektrik, sekarang zamannya android, 4G, lalu apa otak kita masih pentium 3 untuk menimbang kebermanfaatan. Untuk mengolah kehidupan. Jika rokok saja bisa elektrik kenapa otak kita tak bisa jadi milenium. Bukan menilai positif-negatif rokok, pro-kontra merokok. Tapi, nilai perkembangan dan kebermanfaat yang mampuh dihasilkan dari sebuah pemikiran. Otak boleh kecil, badan boleh kecil, tapi ide kita bisa besar. Dan kita mampuh menciptakan  sesuatu yang besar.

Jangan ada gadget kita semakin bodoh. Jangan mau ketinggalan zaman dengan label-label alat modern,Merk modern, tapi otak masih lola, masih lemot (ketinggalan zaman modern/android bukan karena memiliki gadget terbaru atau terkeren, tapi otak yang keren). Tuhan menciptakan manusia dengan kesempurnaan akal dengan ketersediaan alam yang mencukupi. Tinggal kita mengolahnya, tidak ada larangan berprilaku konsumtif, tapi mengurangi sifat konsumtif dan coba berfikir sebagai produsen.

Indonesia, negara terkaya dengan julukan zamrud khatulistiwa. “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” saking suburnya Indonesia “kata orang tanah kita tanah surga”. Lalu apalagi? Masihkah sebagai pemuda kita menghabiskan waktu dan uang untuk merokok??? Atau kalian punya mimpi yang lain??? semua orang memang akan mati, tapi untuk sebuah mimpi kita akan hidup seribu tahun lagi sampai kita benar mewujudkannya.

Comments

comments

Leave a Reply