Reog Ponorogo dan Legendarisnya Dalam Seni

Kolom, Umum

Restoe Prawironegoro Ibrahim*

Ribuan pasang mata seakan terhipnotis melihat aksi memukau lelaki bertubuh kekar tapi memiliki gerakan lincah dan gemulai.

reog ponorogo
reog

Sambil menahan beban di pundak, leher dan dadak reog di kepala yang juga harus digigit, ia memainkan gerakan acrobat, meliuk-liuk bagai kipas raksasa dewi kahyangan. Perpaduan unsur seni dan mistis ini tetap bertahan di Ponorogo, dipadu tampilan sangar dan  angker para waroknya.

Sebagai warisan leluhur, reog Ponorogo termasuk salah satu kesenian asli Indonesia yang masih mampu bertahan dan memiliki rating tinggi di tengah lunturnya tradisi. Reog Ponorogo mampu bersaing dengan kesenian khas lain dari berbagai daerah di bumi nusantara. Di Jawa Timur, reog menjadi simbol khusus dan kerap dipertunjukkan di berbagai acara resmi. Bahkan reog kini dinobatkan sebagai kesenian khas Indonesia yang mampu mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Permainan reog sampai sekarang tetap menampilkan unsur seni dan mistis.

Sejarah kesenian reog cukup panjang. Berdasar cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu kala berdiri sebuah kerajaan bernama Bantar Angin. Dengan keindahan alam yang membentang luas ke segala penjuru seolah-olah mampu menghiasi cakrawala dunia.

Bagian menarik dari tarian reog Ponorogo ketika pemain melakukan kibasan “dadak” yang berat dan lebar. Gerakan Singo Ludro sangat khas. Kuat, tangguh, tapi tetap lincah dan mampu meliuk-liuk bagai mahadewi memainkan kipasnya. Bagaimana pemain ‘dadak’ mampu mengangkat beban seberat itu dan harus digigit, sementara ia tak sesakti Singo Ludro yang asli? Singo Ludro adalah senopati yang raut wajahnya terdapat goresan besar bekas cakaran singa jelmaan. Yang selalu berada di depan memakai topeng berwajah tampan, merupakan perwujudan seorang raja. Pujangga Anom sendiri sebagai pengiring dengan memakai topeng amat seram, rambut gimbal, hidung benjol dan mata melotot. Biasanya berada di samping Kelono Sewandono. Tak ketinggalan pula Warok – pendekar khas Ponorogo – yang digambarkan sebagai prajurit yang mengiringi perjalanan Raja Bantar Angin.

Seorang pemain yang hanya mengandalkan kekuatan gigi, pundak dan leher, sangat mustahil bisa mengangkat beban seberat itu. Apalagi pada saat mereka melakukan gerakan naik turun dengan mengibas-ngibaskan ‘dadak’ yang memiliki berat 75-90kg, ditambah bila mereka mengangkat seseorang di atas kepala Singo Ludro. Tak pelak, kesalahan kecil bisa menyebabkan otot-otot leher dan pundak terkilir dan berakibat cacat.

Kabarnya, para pemain dadak Singo Ludro memakai susuk, untuk memperkuat sendi-sendi leher, gigi dan pundak. Susuk dimasukkan ke tubuh, sehingga diperoleh kekuatan tertentu yang hanya bisa dirasakan secara mistis.

Susuk bisa berbentuk paku atau jarum yang dibuat dari emas, perak, kuningan dan lainnya. Biasanya susuk yang dipakai seorang pemain dadak Singo Ludro (reog) dimasukkan pada seputar leher dan pundak, karena tujuannya memang untuk memperkuat sendi-sendi leher, gigi dan pundak.

Barangkali bisa disebutkan sejumlah kesenian tradisional yang hampir mirip dengan yang ada di Jawa Barat seperti reog Ponorogo, ludruk, Tari Karapan Sapi, Tari Panen Padi, Kuda Lumping serta sejumlah kesenian tradisional lainnya. Barangkali bisa dibandingkan dengan kesenian tradisional seperti reog, calug, angklung, kuda renggong, kuda lumping, sisingaan, longer, gendang, ketuk tilu, nayuban, atau jaipongan, jenis tari yang terkenal serta sejumlah kesenian lainnya.

Corak musik reog Ponorogo, barangkali hampir sama dengan kesenian kuda renggong dari Sumedang Jawa Barat. Dilihat dari sorak-sorainya para pemain serta pemakai barong untuk menakuti anak kecil. Hanya bedanya, titik tumpunya terletak pada kuda yang ditunggangi oleh anak yang akan disunat, di mana kuda tersebut meliuk-liuk menari mengikuti musik yang mengiringi, sambil diiringi sorak-sorai penabuh gamelan.

Selain kuda renggong Sumedang masih ada lagi kesenian tradisonal yang seperti reog Ponorogo, yaitu sisingaan dari Subang. Kesenian ini sama seperti kuda renggong dari Sumedang, khusus untuk anak-anak yang disunat. Si anak menaiki singa yang terbuat dari kayu, orang yang mengusung berjumlah empat orang dan cara mengusungnya dengan menari. Mereka memainkan gerak pencak silat, sambil tak lupa diringi sorak-sorai seperti reog Ponorogo.

Mungkin tulisan ini hanya merupakan sebuah estimasi berdasarkan sejarah. Tentang validitas keabsahan estimasi tersebut harus dibuktikan oleh para ahli sejarah, yang dalam hal ini belum pernah ada yang mengupasnya.

 

*Penulis adalah cerpenis dan penyair alam, tinggal di Jakarta.

Comments

comments

Leave a Reply