Pengukuhan Guru Besar IPI Soroti Dampak Negatif Globalisasi

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org—Senat UIN Sunan Ampel Surabaya kembali menggelar Rapat Terbuka Senat pada Rabu (4/10) di Gedung Sport Center and Multipurpose UINSA. Adalah Moch. Tolchah yang dikukuhkan sebagai sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UINSA Surabaya. Sidang yang dipimpin Prof. Akhwan Mukarrom dengan 54 anggota ini, dihadiri oleh 500 tamu undangan yang berasal dari keluarga guru besar, internal kampus, dan mahasiswa.

Sidang dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 65891/A2.3/KP/2017 oleh Zumrotul Mukaffah. Selanjutnya, Tolchah menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Pendidikan Islam di Era Globalisasi, Tantangan, Peluang, dan Kontribusi Pendidikan Islam di Indonesia.”

Menurut Tolchah, tantangan dan peluang pendidikan Islam di era globalisasi jauh berbeda dari pada era 90-an. Di sini Tolchah menekankan pentingnya memperhatikan nilai negatif dari globalisasi dalam pendidikan, seperti halnya komersialisasi pendidikan, informasi internet, dan media yang menyebabkan ketergantungan. “Tantangan pendidikan berada di budaya, etika pendidikan, dan moral. Hasil survei internasional menunjukkan pendidikan di Indonesia selalu rendah karena adanya sosial kapital,” jelasnya.

“Tantangan pendidikan Islam dipetakan dalam tiga aspek, hablun minallah yaitu struktural dan kultural, hablun minannas, serta sumber daya manusia, guru, dan administrasi perlu ditingkatkan,” lanjutnya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Tolchah menekankan penggunaan model pendidikan partisipasi berdasarkan karakter masyarakat, memperkuat peran pemerintah, dan rekonstruksi serta revolusi pendidikan Islam. Dengan tercapainya hablun minallah, hablun minannas, dan hablul alam, maka tujuan pendidikan Indonesia akan tercapai.

Sambutan Ali Gufron Mukti dan Prof. Abd. A’la, Rektor UINSA, memperkuat orasi ilmiah dari Tolchah, “Pendidikan Islam haruslah fi sabilillah. Saya sampai lupa apa itu. Saya teringat dengan ta’lim mutaallim. Pendidikan dalam menghadapi kemajuan teknologi harus khirsun, tidak bisa bermain-main lagi,” tuturnya.

Meski jalannya acara berlangsung tanpa hambatan, namun rapat terbuka yang seharusnya dimulai pukul 08.00 WIB harus molor satu jam. Hal ini dibenarkan Elly Fatmawati selaku bidang kepegawaian yang bertanggung jawab akan jalannya acara. “Overall baik, tak ada gading yang tak retak, artinya masalah yang seperti itu masih bisa ditoleransi,” ungkapnya ketika ditemui Solidaritas di kantornya. (faf)

Comments

comments

Leave a Reply