Pengangguran Terdidik

Kolom, Pendidikan

Oleh : Siti Fatimatuz Zahro

Persaingan dalam dunia kerja memang dikenal sangat sulit. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Berbagai cara dilakukan untuk dapat memperoleh pekarjaan yang bergengsi dan memiliki kualifikasi yang tinggi. Untuk memenuhi syarat pekerjaan yang mereka inginkan, banyak orang rela menghabiskan pundi-pundi rupiah mereka untuk dapata bersekolah dan memperoleh ijazah yang tinggi.

Tidak jarang perusahaan yang lebih mementingkan gelar yang tinggi dalam menjaring calon karyawan di perusahaan mereka tanpa mengetahui apakah calon karyawan mereka memang benar-benar kompeten dalam bidang pekerjaan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Namun, seiring dengan performa kerja yang ditunjukkan oleh karyawan yang diterima di perusahaan penyedia lowongan kerja, karyawan yang memiliki ijazah dan gelar yang tinggi tidak menjamin memiliki kinerja yang bagus. Sehingga banyak perusahaan sekarang yang menggunakan sistem politik hasil.

Perusahaan hanya akan mempertahankan orang-orang yang kinerjanya bagus meskipun mereka tidak memiliki background pendidikan yang terlalu tinggi. Kini orang yang “menghasilkan” di dalam suatu perusahaan akan dipelihara oleh perusahaan tersebut. Akibatnya karyawan yang dianggap tidak menghasilkan akan tergeser dengan karyawan yang memiliki kinerja yang bagus. Peristiwa inilah yang juga merupakan salah satu dari banyak faktor terdorongnya fenomena pengangguran terdidik.

Masyarakat banyak beranggapan pendidikan yang tinggi akan membantu anak-anak mereka untuk mencari kerja, sehingga banyak anak muda yang dipaksa oleh orang tuanya untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi terkemuka, baik berstatus negeri maupun swasta.

Banyak dari anak muda yang melanjutkan studinya ke perguruan tinggi tanpa didasari oleh keinginannya sendiri untuk mengenyam bangku perkuliahan akan memperoleh nilai pas-pasan dan mereka berpikir “yang penting bisa lulus”. Pemikiran mereka yang seperti itu, menciptakan lulusan yang tidak berkompeten dan bisa saja menjadikan mereka sebagai calon pengangguran terdidik.

Jumlah pengangguran terdidik terbanyak adalah lulusan perguruan tinggi, yaitu 12,78 %. Posisi berikutnya disusul lulusan SMA 11,9%, SMK 11,87%, SMP 7,45% dan SD 3,81%. Ada fenomena semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi ketergantungan pada lapangan kerja. Ketergantungan terhadap lapangan kerja itu, disebabkan pemuda-pemuda terdidik memilih-milih pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensinya.

Banyak anak muda lulusan perguruan tinggi terkemuka baik negeri maupun swasta merasa gengsi apabila mereka tidak bekerja pada bidang pekerjaan yang tidak sesuai dengan background pendidikannya. Anak muda pada zaman sekarang lebih mementingkan gengsinya dari pada kesejahteraan hidupnya di masa depan. Mereka yang tidak dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidang pendidikannya kemudian kembali ke rumah orang tua, kembali menjadi tanggungan bagi orang tuanya.

Padahal yang seharusnya terjadi tidak demikian, tetapi para pelajar yang telah merampungkan pendidikannya, ia harus mampu mengenali jati dirinya. Dengan jati diri itulah mereka mampu bersaing dalam dunia kerja. Yang patut digarisbawahi di sini adalah dunia kerja bukan berarti menjadi karyawan atau pegawai, wiraswasta pun termasuk di dalamnya. Alangkah baiknya jika setiap pelajar, sebelum mereka merampungkan masa belajarnya, mereka sudah memiliki soft skill. Jadi, ketika nantinya tidak mampu bekerja di suatu tempat yang diharapkan dan sesuai dengan bidang keilmuan yang di pelajari selama duduk di bangku sekolah atau kuliah, mereka tidak bingung memperoleh pekerjaan. Mereka bisa berwirausaha dengan soft skill yang dimiliki.

Comments

comments

Leave a Reply