Pemuda Islam, Say No to Kudet

Agama, Refleksi, Umum

Oleh: Ahmad Al Matin*

Berbicara tentang pemuda tentu kita tidak bisa mengabaikan latar belakang pendidikan, budaya, sosial, dan agamanya. Karena perilaku atau sikap seorang pemuda terlebih remaja tentu sangat dipengaruhi hal-hal tersebut, terlebih dari sosial, pendidikan dan agama.

Di indonesia sendiri, yang notabene berpenduduk mayoritas Islam, sudah bisa dipastikan setiap pemudanya pernah mengenyam pendidikan Islam baik dari sekolah formal, madrasah, TPQ, TPA atau bahkan pesantren. Namun, seiring perkembangan zaman, ada beberapa pihak yang menilai bahwa pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya terkesan kaku terhadap perkembangan zaman.

Tidak hanya itu, para anak didik yang menimba ilmu di lembaga itu terutama para santri dari pondok pesantren, dianggap sebagai pemuda yang kurang update atau istilah gaulnya KUDET. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, mereka dinilai sangat norak dan kampungan. Padahal pada hakekatnya pesantren juga mengajarkan kita untuk selalu up to date.

Anggapan seperti itu terhadap pesantren dan santrinya sebernanya disebabkan karena beberapa pesantren, masih mengandalkan pemahaman teks dalam pengembangan pendidikan dan keilmuan Islam. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh beberapa pemikir Islam kontemporer seperti Muhammad Arkoun, Fazlur Rahman dan Abid Al Jabiri bahwa selama ini perkembangan keilmuan Islam hanya terpaku kepada pemahaman teks saja. Sehingga mengakibatkan beberapa tokoh pemikir kontemporer menyatakan, bahwa yang membentuk peradaban Islam adalah peradaban teks, bukan yang lainnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah produk atau hasil pemikiran dan pemahaman seseorang dari sebuah teks tidak akan terlepas dari alur yang diberikan teks itu sendiri. Artinya, hasil pemikiran tersebut tidak mempunyai ruang lingkup yang luas. Jika teks yang dikaji adalah teks berasas Islam maka ruang lingkup yang diberikan hasil pemikiran orang tersebut hanya mencakup Islam secara khusus saja dan tidak untuk secara umum untuk pemikiran luar Islam.

Dari itu kemudian Mohammed Abid Al Jabiri menghadirkan “tri-epistemologi” dalam proyeknya naqd al ‘aql al ‘arby (kritik Nalar Arab). Melalui proyek ini Al Jabiri mengungkap kecenderungan epistemologis yang berlaku bangsa Arab dan umat Islam pada umumnya. Al Jabiri mencoba menganalisa kecenderungan-kecenderungan umat muslim yang secara kreatif melahirkan berbagai produk pemikiran yang berbeda yang ternyata didominasi oleh interpretasi teks yang sama.

Tiga epistemologi tersebut pertama, epistemologi bayani. Epistemologi ini merupakan bentuk nalar yang sangat menekan otoritas teks (nash), baik secara langsung atau tidak, dan dijustifikasi akal keabsahan yang digali melelalui inferensi (istidlal). Kedua, epistemologi irfani yaitu nalar yang berdasarkan pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan, atau lebih singkatnya berdasarkan pengalaman. Ketiga, epsitemologi burhani yaitu bentuk nalar yang bedasarkan akal dan melalui proses logika.

Menurut Al Jabiri, ketiga epistemologi ini membunyai hubungan sirkulatif dalam menyikapi problema dan mencari kesimpulan dalam pemikiran. Hal ini dikarenakan hanya dengan hubungan sirkuliatif dari ketiga epistem inilah akan diperoleh kebenaran yang menyeluruh yang hal ini tidak akan mungkin dicapai oleh salah satu epistem dengan sendirinya. Selain itu dengan adanya kerja sama yang apik ini akan merubah konstruksi pemikiran Islam yang lebih memperhatikan problem kemanusian, bukan malah menjauhi apalagi pemicunya. Hal ini mengingat bahwa kerja dari ketiga epistemologi tersebut adalah mencari kebenaran (moral etik) dalam kehidupan.

Gaul dengan Mengamalkan Qaidah Fiqhiah

Sejalan dengan teori tri-epistemologi yang dikemukakan Abid Al Jabiri sebuah Qaidah fiqhiah yang sering kita dengar dan sangat kita hafal, yaitu Al Muhafadzah Alal Qadim Wal Akhdu Bi Jadidil Aslah (melestarikan tradisi lama dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Dari Qaidah ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa melestarikan tradisi lama atau al Qadim (teks) itu diharuskan, namun tidak mengesampingkan atau bahkan membuang tradisi-tradisi baru yang sekiranya lebih baik dan sesuai dengan zamannya.

Mengaca dari qaidah tersebut sepatutnya kita sebagai umat Islam tidak hanya mengedepankan pengkajian teks saja tapi juga mengkaji realita atau kondisi dan sintuasi zaman yang kita hadapi saat ini. Lalu hal itu kemudian dicocokkan atau digabungkan dengan tradisi lama atau pengkajian teks yang sekiranya juga sesuai dengan zaman ini. Sehingga hukum-hukum Islam yang telah ditetapkan oleh Rasulullah dan tertulis dalam kitab-kitab klasik bisa relevan dengan zaman kita saat ini.

Nah, ketika teori yang dikemukan oleh Al Jabiri dan Qaidah Fiqhiah di atas ini kita realisasikan, pastinya pendidikan dan pemikiran Islam tidak akan lagi terkesan kaku dan tidak relevan dengan zaman. Sudah sepatutnya kita juga berperan aktif dalam perkembangan zaman. Dengan ini sudah tidak ada lagi alasan untuk kita selaku pemuda Islam, selaku santri, untuk terus alergi terhadap perkembangan zaman. Selama itu baik, kita boleh menggunakannya.

Perkembangan trend untuk anak muda, seperti gadget, jejaring sosial, fashion dan lainnya pun perlu kita ikuti perkembangan. Ini bukanlah sebagai bentuk kita untuk meniru perilaku orang barat yang diklaim sebagai orang yahudi atau sebagainya. Sebab orang-orang barat juga ada yang muslim, anggap saja ini sebagai ikhtiar kita untuk mencari yang terbaik yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan dakwah dan pemikiran Islam ke depannya. Waallahu ‘Alam bis Shawab.

*Wartwan Derap Desa Jawa Timur, HRD LPM Solidaritas 2012.

Comments

comments

Leave a Reply