Panitia PKK-MB FUF Jelaskan Tema yang Diusung

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org — Banner PKK-MB Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) dipasang di depan gazebo FUF pada Selasa (30/8). Banner berwarna dasar hitam itu bertuliskan tema PKK-MB FUF, Komersialisasi Tuhan; Re-vitalisasi Islam Nusantara Sebagai Kesadaran Sosial.

Awalnya, banner bertuliskan tema yang dipublikasikan pada hari kedua PKK-MB ini dikerumuni oleh para panitia dan dosen FUF. Bahkan, Resimen mahasiswa (Menwa) yang poskonya berada tak jauh dari lokasi juga ikut mendekati banner. Berdasarkan hasil wawancara kru Solidaritas pada Senin (29/8), dijelaskan oleh Hikam, ketua panitia, tentang maksud dari tema tersebut. Pihaknya menjelaskan bahwa saat ini banyak hal-hal yang mulai dikomersilkan dengan menggunakan nama Tuhan. “Bukan Tuhannya, tapi ajaran-ajaran yang ada dalam Tuhan. Seperti adanya Bank Syariah. Dulu kan gak ada, sekarang ada di Mesir, Indonesia, yang mayoritas muslim.” Mahasiswa semester lima ini juga menambahkan bahwa tema tersebut tidak terfokus pada Islam yang saat ini seakan-akan diperdagangkan, karena hal itu adalah salah satu dampak dari globalisasi.

Ia juga memaparkan tentang realita saat ini yang menjadi dasar dari munculnya tema. “Sekarang kan ada kebarat-baratan dan ketimur-timuran, jadi seakan-akan semua hal itu harus seperti barat, dan yang berbau agama, harus seperti arab,” ungkapnya. Menurut panitia, hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran yang ada di Indonesia. Dengan alasan tersebut, panitia memandang perlu adanya revitalisasi Islam Nusantara yang tetap mengambil nilai-nilai ke-Islam-an dan tidak menghilangkan nilai-nilai kenusantaraan. Sehingga, untuk membendung arus globalisasi, panitia menganggap Islam Nusantara adalah hal yang tepat untuk diterapkan.

Menurut  Muhid, Dekan FUF, ia mengaku bahwa semua yang berkaitan dengan kegiatan tersebut telah panitia diskusikan dengan pihak Dekanat. Mulai dari tema, banner, pin, stiker, dan materi kemahasiswaan. Ketika ditanya juga mengenai tema FUF yang menimbulkan kontroversi dua tahun sebelumnya, lelaki yang menduduki jabatan tertinggi di fakultas yang khas dengan warna biru ini membenarkannya. Pihaknya mengaku sebelum menyetujui tema tersebut, ia meminta Murtafi selaku Wakil Dekan yang mengurusi bagian akademik untuk menelaah terlebih dahulu tema yang saat ini menjadi sorotan warga kampus. Sehingga disimpulkan oleh keduanya untuk menyetujui tema yang sudah dibuat oleh panitia. “Sudahlah, Pak, kita jalan saja. Biarlah mahasiswa diberi ruang untuk berkreatifitas, asal tidak menimbulkan pemikiran kontroversial,” jelasnya, mengutip ucapan Murtafi.

Jika diperhatikan, banner yang dipampang di dalam ruang forum, terdapat gambar dua topeng berwarna hitam putih. Muhid menegaskan tema tersebut sebagai kritikan terhadap kaum agamawan. “Orang yang di depan berpenampilan santri, tapi sebenarnya preman,” jelasnya. Berbeda dengan penjelasan Hikam yang ditemui sehari sebelumnya. Menurutnya, dua topeng dan warna hitam putih tersebut sebagai simbol adanya dua warna dalam kegiatan tersebut, “Sebagian menggunakan PKK-MB, sebagian lagi Oscaar,” imbuhnya. Sebelumnya, ia memang mengaku bahwa masih ada sebagaian perangkat PKK-MB yang menggunakan istilah Oscaar, hal tersebut karena turunnya SK Rektorat yang dianggap mendadak.

Muhid mengaku dirinya sempat menghimbau agar banner yang awalnya menggunakan istilah Oscaar diganti dengan PKK-MB. “Sudah diganti, karena kita ikuti saja apa yang ada di SK,” terangnya. Ketika ditanya tentang kandungan tema, pihaknya mengaku bahwa tema tersebut belum tentu dipahami oleh semua orang, karena menggunakan bahasa filsafat. Namun bagi orang-orang FUF, tema tersebut adalah hal yang wajar. “Intinya semuanya dan tema itu sudah didiskusikan. Cuma untuk tulisan yang ada di kaos (Mahasiswa Tuhan, Oscaar 2016) itu tidak didiskusikan dengan kami,” pungkasnya. (nnd/fau)

Foto: Banner yang terlihat dari kejauhan

Comments

comments

Leave a Reply