My Lovely Brother

Cerpen

By: Ismathud Diniyah*

“Nay, besok adikmu akan pulang. Kamu siapkan makanan kesukaannya ya.” Teriak mama setelah menutup telepon dengan Arya, adik laki-lakiku tersayang. Tetapi, bukan adikku satu-satunya. Mengerti kan? Ya, karena aku mempunyai satu adik lagi. Hanna namanya. Melalui namanya, kalian pasti tahu bahwa dia adalah seorang perempuan. Hanna menjadi anak bungsu di keluarga kami. Arya sudah setahun lalu melanjutkan sekolah di kota. Cukup jauh jaraknya dari rumah. Sekitar 5 jam jika ditempuh dengan mengendarai mobil, bus, dan sebagainya. Namun cukup 3 jam jika ditempuh dengan kereta api. Sekarang ia duduk di kelas 11 tidak sekolah di SMA ataupun Aliyah, melainkan di Madin Pesantren yang sederajat dengan kelas satu SLTA. Oh ya, dia

Namun tidak denganku. Aku bersekolah di SMA yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Aku tidak ingin jauh dari orang tua dan adik perempuanku. Harus kuakui, kalau aku lebih manja dari pada Arya. Bahkan ia jauh lebih dewasa. Ia berani mengambil keputusan untuk bersekolah jauh dari rumah. Meski sesekali kami menjenguknya ke pesantren. Namun aku tak bisa membayangkan jika jadi dia. Aku akan menangis setiap hari karena rindu mama, ayah, dan Hanna pastinya. Belum lagi jika aku mempunyai masalah, maka aku hanya bisa menangis. Bagaimana jika di pesantren ada tikus, maka aku juga akan menangis. Intinya aku akan terus menangis, jika jauh dari keluarga.

Aku sangat dekat dengan Hanna. Meskipun umur kami terpaut jarak 5 tahun, namun kami seperti lem yang selalu berdua jika pergi kemana-mana. Kami sering bertukar cerita meski terkadang ceritanya kadang kurang nyambung. Ya. Aku sangat sayang kepadanya, dan yang kutahu dia juga begitu. Lalu bagaimana dengan Arya? Jelas aku juga sayang padanya. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa aku paksakan.

***

Hari ini Arya akan pulang. Ayah akan menjemputnya di stasiun. Aku benar-benar merindukannya. Apakah ia akan merindukanku juga? Harusnya sih gitu. Aku dan Hanna sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Serasa presiden yang akan datang, jadi acara penyambutannya harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Kalau di rumah ada karpet merah, mungkin juga akan di bentang dari ujung jalan. Setahun tidak berkumpul bersamanya cukup membuatku rindu keberadaannya di rumah.

Beberapa kali aku menghubungi Ayah. Apakah Arya sudah sampai atau belum. Sebegitu kangennya aku padanya, sampai-sampai aku menunggu di depan pintu untuk menyambutnya. Setelah satu jam menunggu di depan pintu, tampak dari kejauhan Ayah yang sedang bersama Arya. Aku bergegas keluar rumah dan ingin memeluknya. Tapi tiba-tiba ia menolak. Ia selalu begitu. Tak pernah mau disentuh olehku. Entah karena malu, segan, atau alasan lain aku juga tidak tahu. Kadang aku mengira, apakah dia benar-benar tak punya rasa rindu kepadaku, sampai-sampai dipeluk kakaknya sendiri saja tidak mau. Tetapi ia tak pernah seperti itu pada Hanna, ia bersikap baik, humble, dan tidak pernah bersikap dingin seperti kepadaku.

Karena sikap manja dan penakutku, aku tidak berani untuk mengendarai motor ke tempat yang bukan daerahku sendiri. biasanya aku minta diantar oleh Ayah atau mengajak temanku. Kali ini aku ingin membeli bahan praktek yang kebetulan tidak dijual di kampungku. Jadi aku harus pergi ke kota. Namun ayah tak bisa mengantar, begitu juga teman-temanku. Aku minta tolong kepada mama untuk membujuk Arya mengantarkanku. Karena aku tau ia tak akan mau kalau aku yang ngomong langsung. Ternyata rayuan mama tidak mempan kepada Arya. Aku merajuk,  mengunci diri di kamar. Sebenarnya itu hanya caraku saja agar Arya berubah pikiran. Lagipula bahan-bahan itu harus dikumpulkan besok. Jadilah mama ngomel panjang lebar ke Arya. Dia tetap pada pendirianya menolak mengantarku. Mugkin dia malu jika harus membonceng perempuan, tapi kan aku kakaknya. Kenapa harus malu? Terkadang aku berpikir, apakah ada kesalahan yang pernah kuperbuat kepadanya tanpa kusadari? Ah, kesal kalau mengingatnya yang bersikap dingin kepadaku. Setelah terjadi percekcokan yang sangat panjang antara mama dan Arya. Akhirnya dia mau mengantarku. Itupun dengan imbalan yaitu bakso kesukaannya telah dijanjikan mama. Tapi tetap saja mukanya yang ngeselin itu tak bisa dikondisikan. Arya cemberut dan benar-benar tak mau bicara padaku sepanjang jalan. Kalau aku bicara duluan. Ia hanya menjawabya singkat-singkat.

Gimana di pesantren, betah ndak? Seru ndak?” Aku memulai percakapan dengan antusias.

“Biasa aja.” Jawabnya datar.

“Katanya banyak kegiatan ya?”

“Lumayan.”

“Terus kamu ndak capek, ngeluh, atau minta pulang mungkin?”

“Hmmm.”

Jleb. Gila. Dia nggak pernah merasa kali ya dicuekin. Aku udah cari pembahasan, tapi dia hanya menjawab singkat dan seadanya. “Sabar Naya, sebenarnya dia ndak berniat seperti itu kok, mungkin lagi males ngomong aja.” Aku menghibur diriku sendiri.

Tiba-tiba ada motor yang mendahului kami dan hampir saja kami jatuh karena terkejut. Arya menginjak rem dengan tiba-tiba. Otomatis aku memegang pinggangnya erat agar aku tidak jatuh. Eh, malah dia marah .

Ngapain sih, pegang-pegang, malu tau.”

Aku menelan ludah, dia yang menginjak rem tiba-tiba, kenapa malah aku yang dimarahin. Aku ndak mau menimbulkan perdebatan yang panjang, karena dia tipe orang yang bakal berontak jika ada sikap yang tidak sesuai dengan hatinya. Apalagi jika marah-marah padanya, maka dia akan kembali marah padaku. Jadi aku hanya bisa minta maaf.

***

“Ma, makanannya udah selesai belum?” teriak Arya dari ruang televisi.

“Kamu kira apaan? Seenaknya aja teriak-teriak, emang nggak bisa diliat sendiri apa?” Bantah ku.

“Han, Hana, makanannya udah selesai belum?” Arya sama sekali tidak menanggapi kata-kataku. Menjengkelkan sekali anak itu. Terbuat dari apa sih hatinya. Aku menggumam sendiri.

“Udah,” Hana dan mama menjawab bersamaan. Satu rumah juga udah mengerti gimana sikap Arya kepadaku. Jadi tidak pernah ada yang mempermasalahkan atau menanyakan. Karena mau ditanya seribu pertanyaan pun, hal apa yang membuat Arya bersikap seperti itu maka nggak akan ditemukan jawabannya.

Biasanya kami mengambil makanan di meja makan, lalu membawanya ke ruang televisi. Yaa maklum lah, keluarga kami bukan keluarga yang sangat formal, tidak perlu makan di meja makan. Kami memang makan bersama, apalagi ini hari libur, jadi bisa berkumpul semua. Setelah aku mengambil makanan, aku langsung mengambil tempat duduk yang ada di pojok, dan itu artinya aku harus melewati Arya. Rasa kesalku sudah memuncak terhadapnya. Eh, tiba-tiba terasa ada yang menghalangi kakiku untuk melangkah, hampir saja ku terjatuh dan menjatuhkan makanan yang ku pegang. Semua berteriak kaget. Tapi tidak bagi Arya. Ia tertawa terpingkal-pingkal saking senangnya. Langsung kuletakkan makanan di meja. Lalu memukul lengannya pakai sendok yang ku pegang tadi. Rupanya ia merasa tak terima. Ia juga meletakkan piringnya. Jadilah kami kejar-kejaran mengelilingi rumah. Mama dan ayah hanya menggeleng-geleng tidak percaya, kalau mereka mempunyai anak “unik” seperti kami. Sedang Hana hanya tertawa-tawa sambil mengkuti kami berlari. Tiba-tiba …

Jedug…..suara sesuatu yang seperti terbentur dengan  benda keras. Hana menjerit memanggil mama. Kepalaku berdarah, terkena ujung meja yang terbuat dari kaca. Darah mengalir cukup banyak. Aku meringis perih. Arya mendorongku setelah berhasil menangkapku. Entah sengaja atau tidak aku juga tidak tahu.

***

Hari ini Arya pulang ke pesantrennya. Sudah 3 hari sejak kejadian itu, aku dan Arya belum baikan. Mama menasehati Arya supaya minta maaf, tetapi yang ada hanya saling menyalahkan. Aku menyalahkan dia, kenapa dia menggangguku waktu hendak makan, dan dia menyalahkanku, kenapa aku harus memukulnya dengan sendok. Dan baginya itu tidak adil. Kepalaku masih terasa pusing terkadang. Selama itu juga aku tidak masuk sekolah. Bahkan aku tidak berniat untuk sekadar mengantarnya ke depan gerbang, jika ia mau berangkat ke pesantrennya lagi. Ngambek mode on.

Aku berdiam di kamar, terdengar suara ketukan pintu. Mama mengingatkan kalau Arya akan segera berangkat. Tapi aku hanya bilang kalau aku sakit perut dan harus sering-sering ke kamar mandi.

Beberapa lama tidak ada lagi kudengar suara mama. Begitu juga dengan suara ayah ataupun Hana. Kupikir mereka diluar rumah sambil mengantar Arya ke pintu gerbang. Hanya ayah yang mengantar sampai pesantren. Aku merasa bersalah juga. Ada rasa menyesal tidak ikut mengantarnya. Aku membuka pintu. Tiba-tiba ada yang memelukku erat. Menangis sesenggukan. Arya. Ah masa sih, pikirku tidak percaya.

“Kak, maaf yaa, gara-gara aku kakak jadi sakit kayak gini, sampe kakak nggak bisa sekolah.” Ini benar suara Arya.

Aku terbahak-bahak. Sebentar. Dia tidak melepaskan pelukannya. Lama-lama aku ikut menangis cukup lama.

“Kak, aku mau kembali ke pesantren, maafin Arya ya Kak.” Ia merenggangkan pelukannya. Dan bergegas menemui ayah yang sudah menunggunya di depan rumah.

Aku masih menangis di tempat di mana ia memelukku tadi, lalu mengejarnya. Membisikkan kalimat perpisahan sebelum ia kembali ke pesantren, “Ia dek, Kakak minta maaf juga.” Ucapku dengan penuh ketulusan.

Hening beberapa saat, semua tertawa. Namun Arya kembali seperti biasanya.

“Apa sih Kak, peluk-peluk, risih ih.” Dia langsung pergi, meniggalkanku yang masih melongo heran. Anak itu kenapa sih.

“Aryaaaaaaaaaa.” Aku menjerit sekencang-kencangnya.

 

Sumber Gambar : health.kompas.com

*) Penulis merupakan Maganger LPM Solidaritas, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

 

Comments

comments

Leave a Reply