Menanti Kualitas Pasca Pemira DEMA-U 2017

Opini

Beberapa hari ini kampus UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang biasanya tenang-tenang saja mendadak ramai luar biasa. Bukan karena mahasiswa antre berjejer di stand pendaftaran seminar  gratis, tapi ramai karena Pemilihan Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) tingkat Universitas, yang istilah kerennya bisa disebut Pemilihan “Presiden Kampus”. Jika menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang akhirnya dimenangkan oleh pasangan Oke Oce Anies-Sandi dengan melibatkan isu agama sebagai alat berpolitik, maka berbeda di UINSA. Tidak ada persaingan antar calon kandidat yang semasif di pemilu dalam politik praktis Indonesia. Usut punya usut timeline dari pendaftaran, kampanye, pemilihan hingga perhitungan suara hanya diberi waktu singkat nan padat. Senin sampai Rabu (17 – 19 April 2017) Sehingga bukan persaingan yang ada, tapi malah bentrok yang terjadi.

Ketika salah satu pihak melakukan kampanye atas nama calon dukungannya pada Selasa sore (18/4), puluhan pihak yang lain yang tidak setuju atas sistem yang dibuat Komisi Pemilu Raya Mahasiswa (Kopurwa) menentang dan membubarkan kampanye. Dikatakan di salah satu media kampus, Ara Aita, jika Kopurwa tidak netral dan dianggap berpihak pada salah satu partai. Hingga saat pemilihan, yang diganti menjadi hari Kamis (harusnya Rabu) pun peraturannya diubah, hanya perwakilan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang boleh menggunakan hak suara bukan seluruh mahasiswa UINSA.

Secara khusus penulis memberikan apresisasi untuk para mahasiswa yang begitu ambisi dalam memenangkan kursi DEMA ini. Sampai-sampai petisi berisi “Tolak Hasil Pemilu Raya” dilancarkan oleh pihak yang tidak setuju dengan sistem Pemilu Raya (Pemira). Hingga sekarang (24/4), sudah tercatat 215 suara pendukung petisi tersebut. Terlepas dari hal itu, ketua yang terpilih, Hozain Zainullah dan Wakilnya, M. Mahmud Qudlory, harus mempersiapakan rancangan kepengurusan kedepannya meliputi penyadaran mahasiswa tentang keadaan kampus dan negaranya dan tidak hanya berhenti dalam seremonial kemenangan saja.

Tanpa sok menutup-nutupi, kemenangan Ketua DEMA ini dengan adanya dukungan partai. Partai tersebut sebagai representasi organisasi pengkaderan yang bisa dikatakan mempunyai basis masa besar di kampus ini.  Namun Dewan Eksekutif harus lebih terbuka kepada seluruh mahasiswa. Penyadaran dalam rancangan kepengurusan yang dimaksudkan penulis di atas tidak bisa langsung dilakukan. DEMA harus lebih terbuka dan lebih me-mahasiswa. Selalu melibatkan mahasiswa secara umum demi tercapainya perubahan kampus dan Indonesia.

Penulis tidak tahu pasti jumlah mahasiswa yang kuliah di kampus UINSA ini, namun pernah penulis mendengar dari salah satu pejabat kemahasiswaan kampus yang menyatakan ada sekitar 10.000-an lebih mahasiswa aktif. DEMA harus mengayomi seluruh mahasiswa tersebut,  menjembatani aspirasi mahasiswa dan tentu meninggalkan kepentingan “kelompok” demi kepentingan mahasiswa secara umum. Setelah itu mahasiswa akan merasa memiliki DEMA dan Kampusnya. Jika DEMA tertutup untuk kelompoknya maka DEMA secara tidak langsung mendidik mahasiswa menjadi apatis dan membenci politik dengan cerminan yang telah dilakukannya. Paulo Freire akan mengatakan tindakan DEMA adalah bentuk “dehumanisasi” yang dilakukan kepada mahasiswa non golongan, mahasiswa akhirnya tidak ikut merasa memiliki DEMA karena tindakan DEMA itu sendiri.

Kita nantikan bagaimana hasil petisi yang telah dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan akan sistem pemilihan kemarin, kita nantikan bagaiamana rancangan kepengurusan DEMA tahun ini. Penulis selalu berharap yang terbaik untuk lingkungan akademisnya. Dalam demokrasi ini jika rakyat adalah segalanya, maka silakan pikirkan lagi seluruh mahasiswa UINSA, jangan hanya berlarut-larut untuk kepentingan golongan tertentu saja. Namun sepertinya kampus akan menolak peniadaan itu, karena akreditasi ditunjang oleh keberadaan organisasi di dalamnya tanpa menilik kualitas yang dipunya. [*]

*) Mohammad Iqbal, Mahasiswa Aktif UINSA Fakultas Adab dan Humaniora

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply