Memimpin dari Tiga Sisi

Opini

Oleh: Aliyul Himam*

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”

Ki Hajar Dewantara

 

Manusia adalah makhluk sosial yang setiap waktu selalu berinteraksi dan membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup. Baik dalam lingkup kecil maupun luas, dalam keluarga maupun komunitas organisasi dan masyarakat.

Berhubungan dengan kelompok sosial yang majemuk tentu sangat susah. Mengingat masing-masing dari individu memiliki perbedaan latar belakang, sifat, kepribadian hingga kepentingan. Terkadang masalah yang terjadi antar individu atau kelompok pun karena perbedaan tersebut. Maka dari itu, diperlukan jiwa kepemimpinan dalam tiap individu, agar masing-masing dari mereka bisa memanfaatkan perbedaan untuk hal yang positif, dan bermanfaat untuk kepentingan bersama.

Manusia pada dasarnya memiliki jiwa kepemimpinan, karena itu adalah fitrah yang telah diberikan oleh Allah Swt.. Pemimpin tidak hanya berkutat pada jabatan, melainkan individu yang memiliki semangat perubahan, inovasi, kolaborasi, mau dan mampu me-manage kepentingan diri dan orang lain untuk kebaikan bersama, serta bersedia bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya. Berani meminta maaf ketika salah, berterimakasih kepada orang-orang yang telah membantunya, dan tidak malu meminta tolong ketika tidak mampu mengerjakan suatu hal.

Pemimpin adalah seorang yang harus bisa memimpin dirinya sendiri. Mau melakukan apapun demi kebaikan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Ketika seorang sudah mampu memimpin dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik atau bahkan memberikan dampak positif, maka ia sudah mampu menjadi contoh bagi orang lain.

Kepemimpinan yang sejati telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. yaitu menjadi teladan yang baik bagi orang lain, mulai dari segi perkataan, perbuatan, hingga akhlaknya yang terpuji. Sehingga dengan teladan yang telah dicontohkannya tersebut, dapat mencetak pemimpin-pemimpin hebat setelahnya.

Ketika saya duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara dengan Sekolah Dasar, red.), saya dikenalkan dengan sosok Ki Hajar Dewantara oleh guru saya. Seorang pahlawan Indonesia yang telah mendirikan Taman Siswa di Jogjakarta dan memiliki semboyan, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani,” yang memiliki arti, “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan.”

Secara alami, model kepemimpinan yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari disadur dari semboyan Ki Hajar Dewantara tersebut. Pernah suatu kali, ketika saya kelas satu Madrasah Aliyah (setara dengan Sekolah Menengah Atas, red), saya dipercayai untuk menjadi ketua kelas.

Jurusan Bahasa adalah jurusan yang saya ambil ketika Madrasah Aliyah. Dimana jurusan ini menjadi jurusan favorit yang dihuni oleh siswa-siswi yang cerdas dan pintar. Saya bukanlah orang yang pandai dalam pelajaran. Namun, sebagai pemimpin tentu saya memiliki beban moral untuk menjadi teladan. Maka, saya selalu berangkat awal ketika berangkat sekolah, melakukan inovasi-inovasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika itu, saya membuat sebuah media sosial seperti facebook mobile, yang dapat digunakan teman-teman untuk berinteraksi ketika pulang kampung, karena 30 orang dari 34 teman saya adalah santri pondok pesantren.

Saya juga selalu membimbing teman-teman sekelas saya dalam bidang Informasi dan Teknologi. Ketika praktik di laboratorium komputer pada saat pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), saya yang selalu mendampingi mereka.

Saat itu, pada semester dua, ada satu masalah dimana siswa-siswa jurusan Bahasa, termasuk kelas saya, selalu dibanding-bandingkan dengan beberapa kelas lain oleh beberapa guruwali kelasyang terlalu memerlihatkan kefanatikannya terhadap siswa asuhnya. Padahal, ketika itu banyak teman kelas saya memiliki berbagai macam prestasi, baik di tingkat sekolah maupun di luar sekolah. Masalah tersebut menimbulkan rasa kurang percaya diri pada beberapa siswa yang belum memiliki prestasi, dan rasa kecewa bagi yang sudah menorehkan prestasi.

Bersama teman-teman yang lain, saya berusaha untuk memberikan semangat kepada teman-teman yang kurang percaya diri, untuk selalu optimis dalam berkreasi sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka, mulai dari karya tulis ilmiyah, sastra, bahasa, seni, ataupun pelajaran-pelajaran sekolah lainnya.

Akhirnya, pada saat itu, kami satu kelas sepakat membentuk klub studi, dan juga sebagai nama kebanggaan jurusan yaitu The World of Language (The Worldofle). Di sana, setiap siswa bisa saling berbagi tentang keahlian masing-masing.

The Worldofle menjadi wadah bagi saya untuk belajar tentang pelajaran maupun hal-hal yang saya tidak bisa bersama teman-teman yang lain. Selain itu, saya juga selalu memberikan dukungan kepada setiap anggota kelas yang berjuang mengikuti perlombaan, karena saya percaya, setiap orang membutuhkan dukungan. Kalau tidak dimulai dari saya? Siapa lagi?

Maka kepemimpinan yang saya yakini adalah ketika kita bisa memberikan manfaat kepada sesama. Rasulullah Saw. pun pernah bersabda “Khoirunnas anfa’uhum linnas.” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

Oleh karena itu, jika kita berada di depan maka jadilah tauladan yang baik, jika kita berada di tengah maka berusahalah untuk selalu membimbing, dan jika kita berada di belakang maka jangan bosan untuk  selalu memberikan dorongan kepada orang lain.

*Penulis merupakan anggota LPM Solidaritas angkatan 2014, saat ini sedang menempuh studi Prodi Ilmu Komunikasi di UINSA Surabaya

Comments

comments

Leave a Reply