Memilih Mengabdi Walau Hanya 30 Hari – KKN UINSA

Berita Kampus, Refleksi

 

Perjalanan suci bukan hanya mereka yang naik haji. Berniat mengabdi di atas bumi perantauan yang penuh dengan tapak tilas kesengsaraan juga hampir serupa. Karena harus mampu membulatkan tekat dan niat sebagaimana iman selama 30 hari. Sebelum berangkat,  tidak lebih dua minggu dari pemberangatan pengabdian kepada maysarakat –yang biasa dikenal dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN)– kami dibekali materi Asset Based Community-driven Development (ABCD) untuk kerangka kerja dan laporan kami. Tujuannya untuk pengembangan potensi dan aset desa, katanya.

Persiapan serta  izin rekomendasi ke desa masing-masing yang ternyata baru sampai ke tangan kepala desa atau lurah pada 1 atau 2 hari sebelum pengabdian. Sehingga banyaklah peserta KKN yang  justru malah ditanyakan tingkat kesungguhan niat pengabdiannya oleh kepala desa atau lurah saat survei lokasi. Bahasa singkatnya begini. ” Ini bener kalian mau KKN di sini?. Emang mas-mas bisa apa?.” Kira-kira serupa seperti itu lah redaksi kalimatnya, menurut rekan kelompok lain. Penyebabnya karena perizinan dan suratnya datang terlambat dan tergesa-gesa. Bagi kami ini sudah benar-benar kesan negatif untuk kampus UINSA tercinta. Sepertinya pihak dari LPPM kurang serius menangani masalah KKN Gel. Ke-II ini. Mungin salah satu bukti yang bisa dilihat adalah dari pembagian kelompok yang hanya berdasarkan abjad, dan tentu itu tidak atas dasar pertimbangan kapasitas mahasiswa masing-masing. Selanjutnya bisa dilihat dari interval waktu pembekalan dan pemberangkatan yang sangat singkat sekali. Bagi kami ini tuntutan untuk kerja keras. Perkara hasil, belakangan.

Bingung harus bertindak seperti apa awalnya. Memilih diam dan santai saja, justru akan mencoreng nama kampus. Mengikuti intruksi dari hasil pembekalan, kami juga kurang mempersiapkan diri dari waktu yang amat singkat. Ini benar-benar posisi dilema. Sebagai mahasiswa profesional kami mengabaikan kendala itu. Kami terus berbenah diri untuk mempersiapkan belajar dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. Seperti biasa saya bersama rekan se-tim langsung larut dalam intruksi pembekalan. Kami memfokuskan penggalangan data di minggu pertama. Yang kami sasar adalah kepala desa dan perangkatnya serta ketua RT masing-masing.

Ternyata fokus kami di satu hal, justru ada fokus lain yang tertinggal dan timbul masalah. Masalahnya kami belum bisa berbaur dan beradptasi dengan masyarakat setempat. Maklum, karena disamping usia yang relatif masih muda, pun mungkin karena dalam waktu singkat harus merubah aktivitas bawaan dari rumah yang biasanya malas-malasan. Ini menjadi zona tidak nyaman bagi kami. Tapi, mau tidak mau kami memang harus benar-benar berjuang. Kami melupakan satu hal bahwa dalam KKN ada jiwa pengabdian yang menuntut kita beraktivitas bersama masyarakat. Ini yang kurang kami dapatkan dari pembekalan. Karena pembekalan pembahasannya hanya seputar kerangka berpikir ABCD, dan tidak secara teknis menerangkan bagaimana cara cepat mendekati masyarakat.

Arah kerja kami petakan menjadi dua, agar bisa melakukan pendekatan yang berkesan dan menyisakan sebuah kenangan. Beberapa orang sengaja diterjunkan untuk selalu berada dan aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat sambil mengais data yang dibutuhkan sebagai bahan laporan dan misi. Sebagian yang lain dikonsentrasikan untuk program kerja pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Di sinilah kejelasan dari tujuan yang sebenarnya kami baru temukan. Kami mulai dekat dan bisa meemperoleh data dengan gampang dari masyarakat. Bahkan sebagai seorang fasilitator, kami pun tau apa yang diinginkan masyarakat. Sehingga kami bersama rekan se-tim pula merumuskan dan mencanangkan program bersama masyarakat sebagai bentuk meningkatkan dan memanfaatkan aset dan potensi di tempat kami mengabdi. Pendekatan membuka segalanya.

Kami benar-benar mengabdi. Bahkan sempat berpikir bahwa 30 hari ini adalah waktu yang singkat dan kami bersedia untuk perpanjangan waktu layaknya pertandingan bola. Tapi bukan 1 atau 2 menit, melainkan 1 atau 2 bulan lagi. Sehingga kami bisa menyempurnakan menggiring bola dan mencetak goal yang mempesona dan disiarkan berulang-ulang dalam sejarah, serta selalu menjadi “buah bibir” masyarakat setempat yang manis dan penuh makna.  Di antara kami pun keluar ungkapan tak peduli pada nilai atau kelulusan program KKN. Yang terpenting tujuan untuk mengabdi dengan mengembangkan potensi dan aset serta memberdayakan masyarakat harus tetap berjalan sempurna. Bahkan kalau pun laporan tidak ditulis, Tuhan dengan malaikat-Nya sudah melihat, dan menyiapkan nilai berharga bagi kami yang tulus mengabdi.

Di sinilah kami menggarisbawahi inti dari KKN sebenarnya kami harus mampu menorehkan cerita dan nostalgia indah bersama masyarakat. Bukan lagi memberikan benda dan wujud fisik apapun. Sehingga untuk mencapai tingkat kedekatan tersebut tidak cukup waktu 30 hari. Namun tidak apa. Biarlah kenangan yang akan bercerita kelak tentang canda tawa ria kami bersama masyarakat. Sehingga kami pun sadar. Ini menegaskan bahwa kami mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya sudah mampu, layak tempur, dan tahan banting jika dihadapakan dengan masyarakat di mana pun kami berada dan dengan kondisi apa pun. Sempurnalah Tri-dharma perguruan tinggi kami.

Penulis: Akh. Rifqi Ghufron Firdaus*
Editor: Lailatul Mufidah

*Penulis adalah peserta KKN Gel. Ke-II yang ditempatkan di kawasan wisata religi

Desa Kuncen Kec. Mejayan Kab. Madiun, sekaligus Akademisi Filsafat Politik Islam UINSA

 

Comments

comments

Leave a Reply