Melalui Seminar Gerakan 1000 Intelektual HMI Kampanyekan Literasi

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org—Jumat (22/9) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Koordinator Komisariat Sunan Ampel Cabang Surabaya menyelenggarakan Seminar Nasional “Gerakan 1000 Intelektual” dengan tema “Melepas Bayang-bayang Fanatisme menuju Pemahaman Pembaharuan Islam”.

Acara yang diadakan di gedung Auditorium UINSA ini dihadiri Maksum, mantan Pimpinan Redaksi Jawa Pos, Zainuddin Maliki, Penasehat Pendidikan Jawa Timur, sebagai narasumber  yang dipandu oleh Aidil Pananrang, komika Stand Up Comedy Academy (SUCA) 2.

Seyogianya seminar yang dimulai pada pukul 14.12 WIB ini dihadiri Akbar Tandjung, Ketua DPR RI periode 1999-2004, Harry Azhar Aziz, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, dan Viva Yoga, Anggota DPR RI. Namun, diluar dugaan ketiganya berhalangan hadir.

Selain untuk memperkenalkan organisasi ekstra kampus kepada mahasiswa UINSA dan kampus lain di lingkungan Surabaya, Seminar Nasional “Gerakan 1000 Intelektual” ini mengajak para peserta seminar agar lebih sadar untuk meningkatkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Bahkan dalam penjelasannya, Maksum menghimbau kepada seluruh peserta agar lebih fokus untuk menghasilkan karya, dibanding turun ke jalan untuk berdemo. “Saya kira ke depan perlu diperhatikan jangan terlalu banyak di politik. Harus seimbang antara demo dan berkarya,” ungkap Maksum di sela-sela penyampaian materi.

Tidak jauh berbeda, Zainuddin Maliki menekankan kepada para peserta agar memanfaatkan media sosial untuk berlatih menulis. “Tips menulis, duduk fokus menulis jangan beranjak sampai menghasilkan tulisan. Manfaatkan media sosial untuk melatih menulis,” ucap Zainuddin Maliki.

Maksum mengatakan bahwa tidak ada kode etik dalam media sosial. Maka dari itu, diperlukan literasi media dan kecerdasan dalam memilih dan memahami konten-konten yang berada di media sosial. Lelaki yang pernah diskorsing karena tulisannya yang membuat rektornya panas tersebut juga menjelaskan ciri konten-konten hoax, di antaranya yaitu ketika ada himbauan sebarkan atau viralkan. “Meski tidak semuanya seperti itu, namun ada potensi untuk menyebar berita hoax. Makanya perlu kampanye literasi media. Plus minusnya di situ saat aktif di media sosial,” jelas Maksum mengakhiri penyampaian materinya.

Salah satu peserta seminar, Husnawan Dwi, mengaku senang dapat mengikuti seminar ini. “Seminarnya cukup bagus sih, karena dari tema sangat cocok dengan masyarakat masa sekarang yang masih kental fanatisme,” ucapnya kepada Solidaritas di tengah berlangsungnya acara.   (mka)

Comments

comments

Leave a Reply