Marto-Marti dan Panggung Eksekutif Kampus

Opini

Mohammad Iqbal *)

Membahas tentang aktor-aktor lawak Indonesia, pasti setiap orang punya pelawak favoritnya masing-masing. Ada yang suka pelawak yang sering berkata jorok, ada yang suka pelawak yang juga penyanyi ataupun pelawak yang juga nyambi berpolitik. Bahkan ketika ngobrol tentang pelawak dengan orang yang berbeda generasi (untuk tidak mengatakan orang tua) pasti mereka keukeuh mengatakan aktor pada zamannya-lah yang paling lucu. Seperti ketika si Marto, pria usia 25 tahun, memperkenalkan pelawak masa kini-nya kepada Opa-nya. “Hah, masih lucu grup lawak jaman aku masih cem-ceman sama Omamu, gak ada yang nyaingin sekarang!” tutur Opa yang usianya menginjak kepala 8 ini.

Kini telah muncul panggung-panggung komedi perorangan untuk menghibur manusia, dengan segala macam cara membuat para manusia modern tertawa. “Huahaha”, suara ngakak Marto, seorang eks-petani yang kini meraup pundi-pundi rupiah dengan “berkarya” di sebuah perusahaan kuaci terbesar di Nusantara. Sebagai karyawan, orang menyebutnya, ia menyempatkan menonton channel stimulus tawa dari Youtube sepulang kerja. Namun, sekarang Marto sudah berganti channel hiburan favoritnya ke tetangga sebelah. Lebih bervariasi dan seru katanya. Menuju pilkada, sekarang panggung tawa Marto berisi tiga kelompok dengan dua orang perkelompoknya. “Ckakaka” tawa Marto meluap ketika salah satu anggota kelompok memisah dua kelompok lain yang berbisik-bisik mendekat saat tampil di panggung. Iya, panggung Debat Calon kandidat.

Banyak yang menantikan dibukanya tirai panggung debat calon pemimpin eksekutif. Banyak pasang mata bersiap-siap melihat pertarungan argumen-argumen sesuai tema yang dibuat panitia pemilihan. Ketika telah dimulai agenda debat tersebut, ada yang geli tertawa-tawa kecil. Ada yang serius hingga hujan turun dan lupa untuk masukin jemuran.

Mengutip dari perkataan presiden Janc*kers (disensor supaya Jancuk-nya gak kelihatan)—Mbah Sudjiwo Tejo di Rubrik Senggang Jawa Pos  (Minggu 15 Januari 2017)—yang kurang lebih, ada banyak orang yang mengunggulkan debat pra-pemilihan, sebaliknya ada yang berargumen jika debat itu soal kata, kerja soal keringat, mungkin debat mulai ada ketika manusia menuhankan kata-kata, bahkan menyatakan cinta dalam perbuatan saja tak cukup, hingga harus mengatakannya. Namun ada juga yang punya pendapat jika debat adalah segala-galanya, manusia akan lebih suka menonton Messi berdebat dengan Ronaldo bukan menonton mereka berkeringat dalam tindakan konkret di lapangan.

Dari sudut pandang teori konstruktivisme-nya Jean Piaget yang mana proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman, momen debat ini agaknya perlu agar rakyat bisa menyusun beragam pengalaman untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu. Mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua. Mempelajari calon-calon yang pernah ikut campur dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya (eks-Jubir pemilihan presiden juga terhitung), dan apa yang dikatakan dalam debat sekarang. Sekaligus juga dengan calon yang sudah membawa raport saat debat (yang pernah njabat). Kurang lebih seperti itu, toh sekarang rakyat sudah pinter bro, kan sudah dilatih dengan berita Hoax. Uhuk.

Selain itu panggung debat juga untuk menunjukan kecakapan para calon eksekutif menanggapi pertanyaan dari pemirsa(h) ataupun netizen yang menyerangnya. Visi-misi atau janji manis para eksekutif ketika melakukan kampanye colongan saat debat akan terpancang dalam hati rakyat. Hingga nanti ketika salah satu dari calon terpilih menduduki kursi, rakyat akan bisa mengingat dengan “kuat” janji-janji manis para eksekutif sehingga nantinya bisa dipertanyakan lagi jika manisnya janji tersebut berubah menjadi fatamorgana belaka. Duh-duh.

Marti, adik Marto semata wayang yang sekarang menempuh pendidikan tinggi, bercerita kepada Marto di suatu sore ketika nonton Youtube favoritnya. Katanya momen “debat” pemilihan lembaga eksekutif kampusnya tidak ada, hingga ia lupa dan tidak ikut waktu coblosan. Ia cuman ingat ada beberapa poster kampanye tersebar di beberapa tempat. Ada poster yang utuh bahkan ada yang sobek, “Mungkin dimakan rengit yang iseng.” Pikirnya. Poster-poster juga tidak berada di tempat yang layak seperti Mading pusat informasi, menurutnya. Berbeda kala ia masih duduk di bangku menengah atas. Tidak ada poster di pintu kamar mandi juga tidak ada poster di gazebo tempat ia biasa baca buku ketika rehat.

Lantas? Apakah memang itu kesalahan Marti saja sehingga melewatkan pemilihan? Ternyata bukan ia seorang yang melewatkan pemilihan umum di kampus ternama di kota metropolitan kedua itu. Di pertengahan April 2016. Seusai pemilihan eksekutif, ia membaca hasil poling di salah satu karya jurnalistik kampus. Di selebaran CORET milik Solidaritas, ditunjukan hasil poling dari 180 responden—20 mahasiswa perfakultas dari 9 fakultas dipilih secara acak—hanya 33,8%  yang mengetahui pemilihan dan 66,2% nya tidak. Bahkan mengenai calon kandidat, hanya 10% mahasiswa yang kenal-38,8% tidak tahu-dan 51,2% sekadar tahu.

Ia sangat menyayangkan momen-momen pemilihan presiden kampus yang hanya seperti milik sebagian pihak, tidak seperti mamasnya Marto yang ikut menikmati jalannya proses menuju pemilihan eksekutif daerah. Setidaknya ia ingin pemilihan itu menjadi lebih terbuka lagi, bagi Marti khususnya dan bagi teman-temannya yang lain umumnya, membuat warga kampus ikut memiliki lembaga eksekutif itu. Sehingga nanti mahasiswa percaya dan suara-suara mahasiswa bisa tersampaikan ke atas lewat lembaga tersebut. Intinya Marti masih percaya dengan lembaga itu, tuturnya. Yang pasti siapa yang menduduki kursi itu harus berkapasitas, inovatif, serta cakap bertuturkata dan sigap dalam mengambil sikap. Bukanya sibuk dengan urusan internal (perut) saja. Banyak isu di luar sana. Banyak yang perlu diperjuangkan. Dengan pemilihan yang semakin terbuka dan adanya debat calon kandidat mungkin sebagai awal untuk melihat kapasitas-kapasitas calon pemimpin eksekutif selanjutnya. Syukur-syukur diunggah di Youtube dan….

“Huahaha…” belum selesai Marti cerita, Marto menyelak dengan gelak tawa. Ia menyaksikan calon dukungannya terpleset karena grogi berdebat dengan kandidat sebelah.

“Yang penting jangan Lingsem!” Tuturnya kepada Marti seusai puas tertawa. Lingsem yang berarti ketika seseorang mempertahankan sesuatu bukan karena objetivitas  suatu persoalan, orientasi pelaku konflik bukan penyelesaian masalah kedepannya, melainkan subjektivitas rasa untuk tidak mau kalah. Terpolarisasi menjadi kerangka kalah-menang. (Emha Ainun Nadjib, Gelandangan di Kampung Sendiri. Hal 3)

*) Mahasiswa Aktif Semester 6 Fakultas Adab dan Humaniora UINSA

Sering nongkrong di Fakultas Syariah dan Hukum

Comments

comments

Leave a Reply