Mahasiswa Lakukan Aksi, Gang Dosen Tidak Akan Tutup Permanen

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org—Rabu (6/9) saat pagi menjelang siang, UINSA Surabaya yang sedang disibukkan dengan pembangunan fasilitas umum, berupa peninggian jalan dan penggalian saluran drainase, diramaikan aksi demonstrasi menuntut Gang Dosen dibuka. Meski sudah masuk hari ketiga perkuliahan semester gasal Tahun Akademik 2017/2018, gang yang biasa dilewati mahasiswa dari belakang UINSA tersebut masih terkunci. Sehingga akses mahasiswa hanya melalui pintu utama di depan kampus. Meski sebagian mahasiswa nekat memanjat tembok di belakang Fakultas Adab dan Humaniora (FAH).

Aksi yang dilakukan di depan Gedung Twin Tower ini atas prakarsa Aliansi Mahasiswa Peduli UINSA (AMPUN). Demonstrasi dimulai pukul 09:19 WIB dengan menjemput mahasiswa di masing-masing fakultas untuk menambah jumlah massa. Kurang lebih ada 100 orang yang ikut aksi, sesuai penuturan Koordinator aksi, Ach. Ghozali, 21.

Massa berkumpul di depan Gedung Twin Tower (TT) untuk menyampaikan tuntutan mereka. Tuntutan yang disampaikan mengenai Gang Dosen harus dibuka dengan dalih sudah banyak usaha di belakang Gang Dosen yang gulung tikar dan jauhnya jarak bagi mahasiswa yang berdomisili di belakang kampus untuk sampai di ruang perkuliahan. Juga terkait sistem parkiran yang semrawut harus segera diatasi, serta fasilitas yang tidak memadai di dalam fakultas segera diperbaiki, seperti pendingin ruangan yang rusak dan lain sebagainya. Massa mendesak bertemu Rektor karena merasa tidak menemukan solusi bersama Prof. Ali Mufrodi, Wakil Rektor 3, dan Jainudin, Kabag Kemahasiswaan, yang menemui massa di depan Gedung TT. “Saya yang mau masuk atau Rektornya yang turun kesini, setiap permasalahan yang disampaikan sering tidak menemukan solusi,” ujar Nawir, selaku koordinator lapangan aksi.

Demonstran akhirnya masuk ke TT lantai 2 untuk menemui Prof. Abd. A’la, Rektor UINSA, guna menyampaikan tuntutan mereka. Rektor yang saat itu sedang berada di ruangannya langsung menemui demonstran. Namun, sempat menolak untuk berbicara karena tidak mencerminkan sikap mahasiswa UINSA. “Kita membangun kok malah direcokin, tidak membangun direcokin. Kasihan orang tua anda yang membayar, anda sebagai pelanggan jika tidak puas silakan keluar dari UINSA,” ucap Prof. A’la di tengah kerumunan demonstran, sambil menolak adanya mediasi.

Mereka sempat beradu pendapat dengan menunjukkan tuntutan mereka di hadapan Rektor. “Sampeyan dibayar oleh negara, kami membayar kepada negara. Jadi sebenarnya sampeyan yang dibayar oleh kami, kalau sampeyan menyuruh kami keluar dari UINSA berarti sampeyan yang sebenarnya harus disuruh pulang,” jawab salah satu demonstran.

Koordinator aksi, Ach. Ghozali, 21, merasa sangat kecewa dengan ujaran Rektor yang menyuruh demonstran keluar dari UINSA. “Bapak Rektor itu orang terhormat ini malah gak digubris, malah kami disuruh keluar,” paparnya. Ia juga menyatakan akan melakukan aksi lanjutan jika tuntutan tidak dipenuhi.

Aksi kemudian mereda saat 3 perwakilan demonstran melakukan mediasi dengan Rektor di ruangannya. Hasilnya disepakati Gang Dosen akan dibuka bulan Desember 2017 (tanpa penjelasan tanggal, Red), saat proyek perbaikan jalan dan penggalian drainase selesai. Tanggal 7 sampai 8 September 2017 surat proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) akan diurus.

“Mengapa itu (Gang Dosen, Red) tutup karena ada pembangunan, dan yang membangun itu butuh konsentrasi supaya tidak terganggu hal-hal lain dan butuh proses waktu. Penjelasan tadi sudah termasuk yang kita bicarakan, artinya bahwa apa yang diterangkan oleh Pak Rektor merupakan sebuah kesepakatan,” ujar Prof. Ali Mufrodi. Pihaknya juga menambahkan Gang Dosen tidak akan ditutup permanen, sesuai pengumuman hanya ditutup sementara. Mengenai aksi demo Prof. Ali Mufrodi menganggap wajar karena mahasiswa ingin tahu, “Silakan apa yang ingin diketahui disampaikan, nanti akan kita jelaskan,” pungkasnya saat ditemui Solidaritas setelah mediasi. (ada/rzk/zmr)

Comments

comments

Leave a Reply