Kota Bukanlah Sekejam Dikata Orang

Cerpen, Umum

Oleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim*

Sore itu dewi ingin sekali menjaring rasa dendam yang senantiasa bercokol di dalam mata hatinya. Sungguh hati Dewi benar-benar pilu. Tanpa kompromi, pipi Dewi telah basah air mata. Bahkan, pandangannya kosong………ditatapnya langit-langit dipan susun, dipeluknya guling itu erat-erat.

Sejoli itu meluncur terhanyut dalam derasnya kehidupan yang serba terbatas. Ada aroma asmara yang tak kuasa mereka tepis dalam puncak-puncak kenikmatan. Bahagiakah mereka?

“Mhemk……..mhek………nggak mau! Nggak,” Dewi merengek sendiri tanpa ada yang peduli.

Namun Dewi tak habis pikir, kendati perutnya kini telah membuncit. Dewi yang sudah tidak aktif bekerja itu lalu memanjat selimut. Tanpa sadar, Dewi berkata; “Oh…… Aldo maafkan daku.”

“Aldo siapa Wi?” tanya Gita tiba-tiba yang sedari tadi membaca buku di kamar itu. Kendati selama ini Dewi dikenal sebagai anak kost yang pendiam mulai bercerita.

Di desa yang berselimut kabut, kawasan Kabupaten, Dewi dilahirkan. Sayang sekali ketika Dewi masih teramat kecil pernikahan ibunya tak dapat diselamatkan. Perpisahan orang tuanya mengharuskan Dewi tinggal bersama neneknya. Di rumah nenek Rubiah, Dewi tumbuh bak kuncup yang indah. Tak lama kemudian, ibu gadis ayu itu menikah yang kedua kali dengan ayah Nardi, demikian Dewi biasa memanggil. Dari pernikahan ini Dewi memiliki adik yang manis-manis. Sehingga, Dewi kembali menerima kasih sayang orang tua yang dirasa adil. Segala apa yang Dewi inginkan selalu terpenuhi. Karenanya, tak heran apabila Dewi menjadi anak yang patuh kepada orang tuanya.

Sejalan dengan bergulirnya waktu, suatu malam yang penuh dengan angin dingin, lelaki bernama Suryadi adik dari ayah Nardi yang selama ini menaruh hati  pada diri Dewi terang-terangan melamar kepada ayah Nardi. Malam itu Dewi benar-benar jelas menangkap suara Suryadi. Dengan perasaan tak menentu, Dewi berniat untuk melarikan diri sebab tak tahu bagaimana cara mengatasinya.

“Bayangkan Git, saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA,” katanya sembari mengusap air bening yang kian meleleh. Baru saja Dewi hendak membuka pintu kamar, Suryadi nyeruduk mereguk buah ranum Dewi tanpa proses. Apalah daya seorang gadis belia yang tak mampu melawan kekuatan sergapan tubuh kekar Suryadi, yang tidak bermoral malam itu.

Semenjak peristiwa tragis yang baru pertama kali Dewi alami, gadis itu tampak tak bergairah di sekolah…………serta sering mengurung diri di kamarnya. Suatu hari, dengan keberanian seorang bocah, Dewi mengungkapkan peristiwa yang tak diketahui ayah dan ibunya. Melihat kenyataan itulah, Dewi selanjutnya diantarkan ke sekolah barunya di kota lain yang juga terkenal kejam!

Namun, kota yang sekarang bagi Dewi bukanlah sekejam apa yang biasa dikatakan orang-orang. Di kota inilah Dewi menerima uluran tangan kasih Aldo kakak kelasnya. Perjumpaan pertama di antara kedua insane ini memang telah mengisyaratkan berseminya benih asmara. Sehingga hari-hari Dewi senantiasa terisi keindahan cinta yang tanpa basa-basi. Liburan panjang usai ujian kenaikan kelas, mereka memanfaatkan untuk memadu kasih di kota kelahirannya.

Laksana kotak anyaman bambu dengan tutupnya, sejoli itu seia sekata…….. setelah masing-masing bercerita tentang kisah lama. Percintaan keduanya mulus semulus kulit Dewi yang sedari kecil tanpa noda.

Senja telah merangkak menggantikan sinar mentari, malam pun datang. Karena kesempatan bercumbu di rumah nenek Dewi demikian leluasa, sejoli itu meluncur………..terhanyut dalam derasnya kehidupan yang serba terbatas. Lampu yang tadinya menyala terang…… berganti remang-remang…….jari-jemari keduanya saling bertaud aroma asmara seiring dengan hembusan bayu yang menggelitik……..tak kuasa mereka tepis, keduanya terbuai dalam kenikmatan sesaat. Dewi merasakan kebahagiaan luar dan dalam. Demikian pula yang dirasakan Aldo.

“Aku sangat mencintaimu sayang……….” bisik Aldo penuh romantika. Seusai liburan panjang ini, tak jarang mereka melakukan adegan layak sensor di setiap ada kesempatan. Selepas sekolah SMA, Dewi sengaja tidak melanjutkan studinya. Sedangkan Aldo telah duduk sebagai mahasiswa fakultas ekonomi di sebuah universitas. Namun begitu tak jarang Dewi ikut mendampingi Aldo di setiap kegiatan santai yang diadakan masyarakat kampus di mana Aldo kuliah selama ini.

Selang beberapa waktu, diam-diam Dewi diterima bekerja sebagai pramuniaga pada sebuah Toserba. Kendati Dewi sering menyakiti hati Aldo dengan bermain api bersama Totok, juga Hendra, Aldo hanya melihat sambil lalu. Aldo memang percaya penuh pada Dewi. Karena itu, ia menganggap apa yang dilakukan Dewi hanya iseng belaka. Sebab itu pula Dewi semakin mencintai Aldo sepenuh jiwa dan raga.

Dalam kurun waktu yang penuh bunga-bunga, Dewi selalu dapat mengatasi guyuran benih Aldo yang seringkali menghambat datang bulan……… walau sebenarnya Aldo amat segera menikahi Dewi meski Aldo belum memutuskan belajarnya.

Sementara itu, Rakmat bapak dari tiga orang anak, wiraswastawan muda yang kebetulan teman baik Aldo, selalu mencuri pandang terhadap Dewi. Tak jarang Rahmat nongkrong serta berbincang-bincang ria bersama Aldo jika ia menjemput kekasih saat pulang waktu kerja. Melihat cara Rahmat memandanginya, Dewi sering mengeluh pada Aldo. Ya, Dewi begitu benci dan sebel pada pria itu.

Saat itu, tak di duga seorang wanita muda menggandeng bocah berusia 3 tahun memperkenalkan diri sekaligus melabrak Dewi di tempat kerjanya. Sungguh merupakan suatu cara yang tidak terpelajar! Betapa malunya Dewi saat itu. Wanita itu menuduh bermain cinta dengan suaminya. Sepulang bekerja, memang masalah itu dapat diselesaikan secara damai bersama kedua pasangan itu. Istri Rahmat hanya bungkam, sedangkan Rahmat minta maaf atas kecemburuan istrinya yang salah sasaran. Dengan penuh kelembutan, Aldo menenangkan hati Dewi.

Celakanya, istri Rahmat belum merasa puas. Wanita itu setelah mendengar bahwa beberapa minggu lagi Dewi akan menjadi nyonya Aldo, datang ke rumah Pak Hasan hanya untuk memberitahu kalau Dewi pernah mengganggu rumah tangganya. Akibat dari hasutan wanita ini, kedua orang tua Aldo yang melamar Dewi jadi berubah sikap.

“Aldo, sebaiknya Dewi  tidak usah kamu beri hati! Tinggalkan dia mulai hari ini!” pinta Pak Hasan bernada sinis.

“Ayah………….” Aldo menyela.

“Sudahlah Aldo………..seharusnya aku permisi,” kata Dewi sambil beranjak dari tempat duduk lalu setengah berlari meninggalkan rumah Pak Hasan.

“Dewi tunggu………..!” seru Aldo.

“Itu fitnah ayah! Apa yang dikatakan ibu padaku bahwa Dewi menggoda Rahmat itu hasutan dari istrinya yang salah! Dewi benci sekali kepada Rahmat.”

“Aldo, diam kamu!” bentak bu Hasan.

Pembelaan Aldo terhadap Dewi pun sia-sia, setelah ayahnya membatalkan rencana pernikahan itu pada orang tua Dewi. Namun, bagai embun di pagi hari, cinta Aldo terhadap Dewi takkan pernah beku. Sementara itu hati Dewi sakit seolah tak dapat terobati. Dewi dendam! Hingga tiumbul pikiran busuk untuk menghancurkan penyebab huru-hara dalam perjalanan cintanya. Kendati Dewi tahu kekonyolan yang akan dilakukannya itu pasti berdampak buruk. Dewi tetap berniat. Aldo yang masih setia menjemput sepulang kerja maupun menemani dalam situasi apa pun, sia-sia menghalangi niat buruk itu.

“Meski orang tuaku tak menyukaimu lagi, kita bisa menikah tanpa orang tuaku Dewi……..” jelas Aldo di sore cerah.

Hubungan sejoli itu masih terus berlanjut walau dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebelum Aldo pergi ke Bandung untuk KKN, ia sempat berpesan agar Dewi menghapus rasa dendam tersebut. Rupanya, Rahmat yang tempat tinggalnya tak jauh dari rumah Pak Hasan, menggunakan peluang emas untuk mendekati Dewi. Mulanya Dewi hanya mau bersahabat saja, mengingat nasehat Aldo untuk memupus rasa dendam atas fitnahan istri Rahmat. Namun kenyataannya berkata lain…….Rahmat benar-benar tangguh dalam membujuk rayu  kaum wanita yang umumnya lemah.

Dari hari ke hari, Dewi yang tadinya benci sekali jika memandang Rahmat, kini bertekuk lutut tanpa daya……..konon Rahmat memakai ilmu pellet untuk menundukkan wanita. Atas kecanggihan rayuan Rahmatlah Dewi lengah! Adegan yang tak pantas dilakukan berulang kali di sebuah penginapan langganan Rahmat berkencan dengan kekasih-kekasih gelapnya. Tampaknya kali ini Tuhan tidak memberi ampun.

“Sungguh! Aku amat kebingungan saat Aldo kembali ke sini, Git……….anehnya Aldo itu tetap sudi menerima diriku walau kandunganku telah berusia satu bulan,” ungkap Dewi seraya menutup album potret Aldo yang masih sering dibukanya.

“Dengan begitu, lalu?” tanya Gita menyela.

“Yaah, dengan berat hati aku membatasi diri dengan Aldo, sementara Rahmat menyembunyikanku di kost ini hingga kandunganku berusia empat bulan,” paparnya.

Keesokan harinya, Dewi yang beberapa hari lagi menikah dengan Rahmat, mendadak kedatangan Pak RT serta pengelola kost yang mendapat aduan dari istri Rahmat tentang rencana pernikahan suaminya. Siang itu Dewi melangkah tenang, walau dengan rambut yang awut-awutan. Akhirnya, Dewi harus mau menerima kenyataan untuk berpisah dengan teman-teman kostnya yang beda latar belakang dan profesi.

“Selamat jalan Dewi…………” ucap Gita yang semalam menyimak kisah cinta duka penuh perhatian. Ya, Dewi kini telah kembali pulang ke kota kelahirannya bersama Rahmat dengan membawa akibat buah terlarangnya. -*–*-

*Jakarta, Palmerah, Binus, 08 Nopember 2015

Comments

comments

Leave a Reply