Konsep Pelantikan Beda dari Solidaritas

Kegiatan Organisasi

      Bulan Januari menjadi bulan pelantikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) di lingkungan UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Pemberian legitimasi ini menandai berakhirnya kepengurusan lama dan dimulainya kepengurusan baru dalam sebuah organisasi. Begitu pula dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas yang mengadakan pelantikan di Gedung SAC lantai tiga (19/1).

      Namun ada yang berbeda dari pelantikan LPM Solidaritas yang berlangsung di masa liburan kuliah ini, panitia mengemas acara pelantikan dengan diskusi dan talk show bersama. Narasumber yang didatangkan berasal dari pegiat pers umum, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang diwakili oleh Andi Nuroni, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya yang diwakili oleh Fathul Khoir, serta Wakil Rektor (Warek) III UINSA, Ali Mufrodi.

      Talk show bertajuk Pembredelan Pers Mahasiswa dengan tema “Revitalisasi Pers Mahasiswa sebagai Media Alternatif” ini mengulas tentang maraknya kasus pembredelan pers mahasiswa di dunia kampus dari tahun 2012-2015. Menyikapi kejadian tersebut, Andi menuturkan bahwa ini sebagai sebuah momentum kebangkitan pers mahasiswa dari kenangan heroisme. Di mana pers mahasiswa dituntut untuk bisa menjawab kebutuhan informasi mahasiswa dan keran kebebasan berekspresi benar-benar diuji.

      Dari pihak kampus sendiri Warek III, Ali Mufrodi, menuturkan, “Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pembredelan pers adalah dengan dialog antara pihak pers mahasiswa dengan penguasa kampus.” Dialog ini dimaksudkan supaya berita yang ditulis dan akan diterbitkan bisa dibaca dan diteliti kelayakannya dimuat di media kampus.

      Sedangkan dari pihak Kontras, Fathul Khoir, sangat menyayangkan terjadinya pembredalan pers mahasiswa oleh petinggi kampus. Dirinya merasa heran dengan kejadian yang mencerminkan ketidaksenangan pihak kampus ketika mahasiswanya kritis. Semestinya kampus menjadi tempat kebebasan berekspresi dan pihak kampus sebagai fasilitatornya perlu memfasilitasinya. Ia menambahkan, “Seharusnya pihak kampus merasa bangga ketika mahasiswanya kritis, karena ketika kader bangsa tumpul daya kritisnya sejak jadi mahasiswa maka akan berlanjut sampai jadi pemimpin bangsa,” ujarnya di sela talk show.

    Khoir juga menghimbau pers mahasiswa untuk memiliki data konkret ketika menulis berita sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan pihak kampus sendiri bisa menggunakan hak jawab yang lebih akademis ketika tidak setuju dengan pemberitaan mahasiswanya, bukan dengan pembredelan yang menjadi bukti bahwa rezim lama masih bercokol di negeri ini.

     Talk show yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut diselingi tanya-jawab dari peserta dan diakhiri dengan pelantikan Pengurus LPM Solidaritas UINSA periode 2016 oleh Warek III. (MA)

Comments

comments

Leave a Reply