Kita yang Masih Mendamba Negara Toleran

Opini

Moh. Mizan Asrori*

Kita yang Berbeda

Menjadi berbeda dalam kehidupan di dunia ini merupakan sebuah keniscayaan dan tak mungkin terbantahkan. Begitu banyak aspek dalam kehidupan yang berbeda antar satu sama lain, dalam pengetahuan, pendapat, gagasan, kebudayaan, bahasa, agama dan lain sebagainya. Sehingga dalam praktiknya seharusnya perbedaan tidak menjadi sumber permasalahan, tidak pula menjadi pendorong untuk bertikai.

Terlebih kita hidup di sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Indonesia dengan ±17.000 pulaunya telah menampung manusia dari berbagai latar belakang suku, budaya, bahasa dan agama. Negara ini juga berdiri atas pengorbanan para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan tanpa memandang latar belakang.

Namun keadaan akhir-akhir ini membuat kita mengelus dada, beragam kejadian terekam sebagai sejarah yang tak mungkin terlupakan. Sikap intoleran yang dipertontokan sebagian pihak telah menuai kecaman sebagai sebuah tindakan yang tidak berprikemanusiaan. Pengeboman gereja Oikumene Samarinda (Tempo.co, 13/11/2016), pengusiran penganut Syiah di Sampang dari tanah kelahirannya yang sampai hari ini (tahun kelima) belum bisa kembali (Tribun Jatim, 21/3/2017), telah menyentuh naluri kita sebagai manusia. Sikap intoleran seperti ini yang patut diwaspadai dan diantisipasi.

Sebagaimana kita tahu, telah lumrah terjadi dalam masyarakat Indonesia yang menganut demokrasi, adanya perbedaan pilihan. Perbedaan pilihan kerap kali menuai ujaran-ujaran kebencian antar pihak. Tak hanya di lorong-lorong rumah warga, ujaran kebencian telah menyebar ke media-media sosial. Begitu mudahnya lontaran kebencian terucap dari seseorang yang asal muasalnya hanya karena berbeda pilihan. Dari pemilihan kepala desa sampai pemilihan presiden hampir mempunyai kesamaan.

Ironisnya, untuk menguatkan argumentasi bahwa pilihannya paling baik dan keyakinannya adalah yang paling benar tidak sedikit pihak menggunakan tindakan anarkis. Menghujat, memukul, melempar botol dan benda-benda yang tidak selayaknya mengenai manusia, telah marak kita lihat melalui media-media, baik cetak maupun online. Tindakan memaksakan kehendak ini menjadi upaya memainkan peran Tuhan, sebagai satu-satunya pemilik kebenaran, yang semestinya hal ini (perbedaan) ditangani dengan cara terbaik sesuai kemampuan manusia sembari menyerahkan penilaian akhir kepada Tuhan (Mohamed Fathi Osman, 2006: 27).

Melihat kenyataan ini membuat Zuhairi Misrawi dalam bukunya Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme dan Oase Perdamaian (2010: 9) mengklaim lebih mudah menjadi intoleran daripada menjadi toleran. Terlebih lagi sudah terlampau sering sikap intoleran diperlihatkan sebagian ormas dan golongan. Maka dari itu intoleransi menjadi hal yang mendesak untuk segera diselesaikan, supaya tidak semakin meluas dan menggerogoti nilai-nilai toleransi yang diletakkan para founding father bangsa ini.

Good Will Sebagai Solusi

Menanggapi kondisi bangsa yang demikian tentu kita perlu urun rembuk bersama mengenai solusi terbaiknya. Sebab memang tidak mudah menyatukan perbedaan dalam satu naungan. Hal ini lumrah terjadi dalam spektrum organisasi dan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pemimpin. Namun karena ini konteksnya negara tentu kita sebagai warga negara memiliki tanggung jawab bersama memecahkan masalah ini.

Merujuk pada arti toleransi sendiri dimana ia merupakan pandangan tentang pengakuan hak orang lain untuk menentukan nasibnya masing-masing. Hak yang dimaksud senyampang tidak melanggar hak orang lain, sehingga akan terbangun suasana kehidupan yang tetap ramah dalam bingkai perbedaan.

Ini menandakan pengakuan tentang keberagaman saja tidak cukup, dibutuhkan tindakan konkret atas kebebasan setiap orang untuk menjalankan keyakinannya tanpa merasa khawatir keselamatannya terancam, bahkan saat ia menjadi minoritas. Contoh saja dalam hal agama, Indonesia memiliki ragam agama yang cukup banyak; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Tidak selayaknya pemeluk Islam mengaku paling berhak mendirikan rumah ibadah hanya karena mereka mayoritas. Negara telah menjamin kebebasan beragama dan beribadah bagi setiap warga negaranya sesuai keyakinannya masing-masing.

Demikian juga saat seseorang menjadi minoritas dalam mendukung seseorang maju sebagai calon kepala daerah, ia tetap berhak menyampaikan aspirasinya. Tidak ada yang berhak mencekal hanya karena alasan dia minoritas. Sejatinya kehidupan bernegara memang sudah seharusnya satu paket dengan nilai-nilai toleransi, diperkuat lagi Indonesia sebagai negara hukum sangat menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat bagi warga negaranya selama tidak mengganggu hak orang lain.

Ketika telah memahami betul arti toleransi, orang yang toleran dalam arti sebenarnya tidak akan pernah memaksakan kebenaran yang diyakini, sebab ia tahu dan sadar bahwa tidak ada hak bagi siapapun di dunia ini untuk memonopoli kebenaran. Hal ini dilandaskan bahwa keyakinan merupakan salah satu komponen hak masing-masing individu sepenuhnya.

Umumnya, perbedaan di kalangan masyarakat kurang bisa dipahami satu sama lain karena kurangnya dialog antar kedua belah pihak. Perbedaan seringkali menjadi topik utama dalam sebuah pembahasan satu kelompok mengenai kelompok lain, tanpa ada usaha memahami yang lain melalui dialog. Dialog seperti ini penting untuk pengertian yang lebih baik dan menampik pemaksaan menyakitkan dan tidak adil terhadap keyakinan (Mohamed Fathi Osman, 2006: xxiv).

Dialog dibutuhkan untuk mengelola perbedaan yang acap kali menimbulkan gesekan. Disamping itu juga dialog merupakan metode yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia. Dalam tradisi masyarakat Indonesia terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan. Tentu kekeluargaan yang dimaksud adalah saat kita bisa bicara dari hati ke hati, bisa mendengarkan niat baik satu sama lain.

Selain untuk memahami perbedaan antar dua belah pihak, dialog juga menghasilkan pandangan tentang persamaan dalam kemajemukan masyarakat Indonesia, tidak selamanya hidup ini hanya tentang kompetisi kadang juga harmoni dan kerja sama. Banyak hal yang sama di antara sekian perbedaan, sifat-sifat dan ciri khas yang sama itulah penting ditonjolkan dan selalu diangkat.

Solusi dialog dan interaksi sosial ini sebagai usaha mewujudkan toleransi yang bukanlah hal mudah untuk ditegakkan dalam sebuah negara majemuk seperti Indonesia. Hal ini senada dengan pandangan Zuhairi Misrawi (2006: 7) yang berpendapat mengenai dua hal penting sebagai modal membangun toleransi. Pertama, dalam toleransi dibutuhkan interaksi sosial melalui percakapan dan pergaulan yang intensif. Ini dimaksudkan sebagai upaya yang efektif dalam membumikan nilai-nilai toleransi, dan sebagai keseriusan membangun toleransi dari masyarakat bawah.

Kedua, membangun kepercayaan di antara berbagai kelompok dan aliran. Ini yang seringkali menimbulkan ketegangan, manakala dua kelompok besar telah bersitegang akan rentan mengakibatkan pergesekan yang melibatkan orang banyak, bahkan di luar kelompok itu sendiri. Sehingga perlu adanya kepercayaan antar dua kelompok yang memiliki perbedaan supaya tidak terjadi saling menyerang yang berujung pada sikap intoleran.

Dua hal ini, dialog dan upaya membangun kepercayaan bisa terwujud ketika kedua belah pihak sama-sama memiliki good will (niat baik). Niat baik untuk saling mendengarkan, niat baik untuk tidak saling mencurigai dan niat baik untuk sama-sama memiliki pandangan baik terhadap yang lain.

Memang niat baik saja tidak cukup, namun ia akan menjadi landasan untuk tindakan baik selanjutnya. Niat baik ini dimiliki oleh semua orang sebagai esensi kehidupan manusia, bukankah semua manusia memiliki hati nurani dan dari hati nurani inilah niat baik bertolak (Wahidah Zein Br Siregar, 2016: 16). Rasa khawatir dan ketakutan berlebih dari satu pihak yang berbeda untuk bisa hidup bersama perlu dikikis, munculkan rasa optimis tinggi tentang hidup harmonis dan bersama dalam sebuah tatanan masyarakat yang toleran.

Good will ini juga bisa digunakan sebagai upaya penyelesaian konflik, meredam konflik dengan niat baik. Sebab seburuk-buruknya orang pasti tetap memiliki niatan baik dalam hatinya, bukan larut dalam konflik dan membuat kondisi terus memanas.

Niat baik inilah yang mesti dilihat jika konflik ingin benar-benar tuntas, termasuk dalam tindakan intoleran yang merugikan orang lain. Berbekal good will  ini sikap toleran bisa dipupuk dan ditanamkan dalam diri generasi penerus bangsa di abad 21.

Negara Toleran, Negara Impian

Saat ini toleransi di Indonesia bagaikan buah durian yang diharapkan jatuhnya. Bukan apa-apa, realita yang ada masih jauh untuk mengatakan negara ini sudah 100% toleran. Harapan itu masih bisa merekah jika generasinya benar-benar memiliki komitmen menggerus sikap intoleran, sebab usaha mewujudkan bangsa yang toleran adalah usaha kontestasi untuk mengatasi intoleransi itu sendiri (Zuhairi Misrawi, 2010: 11).

Kini beban berat itu dipikul bersama sebagai tanggung jawab moral melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah sukarela memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, tanpa pernah peduli orang yang berdiri di sampingnya berasal dari suku mana dan beragama apa. Bukan berarti agama di sini menjadi tidak penting, menurut Gus Dur, keberagamaan cukuplah sebagai perangkat etika bukan malah menjadi institusi negara yang cenderung hegemonik. Ini berarti keberagamaan sejatinya bisa tetap hidup bersinergi dengan realitas masyarakat yang ada, tanpa ada upaya untuk menggerus atau bahkan menghabisi keragaman—agama, etnis atau suku—yang tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai normatif Islam (Wasid, 2010: 119).

Generasi abad 21 menjadi generasi penentu gerbang masa depan, karena tantangan yang dihadapi cukup berat. Perang media, berkurangnya budaya literasi, dan maraknya isu-isu radikalisme telah memicu dan menantang para penerus bangsa untuk tetap berdiri tegak sambil berujar “Saya siap mengawal perubahan bangsa menuju bangsa toleran”. Jika generasi abad 21 berhasil maka generasi setelahnya tinggal melanjutkan perjuangan suci ini dan mengupayakan toleransi bisa mengakar kuat sebagai sebuah karakter bangsa Indonesia, semoga.

*) Pegiat Pers di LPM Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sumber gambar: http://krjogja.com

 

 

Comments

comments

Leave a Reply