Kisah dari Kota Gadis – KKN UINSA

Berita Kampus, Refleksi

Menulis tentang pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN)? Ah, rasanya pengalaman ini tidak akan habis jika ditulis. Ceritanya terlalu indah nan berkesan. Tapi baiklah, akan kuceritakan sedikit saja. Ini hanya sedikit dari pengalaman KKN yang saya alami.

Perlu diketahui, desa yang saya tempati adalah desa terkecil di Madiun. Bayangkan saja, di sini hanya ada 4 RT dengan penduduk tidak lebih dari 100 Kepala Keluarga. Desa yang bernama Kuncen ini berada di wilayah kecamatan Mejayan kabupaten Madiun. Meskipun merupakan desa terkecil tapi desa ini memiliki keistimewaan yang luar biasa. Saya yakin keistimewaan ini tidak terdapat di desa lainnya. Di desa inilah K Anom Besari, sang pembabad kota Madiun dimakamkan. Kebayang kan? Betapa istimewanya desa kita, Orang yang mbabad alase Madiun dimakamkan di desa ini.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan di tempat KKN ini. Tapi perlu digaris bawahi nih, pengalaman yang saya dapatkan bukan tentang cinlok seperti yang pernah dibahas oleh PU Solidaritas(*1), yah. Ah rasanya pengalaman cinlok dalam KKN itu sudah terlalu mainstream.

Salah satu pengalaman yang angker tapi lucu adalah pengalaman tentang berita meninggalnya juru kunci makam K Anom Besari ini. Jadi gini ceritanya. Waktu itu teman-teman KKN sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara siaran dari masjid dekat posko kami. Kami menghentikan kegiatan kami sejenak. Dengan seksama kami mendengarkan berita apa yang disiarkan lewat pengeras suara masjid itu. Karena siaran tersebut disuarakan dengan menggunakan bahasa Jawa halus akhirnya kami tidak terlalu mengerti. Kami ngertinya hanya disebutnya nama juru kunci beberapa kali. Karena ini berita tentang kematian, kami mengira itu adalah berita tentang meninggalnya juru kunci makam. Apalagi tiga hari sebelum itu kami datang ke beliau untuk melakukan wawancara. Saat melakukan wawancara itu kami melihat kondisi juru kunci sedang sakit-sakitan. Hal itu jugalah yang menguatkan kami tentang berita meninggalnya juru kunci. Kami pun berencana untuk melayat kerumahnya. Sesampainya di depan rumah juru kunci, kami terkejut bukan main. Juru kunci yang dikabarkan meninggal ternyata sedang minum kopi dengan santainya di depan rumah. Langsung saja kami putar balik dan tertawa sepuas-puasnya. Kami bertanya-tanya dengan tetangga,  akhirnya kami tahu yang meninggal bukan juru kuncinya tapi saudaranya yang berada di Ngawi dan dimakamkan di sini.

Itulah kawan, pentingnya kita tabayyun pada informasi yang kita dapat. Jangan asal diterima saja. Kita harus tahu terlebih dahulu kebenarannya. Seperti jurnalis yang tidak akan asal-asalan menyampaikan berita yang belum dikonfirmasi kepada yang bersangkutan. Pers mahasiswa (Persma) tidak akan menelan berita mentah-mentah dan tidak akan menyampaikan berita tanpa kebenaran. Ah, kalian pasti sudah lebih tahu tentang hal ini.

Itu hanya salah satu bagian kecil cerita berkesan kami. Masih terlalu banyak cerita-cerita yang akan menguras banyak tenaga jika semua diceritakan. Pada intinya KKN sudah mengajarkan banyak hal. Termasuk mengajarkan bagaimana kita bisa bersosialisasi kepada masyarakat. KKN tidak hanya datang, menjalankan program, menulis laporan lalu pulang dan mendapatkan nilai. Lebih dari itu, KKN menuntut kita untuk belajar bagaimana menjadi masyarakat yang baik dan bisa memajukan desa tempat kita mengabdi. Dengan adanya KKN ini, Perguruan Tinggi bisa membantu pemerintah dalam memajukan desa-desa yang sering diabaikan untuk lebih berkembang bahkan maju.

Sebelum kuakhiri, ada cerita aneh dari desa ini, yakni mitos nama desa ini yakni “Kuncen”. Menurut kepercayaan masyarakat disini, Kuncen itu berarti terkunci. Artinya mereka terkunci untuk melakukan usaha apapun. Dengan potensi makam yang sekarang dijadikan wisata religi, masyarakat di sini masih menutup mata akan peluang ini. Mereka berpikir bahwa usaha yang dilakukan di desa ini tidak akan berhasil. Karena mereka sudah terkunci. Kami, dari teman-teman KKN akan berusaha untuk memecahkan mitos ini. Mengubah pengertian bahwa Kuncen itu berarti Kunci, yang artinya Kuncinya Madiun. Jadi kami yang akan membuka peluang itu dan orang-orang Kuncenlah yang memiliki kunci dari kota gadis ini, Madiun.

Oke, cuma ini yang bisa saya ceritakan tentang sekelumit pengalaman KKN yang saya alami di ini. Pada intinya KKN membuatku lebih mengerti bahwa kekuasaan Allah memang maha dahsyat, yang menciptakan kepribadian manusia dengan keunikannya sendiri-sendiri. Untuk menghadapi masyarakat dengan segala keunikannya ini pun butuh cara yang berbeda-beda. Mahasiswa dituntut untuk bisa itu.

Penulis: Elijah Rizqiyani

*1       https://web.facebook.com/notes/ahmad-farid/selayang-pandang-soal-kkn-di-madiun/1148189685242852

Comments

comments

Leave a Reply