Kemenangan Ini Selalu Untuk Bunda

Cerpen

By: Riski Ganesha Putri

Tumbuhan yang bisa memproduksi makanan dengan dirinya sendiri disebut dengan tumbuhan autotrof. Proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau disebut juga dengan fotosintesis. Zahra dengan giat mencoba untuk mengingat kata per kata dari buku biologi miliknya.

“Zahra sayang,“ panggil  bunda dari lantai bawah.

“Masih belajar Bunda, sebentar,” seru Zahra yang sedang membolak-balikkan kumpulan kertas bergambar tumbuhan.

“Turun Nak, makan dulu sayang.”

Bunda menuangkan air putih di gelas kaca bermotif bunga mawar, Bunda menunggu kehadiran Zahra dari kamarnya, bunda mencoba untuk mengecek keberadaan Zahra di dalam kamarnya. Sampai di depan pintu kamar Zahra. Bunda pun tersenyum,  Bunda melihat anaknya yang sedang fokus membaca buku. Hal itu membuat Bunda bangga mempunyai anak seperti Zahra. Bunda diam-diam melangkahkan kakinya ke kamar Zahra.

“Zahra sayang, nasinya nanti dingin,”

Zahra secara reflek berdiri. Ia kaget karena Bundanya tiba-tiba berada di belakangnya.

Astaghfirullah Bunda buat Zahra kaget.”

Zahra langsung memeluk bundanya erat sekali,sampai detak jantung Zahra bisa dirasakan oleh bundanya.

“Zahra belajarnya serius sekali sih, jadi kaget ya,” Bunda mengelus-elus rambut Zahra.

“Iya Bunda, besok Zahra ada lomba olimpiade lagi di sekolah.”

“Wah, Anak bunda pasti jadi nomor satu. Nah, biar lebih istiqomah dan fokus belajarnya, makan dulu yuk, kasihan bunda dong udah masak tapi belum ada yang mau makan masakannya Bunda,” ajak bunda ke meja makan.

Meskipun rumah Zahra luas tapi di dalamnya hanya ada 4 ruangan yang terdiri dari kamar Zahra, kamar orangtua, ruang dapur dan ruang tamu. Setiap hari Zahra menghabiskan waktunya di kamar. Kamar Zahra didesain sesuai keinginan Zahra, di sekeliling kamar ada rak buku dengan ranjang di tengah-tengahnya, ditambah almari pakain diletakkan di samping kamar mandi. Di dalam rumah Zahrah hanya ada 3 anggota keluarga, maka Zahra semakin merasa leluasa di rumahnya sendiri. Di luar halaman rumah ada taman kecil yang biasa digunakan Zahra untuk belajar kelompok bersama teman-temannya. Teman-teman Zahra sangat menyukai Zahra karena selain pintar, Zahra tidak sombong. Ia sering mengamalkan ilmunya untuk teman-temannya.

***

Sore itu hujan sedang mengguyur sebagian kota Jombang, di antara hujan itu sayup-sayup terdengar lirih suara qori yang sedang membacakan surat Al-mulk. Mungkin senja telah dimakan kegelapan hingga malam. Seorang istri berdiri di balik jendela sedikit mengintip ke arah jalan. Ia menanti suaminya yang tak kunjung pulang setelah mencari nafkah seharian penuh di dinas pendidikan pusat.

Seorang lelaki muda dan ganteng mengetuk pintu rumah,

Tok.. tok.. tok..

Assalamualaikum,”

Bundapun bergegas membuka pintu.

“Ah Ayah, Masyaallah ini kenapa bajunya basah sekali?” Bunda dengan sigap mengambil handuk di jemuran yang sudah kering.

“Ban mobil bocor Bunda, tadi Ayah hampir naik ojek, tapi ada bapak-bapak tetangga komplek sebelah yang membantu.”

Alhamdulillah Yah, ayah ditolong oleh orang-orang baik seperti mereka, semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada mereka,” seru Bunda.

Amin.”

Setelah itu Ayah mencuci kaki dan tangan di wastafel yang ada di dekat taman di halaman rumah. Setelah itu Bunda mencium tangan Ayah lalu masuk ke dalam rumah.

“Ayah mandi dulu Yah, Bunda siapkan dulu makanannya, Ayah lapar kan?” Sambil tertawa niatnya menghibur ayah yang sedang kecapekan.

“Tak hanya lapar, ayah lelah sekali he-he-he,” jawab ayah sambil ikut  tertawa.

Makanan pun sudah selesai disiapkan oleh Bunda, tak lama kemudian Ayah datang ke dapur untuk mengisi amunisi. Bunda hanya melihat suaminya yang sedang menyantap lahap makanannya

“Zahra sudah makan Bun? Dia kok tumben ngga kedengar suaranya?” Tanya ayah di sela-sela kunyahannya.

“Zahra sudah makan, sementara ini biarkan Zahra fokus dulu Yah, ia sedang mempersiapkan untuk olimpiade besok, tapi Ayah ya jangan lupa untuk dukung dia ya besok,” pinta Bunda.

“Wah anak kita rajin sekali ya, beda sekali sama ayahnya yang dulu SMA malah sukanya nge-game  he-he-he,” Ayah bicara begitu polos.

“Ayah walaupun begitu ya tetap nomer 1 kan di kelas?” Goda bunda.

“He-he-he ya harus begitu,” jawab Ayah singkat.

Meskipun kelelahan Ayah selalu berusaha jadi suami terbaik untuk bunda, seusai makan Ayah membantu Bunda merapikan piring dan gelas yang kotor.

“Sudah biar Bunda saja,” ucap bunda menepis lembut tangan ayah.

Hmm Ayah kan hanya bantu Bunda,” protes ayah.

Bunda tetap tidak mengijinkann suaminya yang lelah itu untuk membantunya mencuci piring.

“Yasudah kalau mau bantu Ayah tunggu saja di dalam kamar, bunda sudah menyiapkan tugas yang besar untuk Ayah,” wajah bunda nada pura-pura mengancam.

“Wow, tugas besar apa ya? Kayaknya serem nih,” canda Ayah sambil berjalan menuju kamar.

Di dalam kamar hanya ada selimut bayi yang di letakkan di atas sprei,tidak ada yang nampak berbeda dari kamar pribadi ini. Dalam benak ayah berpikir, kenapa ada selimut bayi di atas ranjang? Pintu kamar terdengar terbuka, bunda muncul dari belakang pintu.

“Ayah sudah tau tugas yang besar itu apa?” Canda bunda menyegarkan suasana dengan senyum merekah.

“Belum bunda, tapi ini kok ada selimut bayi ya Bun?” Tanya ayah dengan mengernyitkan dahi.

“Dengarkan baik-baik ya, tugas Ayah adalah jangan pernah lupa untuk menyelimuti hati dan detak jantung kedua yang ada di dalam rahim Bunda,” bunda membuat penyataan itu seperti orang yang sedang membacakan UUD 1945.

“Bunda hamil lagi sayang?” Tanya ayah spontan dan tanpa menunggu jawaban dari bunda, ayah langsung sujud syukur dan mengekspresikan rasa syukurnya hanya kepada Allah SWT.

Malam ini, lelah Ayah tergantikan oleh kebahagiaan yang tiada tara, setelah Zahra yang terlahir sebagai anak terpintar di sekolah Ayah berharap anak kedua ini akan menjadi hafidzah yang dirindukan oleh surgaNya, Bunda hanya bisa mengiyakkan keinginan Ayah yang suci dan insya Allah barakallah. Amin

***

Hari Jumat tanggal 9 Oktober 2015, Zahra berhasil menjuarai olimpiade biologi, ia predikat pertama dari 20 siswa pilihan se-provinsi Jawa Timur, setelah menerima penghargaan dari gubernur. Zahra dan teman-temannya pergi ke Masjid, ia ingin mendekat kepada Allah SWT. Zahra mengambil wudlu dan shalat. Zahra menitikan air mata pada saat mengucapkan ashaduallah illahailallah pada tahiyyat akhir. Meskipun ia sudah menjadi juara 1 ia masih berharap semoga ayah dan bundanya bangga kepada dirinya.

“Ya Allah, aku bersyukur atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan keluargaku, lindungilah aku dan keluargaku dari segala macam ujian yang memberatkan kami, semoga kenikmatan ini terus berlanjut sampai nanti, rabbanaatinafidzunyahasanah wafilakhirotihasanah wakina adzabanar wa subhanarobbikayasifun waalal alihi wasohbihi ajmain, aminn amin Ya Rabbal alamin, Seusai doa Zahra didatangi oleh sahabat-sahabatnya.

“Zahra keren sekali, juara 1, selamat ya,” ucap salah satu sahabatnya.

“Cieee Zahra rek, makan-makan nih,” timpal yang lain

Yay, akhirnya subhanallah, teman kebanggaanku, keren banget dah,”

Yoooooo. Keren sekali yoo.

Zahra tertawa terbahak-bahak melihat mereka semua yang bergantian bersahut-sahutan mengucapkan selamat kepada dirinya. Ia hanya bisa mengucapkan terimakasih pada saat itu, karena banyak sekali teman dan sahabat yang mengucapkan selamat, Zahra tidak hanya pintar dalam pelajaran saja Zahra juga aktif di dalam organisasi dan ekstra di sekolahnya. Bahkan di sekolah tak ada guru yang tak mengenal Zahra.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 4 sore. Waktu pada hari itu terasa lebih cepat dari hari sebelumnya. Zahra mengayuh sepedanya menuju rumah, ia ingin segera sampai, setelah tiba di dekat rumahnya, Zahra melihat bunda sedang mengobrol dengan penjual sayur yang sedang menjajakan sayurannya di depan rumah. Zahra mengayuh sepedanya lebih cepat walaupun ia membawa piala yang besar dan bertingkat membuat ia sulit untuk menjaga keseimbangan, namun Zahra bisa mengatasi hal itu dan sampai dengan selamat di rumah.

Sesampainya di depan rumah, Zahra langsung memeluk bunda dan berkata nyaring “Assalamualaikum, kemenangan ini buat bunda,”

Zahra mengucapkannya sambil menangis, tak dihiraukan lagi sepedanya. apalagi tukang sayur dan ibu-ibu yang sedang belanja.

“Zahra, anakku sayang, Bunda bangga sekali dengan Zahra,” wajah bunda bersemi.

“Wahh, Nak Zahra itu pintar ya, selamat ya Nak.” Ucap si penjual sayur dengan senyum mengembang.

Alhamdulillah, semuanya atas kehendak Allah,” ucap bunda dengan ramah.

“Selamat ya Bu, anaknya pintar sekali.” Ucap dari ibu-ibu yang berada di samping Bunda.

“Iya Bu, wajib banggalah punya anak seperti Zahra, saya aja ingin sekali anak saya ikut lomba-lomba seperti Zahra, tapi ya gitu PS terus yang dipantengin.” Ibu-ibu lain ikut menimpali. Bunda pun hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk tanda setuju.

Tiba-tiba pandangan Zahra teralih dengan kucing yang melintas di depannya.

“Bun, kucing yang ada di jalan itu milik siapa? Bulunya panjang banget,” Zahra melangkahkan kakinya menuju kucing tersebut.

“Oh.. itu kucing milik anaknya bu Tantri, kucing anggora Neng, dibuang oleh  bu Tantri, tau sendiri kan bu Tantri sangat tidak menyukai kucing,” jawab penjual sayur  sambil menunjuk rumah bu Tantri yang bertetangggaan dengan Zahra.

Engga suka kucing tapi beli kucing ya Bu?” Tambah si penjal sayur.

“Padahal kucing itu lucu-lucu ya Pak, emmm Bun, Zahra boleh mengasuh kucing itu?” Tanya Zahra pada bundanya.

“Boleh asalkan Zahra bertanggung jawab untuk makanan dan kebersihannya,” bunda mengiyakan, Zahra langsung mengambil kucing lucu itu dengan riang.

***

Zahra bermain dengan kucingnya di halaman rumah.

“Entah kemana kucing yg warna putih polos itu berlari?” seru Zahra pelan tapi sedikit kesal karena khawatir kucing itu hilang.

Pus.. puss.. aduh puss.. meow, jangan buat aku khawatir,” seru Zahra mengeraskan suaranya.

Pusssss,“ Zahra kembali berteriak.

Zahra lelah, pencariannya tak berujung, ia semakin khawatir karena senja telah merapat di ufuk barat, kendaraan pun mulai melaju lebih cepat, bangunan tinggi yang berplakat “Koperasi Simpan Pinjam” telah dilewati oleh kaki mungil Zahra, wajahnya terlihat begitu kusam penuh dengan keringat, Zahra mondar-mandir di komplek perumahannya.

“Dimana ya induk kucing itu bermain hingga jauh?” batin Zahrah.

Matahari sudah tenggelam, banyak orang-orang sudah mulai berjalan menuju masjid di kompleks perumahan untuk menunaikan shalat. Tak sedikit orang yang menyapa Zahra dengan ramah, ia hanya memasang senyum seadanya, ketika Zahra sampai di jalan dekat rumah ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan jalanan sudah sepi, Zahra memutuskan untuk menyeberang.

Meow-meow-meow,” suara kucing terdengar dari kejauhan.

Akhirnyaaa, kucing itu ternyata bisa pulang sendiri, Zahra pun langsung menoleh kebelakang,

“Nah akhirnya kucing itu ketemu juga, Alhamdulillah,”  seru Zahra.

Kucing itu hanya memiliki insting, mereka tidak memiliki pikiran yang pintar seperti Zahra yang dikaruniai otak, kucing itu langsung menyeberang menuju Zahra tanpa melihat kendaraan dari arah kirinya.

Kaki Zahra langsung reflek, ia lari untuk menyelamatkan kucing itu dari kendaraan sepeda motor yang melintas. Namun, saat itu ada tangan yang hangat dipundak  Zahra, tangan itu keras mendorongnya menjauh dari  ban sepeda motor yang dikemudikan oleh bapak-bapak setengah baya.

****

“Zahra makanannya keburu dingin,” seru bunda.

“Zahra,” panggil bunda namun belum ada respon dari zahra.

Akhirnya bunda memutuskan mengecek untuk ke luar dari rumah,

“Zahra, ayo makan dulu…..” suara bunda tercekat karena hanya ada kucing-kucing Zahra yang ada di halaman.

Kucing Zahra ada 5, 1 induk kucing dan ke 4 lainnya anak dari induk kucing tersebut, bunda menghitung kucing itu terdapat hanya 4. Hanya kucing-kucing bayi yang sedang tidur di ranjang mininya.

“Kemana Zahra dan induk kucing itu keluar?” Tanya bunda pada dirinya sendiri.

Dari tepi jalan Zahra melambai tangan kearah bunda. Dan memasang senyum kecut di bibir mungilnya.

Alhamdulillah Zahra pulang juga, tapi Zahra hanya sendiri lalu induknya?”Batin bunda.

Dari luar halaman yang tak ada pagarnya, senyum Zahra mengembang namun penuh penyesalan, namanya seorang ibu, pastilah tau kecemasan yang disembunyikan Zahra. Bunda langsung berjalan menuju anaknya itu, tiba-tiba ingin sekali rasanya bunda memeluk Zahra pada saat itu.

“Sungguh mulia anak hamba ini ya Allah, terimakasih telah kau ciptakan insan suci ini untuk hamba, ia rela melupakan makanan kesukaanya hanya untuk mencari induk kucing ini, ia sadar bahwa tanpa kehadiran seorang induk, siapakah nanti yang akan merawat dan melindungi anak-anaknya? Semoga aku bisa memenuhi amanah dariMu untuk membahagiakan Zahra dan calon adik Zahra sampai di akhir usiaku,” bunda mempercepat jalannya, tiba-tiba bunda terhenti ketika hendak menggapai Zahra, dari sebelah kiri jalan pak RT mengendarai sepeda motornya dengan laju yang cepat, Zahra berbalik dan ia berlari mengambil induk kucing yang hampir ditabrak oleh pengemudi setengah baya itu, bunda tiba-tiba berlari seolah-olah ingin membalap pak RT,  dengan usia janin yang dikandungnya mendekati8 bulan. Bunda mendorong Zahra sekuat tenaga.

“Oh tidak jangan ditabrak. Rem langsung sepedanya pak,” seru lelaki muda yang menyaksikan secara langsung kejadian tersebut namun dari jauh. Apalah daya ketika Allah menghendaki jalan lain..

Pak RT kehilangan kendali, pak RT langsung membelokkan sepedanya, namunsepeda pak RT malah berputar seperti gasing, karena sangat cepat melaju lalu tiba-tiba di rem sekuat-kuatnya.

“BRUAKK.” suara keras yang mengerikan, bunda terkena goncangan yang begitu keras dari ekor sepeda motor yang berputar itu, sontak saja orang-orang langsung keluar untuk mengecek apa yang terjadi.

ALLAHUAKBAR,” seru bunda dalam kegetnya dan tergulung-gulung di jalanan, kepala bunda mengenai trotoar, kepala Bunda terbentur sangat keras, kepala bunda berlumuran darah dan bunda merasakan kekejangan yang begitu hebat di dalam perutnya, rok bunda bersimbah darah.tak ada yang dirasa bunda setelah kekejangan di perutnya itu, lalu Bunda merasakan keheningan…

Ada yang mendekati bunda, aura dingin yang perlahan merasuki tubuh bunda dari mulai ujung jari kaki ketika dingin menusuk hati bunda,

Asyhaduallahilahailallah, waasyhadzuanna muhammadazarrasulullah, lailahaillah, selamatkan kedua an..” kalimat bunda terputus, dingin itu telah sampai di ubun-ubun kepala bunda.

Memori yang lalu seolah terputar kembali. Ia melihat senyum kedua orangtuanya beserta suaminya seusai melahirkan Zahra.“Kemenangan ini buat bunda,”  suara Zahra dulu terngiang kembali ditelinga bunda,

Kemenangan ini buat bunda”

Suara itu semakin melemah dan kemudian menjauh mengikuti arah angin. Bunda tak lagi mendengar suara yang ada di bumi, hanya gemericik air yang terdengar syahdu. Padahal simpang-siur orang-orang panik ketika kecelakaan itu terjadi.

“Astaghfirullah bundanya Zahra dan pak RT, astaghfirullah lahaulawalakuwwataillabillah,” seru bu Tantri tetangga Zahra.

“Selamatkan Zahra dan ibunya, cepat panggil ambulan, Zahra tak sadarkan diri” ucap pak Madun yang biasa membersihkan halaman rumah Zahra,

Zahra tak sadarkan diri, Zahra berhasil menyelamatkan induk kucing, kucing itu masih ada dipelukan Zahra.

***

Di kantor ayahnya Zahra menyelesaikan urusan. Seorang lelaki menghendaki untuk memanggil ayahnya Zahra dan bekata “Pak anda mendapatkan telephone dari rumah pribadi bapak” lelaki itu adalah sekretaris ayahnya Zahra.

Ayahnya Zahra segera menerima telephone tersebut

“Halo Assalamualaikum, ada apa bu Tantri?”

Sekejap Ayah Zahra Terlihat syok sekali ekspresi, ia langsung melepas gagang telephone dan berlari menuju lift untuk segera menuju rumah sakit.

Di rumah sakit banyak tetangga dan keluarga telah berkumpul di kamar 2016, dimana bunda dirawat.

“Innailahi rajiun,”suara ibu-ibu tua terdengar dari luar ruangan dan mengisakkan tangisan ketidakrelaan, semakin tak kuat hati untuk memasuki ruangan tersebut, ayah Zahra hanya berharap bahwa yang tergeletak itu bukan istri tercintanya.

“Ayah,“ gadis putih mungil itu memeluk ayahnya dari belakang,

“Zahra tidak diijinkan masuk oleh suster yah, padahal Zahra ingin meminta maaf ke bunda,” suara Zahra terdengar sangat lemah.

Ayah tidak menanggapi Zahra hanya membalas pelukan Zahra dengan hati-hati karena tangan Zahra diperban dan leher Zahra digip.

“Ayo masuk sama ayah ya,” ayah menggendong Zahra masuk kedalam ruangan.

Kekuatan yang sudah dikumpulkan oleh ayahnya Zahra, seketika itu runtuh dihadapan sang istri yang benar-benar berbaring layaknya orang tidur.

“Bunda, Zahra mencari bunda, bunda bangun, seharusnya bunda tidur setelah melakukan shalat isya berjamaah seperti biasanya bun sama ayah dan juga Zahra,“ seru ayahnya Zahra sambil mengelus-ngelus kepala bunda yang diperban.

Seketika itu pula semua hati orang yang ada di ruangan itu terasa pecah dan jiwa mereka menyatu dalam tangisan, Zahra memegang erat tangan bundanya.

“Lalu bagaimana dengan janin yang dikandungnya Bu?“ Tanya ayahnya Zahra kepada ibu mertuanya.

“Kondisi janinnya sangat melemah, kata dokter untuk memastikan kehidupannya kita menunggu tangisan pertamanya hingga 5 jam dari sekarang Nak.” jelas ibu mertuanya.

“Bundaa bangunlah,” ayah Zahra menggoyang-goyang tubuh adinda lalu memeluknya kembali begitu dan seterusnya.

Tak tahan melihat tingkah ayahnya Zahra, bapak mertua menyadarkannya dengan mengajaknya shalat isya berjamaah bersamanya dan juga Zahra. Suster mulai memproses memandikan Bun

Jam 23.55 tanggal 14 Oktober 2015

Ibu mertua melihat bayi yang ada didalam inkubator, hati seakan disambar badai topan, disatu sisi hati tergores karena kehilangan sosok Adinda Azzahra Kusuma dan di sisi lain hati merasa gembira ketika bayi mungil itu mengeluarkan suara pertamanya.

Alhamdulillah lihatlah Nak, anak ke-2 telah lahir, dengarkanlah Nak,” puji ibu mertua.

“Jam 00.18 tanggal 15 oktober 2015, ia dilahirkan, dengan sistem pernafasan yang melemah selama 5 jam, dan jika bukan kemauan Zahra untuk menunggu adiknya selama 5 jam, sudah pasti divonis meninggal bersama ibunya Nak,” jelas ibu mertua sambil mengusap peluhnya.

“Iya Bu,” ayah Zahra masih saja menangis.

“Anakku, lihatlah dan kau pasti sudah tahu Nak, di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya fana, begitupun dengan manusia. Kita hanya makhluk kecil tak sempurna yang diciptakan di dunia ini hanya untuk mempersiapkan diri menuju kembali lagi kepadaNya, lihatlah kenyataan di depanmu sekarang, Adinda meninggalkan dunia dan gadis kecil di depanmu sekarang ini hadir di dunia untuk menghibur kita semua. Allah adalah dzat yang maha adil dan maha bijaksana, hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, semua atas kehendak Allah swt, kita hanya bisa mensyukuri dan tetap berada di jalanNya,” setelah mengatakan itu, ibu mertua langsung pingsan di pelukannya sang menantu.

***

Kini Zahra beserta keluarga besarnya sedang merayakan hari ulang tahun adiknya yang ke-4, gadis yang sudah pintar membaca Alqur’an dan telah menghafalkan surat Al-ikhlas.Menjadikan keluarga Zahra semakin bahagia dan pelan-pelan melupakan kesedihan dan mulai mengikhlaskan semua cobaan.

Sanah hilwah adikku, semoga kau menjadi calon hafidzah yang benar-benar selalu di jalan Allah dan selalu d`alam lindungan Allah SWT, aku mencintaimu dek,“ ucap Zahra kepada adiknya lalu memeluknya.

“Terimakasih kakak, aku juga mencintai kakak “

Senyum adiknya Zahra yang bernama Syifaul Qolby Sayyidati itu mengembang dan menuang kebahagiaan, nama yang sesuai dengan akhlaknya, nama yang berarti gadis solehah pengikut rasul yang mampu mengobati rasa sakit di setiap cobaan yang diberikan.

 

*) Mahasiswa Sastra Inggris semester dua yang sedang berproses sebagai maganger di LPM Solidaritas

Comments

comments

Leave a Reply