Kehidupan Tak Selalu Semanis Kopi

Resensi

Judul Buku        : Filosofi Kopi

Penulis                : Dee Lestari

Penerbit             : PT. Bentang Pustaka

Cetakan              : ke- 14, April 2015

Tebal                   :142 hlm; 20 cm

ISBN                   : 978-602-8811-61-3

Peresensi           : Lathifah Inten Mahardika*

 

Cerita yang tak selesai, cerpen yang terlalu panjang hingga tak bisa dikirim di majalah, puisi setengah prosa atau prosa kepuisi-puisian, dan aneka bentuk lain yang sulit diberi nama hingga akhirnya didiamkan, demikian cuap-cuap Dee tentang karyanya yang satu ini. Meski Dee mengaku sendiri kekurangan dari karyanya. Namun kepiawaian Dee dalam meramu kata begitu ajaib. Bahasa yang digunakan menggelitik, bukan hanya unik, namun benar-benar menarik pembaca terhisap masuk dalam dunia kata-kata Dee.

Tidaklah mengherankan jika “Filosofi Kopi” menjadi karya sastra yang menerima penghargaan sebagai karya sastra terbaik 2006 pilihan majalah Tempo. Karya ini menjadi layak dikonsumsi pembaca bukan hanya sebagai penghabisan waktu di akhir pekan, titik di mana pikiran dan tubuh membutuhkan pe-refreshan kembali. Namun juga di sela-sela waktu sibuk, di mana buku ini menjadi bumbu penyedap dari segala hiruk-pikuk aktivitas yang terkadang memeras kerja pikiran dan tenaga.

Cinta menjadi tema besar keseluruhan cerpen di sini. Sayangnya tidak semua cinta berlabuh di tempat yang tepat, tidak semua rasa berlabuh pada hati yang benar-benar bisa dimiliki seutuhnya. Hingga akhirnya kata cinta hanya menimbulkan gejolak dan sesak menghujam dada nan rapuh yang bisa terpecah kapan saja. Hingga pada suatu persinggahan, cinta berakhir tidak lagi berupa keindahan. Namun hanya duri yang semakin mengiris pilu. Seperti halnya cerita sepotong kue kuning, lara lana, dan mencari Herman.

“Sesuatu mulai disadari Indi. Bayangan itu kelamaan membatu, menggenggam telepon yang tak lagi tersambung. Dadanya terasa sesak, tambah lama tambah mendesak. Cepat-cepat dia mengatur pernapasan.”(Sepotong Kue Kuning hal. 76).

“Lama Hera mendekam seperti tahanan rumah. Wajah manisnya berubah pahit sekian lama. Dia lantas dikirim ke beberapa pesantren. Baru setelah dia dinilai sembuh luar-dalam, lahir-batin, Hera diizinkan untuk punya cita-cita.”(Mencari Herman hal. 3).

“Digit terakhir. Jatuh pada angka nol. Jempol Lana gemetar seolah dibebani bergunung-gunung sampah batin yang dikoleksinya sepanjang hayat. Hatinya lalu mengukur dan menimbang: akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan kepada diriku, kepada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja?” (Lara Lana hal. 94).

Setelah puas mengacak-ngacak hati pembaca, sebagai obatnya Dee menawarkan beberapa cerita yang mampu menggugah perasaan. Seperti halnya cerita pertama sekaligus yang diangkat sebagai judul kumpulan cerpen dan prosa satu dekade ini, “Filosofi Kopi” merupakan daya tarik utama dari keseluruhan cerita ini. Kedai ciptaan dua orang maestro, satu spesialis kopi dan satunya lagi ahli manajemen keuangan. Maka bimsalabim jadilah sebuah kedai yang kepopulerannya terdengar hingga ke luar kota. Perjalanan naik turun menuju titik pencapaian, pergulatan tentang impian dan passion jelas tergambarkan dalam cerita yang sudah difilmkan ini.

“’Kamu masih tidak sadar?’ Ben menatapku prihatin. ‘Aku sudah diperalat oleh seseorang yang punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial!’ serunya gemas, ‘Aku malu kepada diriku sendiri, kepada semua orang yang sudah aku jejali dengan kegombalan Ben’s Perfecto.’”(Filosofi Kopi hal. 23).

Selain cerpen yang bertemakan cinta, beberapa prosa yang termuat dalam buku ini menunjukkan eksistensi dan asa seorang manusia, homo sapiens sebagai makhluk yang terus berjuang, bermanifestasi, sebuah pentas dalam menunjukkan jati diri.

“Hidup mereka indah dalam keinginan bebas. Hari ini ke padang, esok lusa ke gunung, tak ada yang bingung. Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diinginkan. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi.”(Kuda Liar hal. 71)

“Di tengah gurun yang terjebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil karena melewatimu, oase akan jengah dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inchi.”

“Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda.”(Salju Guru hal. 49).

Prosa karya wanita yang sekarang memiliki 2 anak ini juga merangkum makna kehidupan yang terkadang terlupa, tertelan mobilitas keseharian yang terkadang menyisihkan nurani manusia secara perlahan.

“Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca-suka atau tidak suka pada hasilnya.”(Lilin Merah hal. 96).

“Bukankah kita baru bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang saling berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.”(Spasi hal. 98).

Begitulah garis besar isi dari “Filosofi Kopi”-nya Dee Lestari. Isinya beragam. Namun tetap asyik dibaca. Bahkan sastrawan berkaliber internasional sekelas Goenawan Muhammad mengungkapkan pujian atas interpretasi buku Filosofi Kopi sebagai karya yang “cerkas”. Meski katanya unik, tidak semua orang mampu menangkap artinya, terlebih bagi orang yang awam dengan dunia sastra dan akademisi. Seperti artifisial, monokrom, kalkulatif, signifikansi, absurditas, sophisticated, dan masih banyak lagi. Karena tidak adanya footnote atau semacam keterangan tambahan, pembaca harus repot-repot mencari arti kata sendiri atau membiarkannya begitu saja bila tidak sempat mengetahui artinya. Selebihnya buku ini lebih dari pantas untuk dilabeli masterpiece.

*) Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UINSA angkatan 2014, saat ini sedang mengabdi sebagai Koordinator Editor Redaksi LPM Solidaritas 2017.

Comments

comments

Leave a Reply