Kedudukan Pers di Mata Tuhan (Antara Jurnalis dan Risalah Kenabian)

Opini

By: Toyyiz Zaman*

“Nabi maupun Rasul berperan sebagai kaki tangan dan penyambung lidah dari maksud Tuhan kepada umat, sedangkan pers adalah penyambung lidah antara negara maupun lingkungan sosial pada masyarakat. Keduanya mempunyai relasi  yang sama yaitu memberi petunjuk dan kabar gembira berasaskan amar makruf wa nahi munkar.” (zaman)

Perintah Untuk Manusia

Tuhan memerintahkan kepada hambanya agar selalu menebarkan kebaikan dimanapun dan kapanpun sesuai bidang yang digelutinya. Artinya manusia memiliki interest pada bidang tertentu dan kemudian dari sana manusia dapat menyampaikan pesan keadilan dan pesan kebenaran menurut kadar kemampuannya. Manusia memiliki banyak cara untuk menyampaikan sebuah kabar, keuniversalan sebuah pesan menjadi hal mutlak yang muncul berdasarkan latar belakang manusia itu sendiri. Kita bisa menyampaikannya dalam bentuk tulisan, artikel, berita, kritikan, pidato, orasi dan sejenisnya yang berorientasi pada kemashlahatan umat bukan kelompok tertentu.

Pers adalah bagian dari pembawa kabar berita yang menyampaikan kebenaran dan membenarkan kebenaran yang dikambing hitamkan. Meski pers bukan menjadi Nabi baru, karena pers merupakan kumpulan dari manusia yang tak lepas dari tanggung jawab dalam menunaikan perintah Tuhan. Namun pers juga memiliki kesamaan dengan risalah kenabian, yaitu menyeru dan mengajak manusia kepada jalan Tuhan, “Ud’u ila sabili rabbikum bil hikamati wal mauidhotil hasanati,” memberi pesan dengan cara yang baik dan benar, menasihati, memberi peringatan, diskusi ataupun wawancara untuk memperoleh informasi yang valid guna memperjelas duduk perkara dan kemudian mencari solusi bersama.

Tugas Nabi dalam menyampaikan wahyu hampir sama dengan tugas pers yakni menyampaikan berita secara benar dan tanpa memihak pada kepentingan orang lain yang dapat merugikan orang lain.Selain pesan keagamaan atau pesan tauhid lebih nampak karena pertama kali yang disampaikan, pesan kebaikan menempati posisi kedua setelah menyatakan keimanan pada Sang Pencipta. Pesan Kebaikan dapat berupa beberapa kemanfaatan seperi mencegah birokrasi kenegaraan yang lamban dan sulit, memerangi korupsi, kolusi, nepotisme melalui kebijakan pers itu sendiri.

Jika wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah iqra’ yang berbunyi bacalah, maka slogan pers adalah “tulislah”.

Pesan Kenegaraan Dan Keagamaan

Esensi dari pesan bukan hanya dilihat dari isi yang disampaikan, tetapi lebih pada bagaimana perubahan yang dapat ditimbulkan ketika sebuah pesan itu berhasil disampaikan, tentu perubahan disini adalah perubahan yang dikehendaki Tuhan.

Baik nabi maupun pers sama-sama menyampaikan pesan kebenaran, meski kedudukan dan perannya berbeda, namun saling berhubungan antara pesan keagamaan dan pesan kenegaraan, yakni mempunyai kekuatan untuk membentuk, bahkan mempengaruhi perspektif dan pola pikir manusia. Pesan kenegaraan sebagian besar diambil dari pesan keagamaan, karena agama pasti menyinggung setiap persolan hidup manusia, dari kegiatan keseharian hingga permasalahan kenegaraan.

Empat Sifat Kenabian

Seorang utusan atau Rasul memiliki empat sifat yang wajib tertanam dalam setiap tindak-tanduk perilakunya. Empat sifat tersebut ialah shiddiq, amanah, tabligh, fatanah. Mengadopsi dari empat sifat yang dimiliki seorang rasul dengan berbagai keistimewaannya, maka jurnalis juga harus mencontoh sifat rasul tersebut diatas, dan menanamkan sifat tersebut sebagai kode etik jurnalistik.

Kaitannya dengan sifat pertama, shiddiq. Seorang jurnalis atau wartawan harus mengedepankan kejujuran dalam mencari, mengolah dan mewartakan berita, jangan sampai berita bohong (hoax) diberitakan dan menjadi konsumsi publik dan seringkali memfitnah hingga menjatuhkan pihak-pihak tertentu.

Kedua adalah amanah juga berarti dapat dipercaya, setiap informasi maupun berita yang disampaikan hendaknya memiliki tingkat kesesuaian dengan keadaan yang ada saat itu tanpa memanipulasi data atau merubah sesuai dengan keinginan golongan tertentu. Integritas dan juga kredibilitas pers harus lebih dipentingkan daripada hanya rayuan pemberitaan kemunafikan. Alih-alih mendapat keuntungan dari praktik tersebut, malah mengorbankan independensi pers yang menyalahi aturan yang ada dan justru keluar daripada kebijakan pers itu sendiri.

Kemudian adalah tabligh, sudah menjadi kewajaran bahwa fungsi pers adalah menyampaikan sebuah berita ataupun informasi, seorang jurnalis harus menyampikan sebuah pesan dimana masyarakat juga berhak mengerti dan memahami berita tersebut. Maka seorang jurnalis harus secara gamblang menyampaikan informasi dengan seluruh data yang disajikan tanpa menyembunyikan fakta.

Fatanah, seorang jurnalis atau pers secara umum juga dituntut harus memiliki kecerdasan, hal itu terkait dengan mencari sebuah informasi, yaitu kepekaan antara lingkungan dan mengolah berita agar memiliki nilai keseimbangan.

Begitulah seharusnya seorang jurnalis bertindak, mengikuti jejak nabi dalam menyajikan dan menyampaikan berita yang sesuai fakta dan realita. Tugas Pers hampirlah sama dengan tugas nabi dalam menyampaikan pesan kebaikan, meski tidak bisa sempurna karena manusia memiliki banyak salah, namun semangat menyampaikan kebaikan harus tetap diupayakan.

*) Penulis adalah Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, yang sekarang diamanahi sebagai Koordinator Data Internal LPM Solidaritas.

Comments

comments

Leave a Reply