Kasus Persekusi dan Keterlibatan Orang Tua

Pendidikan

Eva Ardlillah Daulati*

Maraknya kasus persekusi di beberapa daerah di Indonesia saat ini memang menimbulkan keresahan atau kekhawatiran bagi sejumlah masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Sebuah tindakan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas tentunya menimbulkan kekhawatiran dan dampak yang luar biasa. Sebuah tindakan yang tidak patut dilakukan dan sangatlah melanggar hukum. Seperti kasus baru-baru ini, dilansir dari laman Kompas.com (3/6/2017), sempat terjadi aksi persekusi di Solok Kota. Sebuah aksi yang menimpa salah seorang dokter di RSUD Solok bernama Fiera Lovita. Fiera yang dipersekusi akibat status di media sosialnya yang dianggap melecehkan salah satu ormas mendapatkan tindakan persekusi dari beberapa oknum. Tak hanya kasus Fiera di Solok, kasus persekusi pun terjadi di Cipinang Muara, Jakarta Timur dengan korban berinisial PMA, seorang remaja berusia 15 tahun. Dan hal ini terjadi karena postingannya di media sosial yang dituduh mengolok-olok salah satu ormas. Ia mendapat kekerasan verbal juga fisik serta diintimidasi sekelompok orang (Kompas.com, 3/6/2017).

Dari kasus di atas, hal yang perlu disorot adalah tindakan kekerasan yang dilakukan, terutama pada remaja. Sebuah tindakan yang tak seharusnya dilakukan, karena remaja memiliki emosi yang terkadang naik turun, dan remaja juga merupakan  masa yang penting, masa perubahan baik dari segi fisik, emosi, kognitif, minat, serta peran sosialnya di dalam masyarakat. Di mana dari tindakan persekusi tersebut tidak hanya berdampak bagi fisiknya, tetapi juga psikologisnya. Jika ia tak mampu menghadapinya maka bisa saja akan menjadi trauma berat pada dirinya. Dampak psikologis memang bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi dampak yang dialami pada diri seorang anak atau remaja cenderung lebih besar. Hal ini bisa berakibat pada terhambatnya proses perkembangan anak. Anak akan menjalani tahap perkembangan yang tidak sempurna, dan itu juga akan berpengaruh pada masa depannya.

Tindakan demikian (persekusi, Red) jelas melanggar pasal 170 Ayat 1 yang di dalamnya berbunyi, ‘Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.’ Tidak hanya itu, tindakan tersebut tentunya juga melanggar Pasal 80 Ayat 1 Juncto Pasal 76 huruf c Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 170 KUHP.

Namun, jika kita telisik lagi terkait kasus persekusi yang dialami beberapa orang, terutama dialami remaja. Kesalahan tidak hanya dilakukan oknum atau sekelompok orang yang melakukan persekusi, main hakim sendiri, dan lain-lain. Tetapi orang tua juga memiliki andil dalam hal ini. Mengapa bisa seperti itu? Karena keluarga merupakan unit kecil yang sangat penting dalam membentuk kepribadian maupun kebiasaan anak. Di mana anak untuk pertama kalinya dipahamkan nilai-nilai moral, agama, sosial, dan lain-lain. Keluarga terdiri dari Ayah, ibu, dan anak. Di sini peran ayah dan ibu sangatlah penting, mereka memberikan kesejahteraan emosional serta titik keseimbangan dalam orientasi sosial. Keluarga tidak hanya sebuah wadah untuk  berkumpul semata, tetapi juga tempat yang nyaman bagi anak untuk berkembang supaya anak mampu bersosialisasi, mengaktualisasikan diri, dan lain-lain. Jika keluarga tidak mampu menjadi wadah yang nyaman bagi anak untuk berkembang, maka yang terjadi adalah anak tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, tidak merasa percaya diri, merasa kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang.

Apalagi di era modern ini perkembangan teknologi amatlah pesat. Bisa jadi anak yang tidak atau kurang pemahaman nilai-nilai seperti itu dan keluarga tidak mampu menjadi wadah yang nyaman bagi anak, anak akan mencari hal lain yang bisa memenuhi kebutuhan psikologisnya. Mencari pemenuhan kepuasan psikologis melalui gadget contohnya. Anak akan lebih asyik dengan gadget-nya, pun dengan sosial medianya. Mereka lebih asyik bersosialisasi dengan orang lain melalui dunia maya. Terlebih dengan penggunaan gadget dan sosial media (sosmed) saat ini apabila tanpa pengawasan dan bimbingan orangtua akan berakibat fatal. Anak tidak akan tahu dampak negatif dan positif dari gadget serta sosmed, mereka tidak paham bagaimana etika dalam ber-sosmed. Dengan polosnya bisa saja mereka juga turut menelan bulat-bulat hoax atau isu lainnya yang sedang berkembang tanpa ada pemahaman dan arahan dari orang tua.

Hal tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama, jangan biarkan anak asyik dengan dunia maya, jangan biarkan anak berlarut-larut dalam ketidaktahuannya tentang etika ber-sosmed, supaya anak bisa lebih berhati-hati dalam mem-posting sesuatu serta bijak dalam bermedia. Hindarkan gadget pada anak usia dini. Anak boleh diberikan gadget jika itu digunakan sebagai media pembelajaran, seperti mendengarkan lantunan ayat Alquran atau doa-doa. Pemakaian gadget pun bisa disesuaikan dengan usia anak, misal anak yang berusia 5-6 tahun cukup menggunakan gadget selama satu atau dua jam dalam sehari, itupun tentunya tetap dalam pengawasan orang tua. Penggunaan media sosial juga tentu memerlukan bimbingan orang tua, anak tidak bisa dibiarkan lepas begitu saja dalam ber-sosmed ria. Sebelum memiliki akun sosmed anak harus terlebih dahulu diberi pemahaman serta bimbingan dari orang tua. Berikan pemahaman juga bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum, berhati-hati dalam mem-posting konten yang memiliki unsur fitnah dan pencemaran nama baik seseorang, karena itu melanggar Pasal 27 Ayat 3 UU ITE. Dan akan dikenai pasal 28 ayat 2 UU ITE jika kontennya dapat menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian yang mengandung unsur SARA. Ini tidak hanya berlaku pada gadget saja, tetapi juga televisi, dan media yang lain. Hal ini perlu dipahami orang tua supaya anak terhindar dari kegiatan mem-posting hal-hal yang bisa memicu kemarahan, konflik atau ketersinggungan publik. Yang selanjutnya bisa saja diperparah dengan adanya tindakan persekusi. Untuk tindakan yang harus dilakukan masyarakat lebih baik melaporkan konten-konten yang mengandung unsur seperti itu kepada pihak berwajib, jangan langsung main hakim yang pada akhirnya berujung pada tindakan persekusi.

Pencegahan dan kepedulian terhadap tindakan persekusi seperti ini tidak hanya membutuhkan peran polisi dan pemerintah saja. Seluruh elemen masyarakat juga memiliki peran penting dalam hal ini. Bagaimana sebuah negara bisa aman, makmur, sejahtera jika untuk mewujudkan itu semua hanya beberapa elemen yang bergerak? Mari lawan persekusi!

*) Sekretaris 2 LPM Solidaritas dan mahasiswa Psikologi UINSA semester 4.

Sumber gambar: https://unik6.blogspot.co.id/2017/06/persekusi.html

Comments

comments

Leave a Reply