Jika Gang Dosen (Jadi) Ditutup

Opini

Spirit menuju world class university (WCU) terus berlari kencang, barangkali hampir sama kencangnya dengan batas maksimal kendaraan melaju di area kampus UINSA, 15 km/jam. Entah bagaimana kecepatannya saya belum melakukan penelitian, tapi sejauh yang saya rasakan kala mengendarai sepeda motor, kecepatan 15 km/jam itu hampir mirip orang jalan kaki yang dikejar anjing galak, bahkan bisa jadi lebih cepat orang tersebut. Sepintas saya berpikir, apakah kecepatan tersebut masih memberikan jatah lebih, layaknya undangan rapat mahasiswa yang menyajikan waktu untuk terlambat, wallahu a’lam.

Tapi yang jelas, untuk menjadi kampus bertaraf internasional dan sejajar dengan kampus ternama lain di luar sana, UINSA perlu membenahi berbagai sektor. Dari sekian sektor tersebut ada beberapa yang tergantung pada nasib suatu benda padat tapi bisa cair yang masih berdiri kokoh di bagian belakang kampus. Besi tersebut setiap harinya menjadi tempat lalu lalang mahasiswa keluar masuk kampus. Khususnya mahasiswa yang memilih bertempat tinggal di kawasan Wonocolo belakang kampus.

Dari luar pintu besi yang sudah sedikit banyak digerogoti ‘virus’ karat ini, beberapa masyarakat menggantungkan kelanjutan hidup mereka sehari-hari. Ada tukang buah yang sangat akrab dengan mahasiswa, tak ketinggalan tukang jual nasi yang berada pas di balik tembok tempat besi tersebut terpancang. Belum lagi usaha printing dan jasa tempat tinggal yang lebih dikenal dengan kos-kosan sudah sekian lama menjamur. Konsumen penikmat jasa-jasa yang mereka tawarkan tidak melulu mahasiswa yang kos di belakang kampus, mahasiswa kalong dan yang berdomisili di area kanan-kiri kampus juga sering memadati kawasan yang saat saya tiba di Surabaya sudah terkenal dengan sebutan Gang Dosen ini.

Sampai saat ini belum terungkap sejarah pemberian nama tersebut, karena sepengamatan saya, Gang ini jarang sekali dilalui dosen. Para pengajar lebih sering saya jumpai lewat pintu depan dengan mengendarai kendaraan yang bermerk. Jarang saya temui dosen pejalan kaki dan berbaur bersama mahasiswa menikmati antrian yang lebih mirip terowongan Mina kala pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi sana. Pemandangan mengharukan tersebut—antrian panjang—bisa kita nikmati antara pukul 07.30 sampai pukul 08.00 WIB. Tepat ketika pergantian ‘pemain’ kampus terjadi, yaitu saat mahasiswa baru (maba) selesai dengan rutinitas intensif bahasanya, dan mahasiswa lama (malam) bergegas masuk kuliah.

Melihat fungsinya yang cukup komplit, besi tua itu saya pandang layak dianugerahi rekor MURI, sebagai besi paling berjasa dengan memecahkan rekor pengguna terbanyak setiap harinya. Namun, alih-alih mendapatkan penghargaan, besi tua berjasa itu terancam ditutup dan mungkin akan masuk kategori besi layak timbang, untuk kemudian diganti dengan lembaran-lembaran uang yang masih sangat jauh dari harga cabai yang saat ini meroket.

Ya, isu penutupan salah satu pintu tikus di kampus UINSA ini sudah santer berhembus sejak beberapa tahun lalu. Saya sendiri pernah berdialog dengan salah satu petinggi kampus ini, dimana ia menjadi pemangku kebijakan dalam hal pengadaan barang dan pemeliharaannya. Bapak tersebut membenarkan kabar penutupan Gang yang sudah sangat masyhur itu. Bahwa penutupan itu adalah kebijakan dari Pak Rektor selaku pemegang kebijakan utama di kampus ini. Kabar ini pun langsung dimuat di salah satu koran kampus milik Solidaritas, Beranda, edisi Oktober-November 2015.

Ketika ditanyakan kepada para mahasiswa atau bisa disebut pelanggan setia Gang Dosen, rata-rata sangat menyayangkan keputusan penutupan. Alasannya karena berbagai faktor yang tentu tidak bersifat egosentris semata. Seperti, jika Gang Dosen ditutup akan terjadi pembengkakan volume kendaraan bermotor, karena barang tentu mahasiswa yang berada di kawasan belakang kampus akan memilih mengendarai motor supaya bisa sampai kampus lebih cepat, dan tidak terlambat.

Bagi pembaca yang sering bertandang ke kampus ini, pasti akan menemukan kesemrawutan tempat parkir, di mana badan-badan jalan yang sejatinya bukan area parkir tapi disulap menjadi lahan parkir. Ini bisa ditemukan di kawasan belakang gedung Twin Tower, ikon kampus UINSA, atau di depan Fakultas Syariah dan Hukum. Beranjak sedikit ke kawasan belakang, tepatnya di sekitar gedung A Fakultas Adab dan Humaniora, kita mungkin akan terbelalak dengan cukup padatnya kendaraan yang diparkir. Sehingga jika ada dua mobil yang berpapasan, salah satunya akan mengalah supaya bisa lewat.

Lalu solusi apa yang ditawarkan untuk mengurai kesemrawutan parkir ini, penulis lagi-lagi pernah bincang-bincang dengan petinggi kampus yang sama, dan dia menyatakan suatu saat akan diusahakan membangun gedung khusus parkir seperti yang ada di mal-mal Surabaya. Tentu sangat bagus sekali jika berhasil diwujudkan, tapi yang kami rasakan ya yang saat ini terjadi.

Ini masih tentang satu hal, area parkir. Belum nasib para pedagang dan masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya dari keluar masuk mahasiswa melalui pintu Gang Dosen, yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan benar-benar ditutup. Ke mana mereka akan mengalihkan dagangan mereka? Ke dalam kampus? Andai ada kebijakan yang memperbolehkan relokasi tersebut, barangkali tidak terlalu masalah jika penutupan Gang Dosen terjadi.

Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi rencana penutupan Gang yang sudah ditapaki puluhan sampai ratusan kaki setiap harinya tersebut? Usut punya usut, ternyata faktor peralihan status menjadi UIN juga memiliki impact (dampak) terhadap keberadaan Gang ini. Setelah menjadi UIN, dalam rencananya, arus keluar-masuk kampus menjadi satu pintu, yakni pintu utama yang berada di bagian depan kampus. Ada juga faktor keamanan yang turut dipikirkan petinggi kampus. Mereka khawatir jika Gang tersebut masih dibuka, akan banyak kasus-kasus terjadi, sebut saja pencurian dan kasus-kasus kriminal lainnya. Tapi apakah tidak memungkinkan dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT), konon UKT tertinggi di UINSA hampir menyamai biaya kuliah di tingkat pascasarjana, untuk menambah tenaga keamanan guna menjaga keamanan Gang yang sampai saat ini tidak sekalipun terlihat ada yang menjaga. Sehingga mahasiswa merasa sepadan antara dana yang dibayarkan dengan fasilitas yang diperoleh.

Pada faktanya, kebijakan penutupan Gang Dosen belum sepenuhnya terlaksana, sampai detik ini. Hanya saja pintu masuk kampus tersebut memang terbuka satu pintu, yang sejatinya bisa dibuka dua pintu dan akan lebih menyamankan mahasiswa saat melalui dua jalur berbeda. Pembaca tidak perlu membayangkan bagaimana pengapnya mahasiswa saat harus berdesakan untuk masuk kampus, melalui satu pintu yang lebarnya kurang lebih 50 cm. Sehingga butuh memiringkan badan jika mau masuk, apalagi ditambah tas ransel yang biasa dibawa mahasiswa ngampus. Cukup peluh dan keringat mereka yang berbicara.

Yang penulis harapkan, kebijakan ini tidak hanya berasal dari satu pintu, alangkah lebih baik jika melibatkan semua kalangan, terutama mahasiswa dan masyarakat sekitar yang merasakan manfaat langsung adanya pintu Gang Dosen. Jika memang sudah tidak bisa dielakkan lagi, benar-benar harus ditutup, semoga ada tawaran solusi guna mengatasi polemik lahan parkir yang diprediksi akan membludak, serta nasib para pedagang yang sudah lama berniaga di balik berkah Gang Dosen. [*]

*) Moh. Mizan Asrori

Lelaki penikmat gang dosen yang masih berusaha memperjuangkan suara hati mahasiswa

Comments

comments

Leave a Reply