Is This My Soul (?)

Cerpen

Oleh: Madihah *)

Terik mentari sedang ganas-ganasnya menerpa jalanan Kota Pahlawan. Hawa yang mendidih membuat butiran keringat mengalir deras di sekitar pelipis sampai ke ujung kaki. Jalan raya Kota Surabaya dipadati arus lalu lintas kendaraan. Gedung-gedung kota terbesar nomor dua setelah Jakarta memiliki banyak gedung yang menjulang tinggi.

Seorang gadis mungil asal Yogyakarta memutuskan pindah domisili ke Surabaya pada hari Senin di minggu pertama bulan Juli 2014. UIN Sunan Ampel menjadi tempat belajarnya saat diumumkan bahwa ia lolos seleksi di perguruan tinggi tersebut. Ia sempat mengalami culture shock, bagaimna tidak? Kenyataan mengharuskannya meninggalkan rumah dimana ia dibesarkan, beda provinsi pula. Belum lagi perbedaan budaya dan segala kebiasaan yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Pun, ia sama sekali belum membayangkan bagaimana dunia perkuliahan. Tak ayal menjalani semua rutinitas yang baru baginya merupakan satu-satunya pilihan yang tak terlekkan,.

Masa orientasi kampus membuatnya harus berpikir untuk tidak hanya kuliah-pulang saja. Ia ditawari oleh sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dengan segudang kegiatannya kepada mahasiswa baru. Terlebih dorongan dari salah satu guru SMA-nya dulu yang juga menyarankan ia untuk mengikuti salah satu UKM.

“Ada UKM menarik nih, tentang kepenulisan. Hmm, bisa dicoba sih. Karena waktu SMA dulu aku gak ikut ekskul semacam kepenulisan gini.” Jelas Amie saat mengobrol bersama Eni, teman barunya di Asrama Putri UIN Sunan Ampel, tempat ia tinggal selama satu tahun di awal perkuliahan.

“Aku lumayan tertarik juga, sih. Yuk, coba-coba aja. Tapi persyaratannya harus nulis, nih.” Kata Eni menimpali.

“Iya, kurang seminggu lagi deadline-nya,” kata Amie sambil menunjuk ke papan pengumuman di depan asrama.

Akhirnya setelah seminggu berkutat dengan satu tulisan, usahanya menulis pun berhasil, Amie dan Eni pun mendaftar. Setelah seleksi yang ketat, mereka berdua dinyatakan lolos dan resmi sebagai anggota baru dari yang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Soul, UKM kepenulisan yang mereka ikuti.

Semester awal sungguh melelahkan bagi Amie. Tugas makalah dan presentasi di tiap mata kuliah menyita sebagian besar rutinitas kesehariannya, belum lagi tugas harian, UTS dan UAS. Ia sering merasa kelelahan karena hiruk-pikuk kampus dan segala aktivitas barunya. Bahkan ia mengesampingkan keaktifannya di LPM yang ia pilih. Namun seiring berjalannya waktu, Amie mulai bisa memanajemen waktunya secara bertahap. Meski ia masih sering mempergunakan sebagian waktu senggang untuk tidur. Ya, karena untuk beraktivitas sedikit saja harus bersahabat dengan suhu panas Surabaya.

“Kamu bisa ikut kajian besok?” Tanya Eni, melalui pesan Whatsapp.

Pesan-pesan tersebut jarang diindahkan oleh Amie. Disaat tanggal pengumpulan makalah semakin mepet, ia memilih tidak menghiraukan segala pesoalan yang lain.

365 hari berlalu, genap setahun Amie mengenyam bangku perkuliahan. Menjadi mahasiswa tidak bisa dikatakan mudah, tak juga dibilang sulit. Dunia perkuliahan menuntut Amie untuk mandiri dalam berbagai hal. Baik dari segi keuangan, waktu, kesehatan dan hal-hal lain. Sambil membuka catatan harian, Amie merefleksi dirinya yang sudah genap satu tahun hidup di Surabaya. Ia punya berbagai macam mimpi dan cita-cita meski ada yang masih sebatas angan dan belum berani memberitahukannya kepada teman-teman terdekatnya. Hanya saja jawaban yang selalu keluar dari mulut mungilnya ketika ditanya dosen atau teman saat sesi perkenalan di bangku kuliah tentang apa cita-citanya, tanpa ragu Amie selalu menjawab ingin menjadi penulis.

“Aku masuk LPM Soul kan ingin belajar menulis,” bincangnya kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba perasaan flashback kembali menghampirinya, otaknya dengan cepat memutar ingatan saat ia memutuskan  mendaftar LPM Soul.

Amie memang suka menulis diary semenjak SMA. Bahkan sudah punya beberapa koleksi buku diary yang ditulis tangan. Meski pembahasannya seringkali absurd. “Pokoknya nulis!,” Begitulah kata-kata yang sering diucapkan pada dirinya sendiri. Setahun berlalu ia berusaha mengingat kejadian demi kejadian yang dialami. Salah satunya saat bagaimana harus rela memeras pikirannya demi menulis sesuatu yang keluar dari tema biasanya (diary), untuk ia ajukan sebagai persyaratan masuk anggota Soul.

Amie digalaukan oleh dunia kepenulisan. Soul mengajari banyak hal. Bahwa menulis bukan tentang diary saja. Ada yang namanya artikel, opini, sosok, cerpen, puisi, resensi, dan kategori tulisan lainnya. Oh ya, satu lagi, LPM Soul mengajarkan Amie menulis berita. Mendengar kata berita, Amie seringkali menjurus pada masa kecilnya. Ayahnya sering mengganti channel TV di rumahnya untuk menonton berita. Langsung saja, ia protes dan meminta sang ayah untuk mengganti channel Tom and Jerry kesukaannya. Menurut Amie menonton kartun itu lebih seru dibanding dengan melihat orang-orang yang berbicara di depan layar kaca.

Ngomong apa orang itu?” Kata Amie saat mencoba memahami isi berita dan tak jarang dahinya berkerut.

Soul berhasil mengisi pikiran gadis asal kota pelajar ini melebihi dugaannya. Jika diary adalah kejujuran cerita sehari-hari Amie. Apakah boleh bila Amie belajar mencari kejujuran berbagai realita demi menuliskannya di sebuah berita? Dari Soul, Amie juga belajar bahwa menulis berita adalah sebuah proses yang luar biasa. Bagaimana tidak, seorang pencari berita akan berusaha menggali data-data dari beberapa narasumber dan mengobservasi dari situasi yang ada. Menentukan angel atau sudut pandang, lalu menuliskannya menjadi berita. Selanjutnya berita itu masuk proses editing dengan tujuan agar pembaca bisa memahami dengan mudah, baru kemudian publishing.

Cita-cita menjadi penulis memang masih tertanam kuat di benaknya. Gadis yang tergolong pendiam ini tak menyangka bahwa dunia menulis bisa menjelma begitu rumit. Sebuah tulisan yang layak harus bisa memenuhi kaidah penulisan yang sesuai, besar kecil abjadnya sesuai Ejaan Bahasa Indonesia(EBI), setiap ejaan kata-katnay sudah tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) dan harus memuat diksi-diksi yang tak habis bila diotak-atik. Di sisi lain, menulis memberikan pencerahan dan mendatangkan berjuta wawasan dari huruf-huruf yang tertuang dalam kata, terangkum pada sebuah kalimat. Kalimat-kalimat yang bergumul ria di rumah alinea. Alinea yang dipagari banyak paragraph, hingga menciptakan pemahaman saat membacanya. Tak habis Amie berpikir betapa luar biasanya kekuatan sebuah tulisan, terlebih bagi seseorang yang mencipakan semua susunan tersebut.

Perjalanan satu tahun mengisahkan berjuta pelajaran. Apakah proses kehidupan Amie selanjutnya akan mengenal lebih jauh berbagai macam kategori tulisan. Atau ia akan terus hidup dalam lingkaran seru diarynya. Apakah Soul menjadi rumah yang bisa mengantarkannya menjadi seorang penulis? Ya, salah satu dari impiannya tersebut. “Is this my soul?” Tanyanya dalam hati. Panggilan ibu di rumah seketika mengalihkan lamunan Amie. Ia segera bergegas membantu mencuci piring. Meninggalkan laptop yang hampir dua jam yang ia tatap dengan saksama.

Sumber gambar : rudicahyo.com

*) Mahasiswi semester 5 Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Saat ini tercatat sebagai Koordinator Online LPM Solidaritas 2017/2018 UINSA Surabaya.

Comments

comments

Leave a Reply