Ironi Sebuah Aksi

Agama, Galeri Foto, Kolom, Refleksi, Umum

Oleh : Ahmad Farid

Pekan ini media tengah disibukkan dengan liputan dan sorotan mengenai kebijakan pemerintah Jokowi-JK dalam menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pro-kontra pun terjadi dimana-mana baik di sektor hulu – hilir, di antara rakyat kecil – jajaran birokrator negara, hingga dalam dunia pendidikan sekalipun dalam hal ini Mahasiswa, yang konon  banyak orang menyebutnya Agent of Change. Kebijakan menaikkan BBM jenis solar yang awalnya Rp. 5.500/ liter menjadi Rp. Rp. 7.500 / liter dan jenis Premium dari Rp. 6.500 / liter menjadi 8.500 / liter, menuai beragam respon dari berbagai masyarakat di penjuru negeri.

Seperti kemarin (18/11/2014), aksi gabungan dari organisasi mahasiswa (PMII, IMM, GMNI) dan berbagai elemen masyarakat di Surabaya tumpah ruah di jalan A. Yani Surabaya. Aksi tersebut dimulai dari dalam kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, kemudian dilanjutkan dengan membuat blokade di jalan tersebut. Dalam aksinya, orator-orator menyampaikan kekecewaannya pada kebijakan tersebut, mulai dari menyindir Presiden Joko Widodo sebagai boneka imprialis sampai menyanyikan yel-yel provokatif yang intinya menolak keras kebijakan tersebut. Aksi yang berjalan kurang lebih 4 jam tersebut membuat jalan A. Yani menuai kemacetan panjang.

Penolakan kenaikan BBM tak hanya di situ saja, media sosial pun tak luput dari aksi ini. Seperti yang dikutip Kompas.com (18/11/2014) (03:04), hastag atau tanda pagar (tagar) #ShameOnYouJokowi dan #SalamGigitJari menjadi trending topic kedua dan ketiga teratas di jagat Twitter. Umumnya Netizen mengungkapkan kekecewaannya pada Presiden Jokowi berupa kicauan – kicauan pedas.

Sikap berbeda justru dilakukan oleh Masyarakat di Papua, menurut Detik.com (18/11/2014) (12:41) Rakyat Papua justru terkesan adem ayem, Bupati Kabupaten Puncak di Pegunungan Tengah Papua, Willem Wandik mengungkapkan harga BBM di sana mencapai Rp. 50.000 / Liter. Jadi kenaikan BBM yang berkisar Rp. 2000 justru tak memberikan dampak apapun pada Negeri yang juga dikenal dengan sebutan Mutiara Hitam ini.

Khusnudzan

Ada hal yang membuat saya terkesan ketika mengikuti kultum di Masjid Ulul Albab kemarin (18/11). Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (saya lupa namanya), menceritakan tentang Seorang jenazah yang dikuburkan dan diurus langsung oleh para abdi negara dan juga para ulama’ terkemuka pada zaman tersebut. Padahal, di sisa hidupnya sering pergi ke tempat prostitusi dan ke warung-warung yang menjual minuman keras.

Diceritakan bahwa pada suatu masa hidup seorang sultan yang memimpin kerajaan Turki Utsmani, sultan yang begitu agung dan bijaksana. Pada suatu malam ia sangat merasa gelisah, dan tak mengetahui apa sebabnya. Oleh karena itu ia memutuskan untuk pergi memeriksa wilayah yang dipimpinnya tersebut. Sengaja ia menyamar menggunakan pakaian preman. Namun, di tengah perjalannya tersebut ia terkejut saat mendapati sosok jenazah yang tergeletak tak bernyawa dan dibiarkan begitu saja oleh para penduduk disitu. Sang sultan kemudian membawa jenazah tersebut pulang ke keluarganya. Dia menanyakan kepada istri jenazah tersebut, apa saja yang dilakukan jenazah itu semasa hidupnya?. Sang istri menjawab bahwa semasa hidupnya sang suami sering pergi ke tempat prostitusi melainkan untuk membayar PSK di situ agar tidak meneruskan pekerjaannya dan beralih ke pekerjaan yang halal. Pun juga ketika dia mendatangi warung – warung penjual minuman keras adalah untuk membeli minuman tersebut kemudian dibawa pulang dan dibuangnya di toilet, dimaksudkan agar peminum tersebut tidak jadi membeli minuman keras itu. Sang istri menuturkan bahwa tak ada satupun para tetangganya yang mengetahui apa yang dilakukan suaminya semasa hidupya. Bahkan, ia sudah mengingatkan kepada sang suami tentang berbahayanya aktivitas tersebut, dari persepsi tetangga – tetangganya. Namun, sang suami menjawab bahwa bahkan kelak akan ada sultan yang mau menguburkan jenazahnya. Mendengar penuturan tersebut sang sultan tersebut menangis, kemudian meminta para ulama’ mendoakan dan mengurus jenazah tersebut.

Agaknya, dari kisah tersebut kita teladani. Bahwa pentingnya khusnudzan (berprasangka baik) terhadap siapapun, bahkan terhadap apa yang kita kira salah. Hal itu juga bisa kita terapkan pada kebijakan pemerintah baru – baru ini, namun juga tak mengurangi daya kritis dalam berpikir dan mengawal kebijakan tersebut. Menurut hemat saya, cara demo atau turun aksi memang baik jika itu atas dasar pembelaan terhadap rakyat, namun perlu diingat bahwa ada pihak yang tetap dirugikan dengan adanya ini. Seperti halnya pengguna jalan yang terpaksa harus menunggu lama karena tidak bisa melalui jalan karena aksi tersebut.

Aksi – Menulis

Bukankah, mahasiswa notabennya adalah kaum intelektual dan terpelajar, mengapa tak mencoba memakai cara ampuh berikutnya yaitu menulis. Menulis bukan hanya bisa menyuarakan aspirasi, namun juga menambah pengetahuan dan mendorong sisi intelektual pada diri mahasiswa. Selain daya kritis dalam berpikir yang bisa diimplementasikan dalam tulisan, menulis setidaknya juga bisa mengurangi ke-madlorotan dari yang bisa dilakukan saat aksi demo, seperti memacetkan akses lalu lintas. Tak perlu berpanas-panasan dan berkejar-kejaran dengan aparat hukum – cukup siapkan kertas dan pena, gadget, laptop, ataupun komputer.

Seperti yang dikutip salah seorang pemateri DIKJUKSAR Diklat Jurnalistik dasar LPM Solidaritas lalu. “Bukankan tulisan itu lebih tajam dari pada pedang?”. Di bagian akhir paragraf ini, izinkan saya untuk mengajak anda sekalian. Mari suarakan kritikan dengan menulis!.

Comments

comments

Leave a Reply