Indonesia dalam Sosial Modern

Jurnalisme Warga, Kolom, Refleksi, Umum

Oleh : Moh Ali

Dalam ilmu pengetahuan banyak sekali cabang-cabang ilmu yang membahas tetang berbagai disiplin ilmu, salah satunya adalah ilmu sosiologi. Ilmu sosiologi ini merupakanan ilmu social yang objek kajiannya adalah masyarakat dan gejala yang ditimbulkannya. Sebagaimana sejarahnya yang mengatakan bahwa sosiologi berasal dari ilmu filsafat (master scientiarum) yang lahir pada waktu terakhir perkembangan ilmu pengetahuan.

Sosiologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri karena meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Sosiologi menurut Comte, harus dibentuk berdasarkan pengamatan terhadap masyarakat; dengan demikian ilmu ini tidak merupakan spekulatif belaka sebagaimana telah disebutkan, bahwa objek kajian ilmu sosiologi adalah masyarakat itu sendiri.

Dalam mempelajari sebuah keadaan yang ada dan yang ditimbulkan oleh masyarakat, maka selarasnya untuk dasar dalam pengkajiannya kita perlu terlebih dahulu memahami dan meneliti sebagaimana yang telah ditawarkan dalam ilmu sosiologi sebagai ilmu yang berkonsentrasi dalam bidang social.

Interaksi Social Sebagai Factor Utama Dalam Kehidupan Sosial

Bentuk umum dalam proses social adalah interaksi social yang juga disebut sebagai proses social; karena interaksi social merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas social. Dengan kata lain bahwa interaksi social merupakan hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara individu dengan kelompok.

Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai factor, yakni antara lain; factor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Factor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah dan dalam keadaan bergabung. Jika masing-masing dilihat secara mendalam, semisal factor imitasi yang mempunya peranan sangat penting dalam proses interaksi social yang salah satu bentuk positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong sesorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun tidak menutup kemungkinan imitasi juga memungkinkan sesorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Selain itu, imitasi juga dapat melemahkan dan bahkan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang.

Factor sugesti berlangsung apabila seseorang member suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Proses ini sebenarnya hampirsama dengan imitasi, namun titik toloknya berbeda. Factor sugesti ini dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda oleh emosi, yang menghambat pengembangan daya brerfikirnya secara rasional.

Memungkinkan proses sugesti ini terjadi apabila orang yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa atau orang yang bersifat otoriter. Kiranya mungkin pula bahwa sugesti terjadi oleh sebab yang memberikan pandangan atau sikap merupakan bagian terbesar dari kelompok yang bersangkutan, atau masyarakat.

Identifikasi sebanarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan dalam dari seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian sesorang dapat terbentuk atas dasar proses ini. Proses identivikasi dapat berlangsung dengan sendirinya(secara tidak sadar), dan juga dengan sengaja, hal ini dikarenakan seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya. Walaupun dapat berlangsung dengan sendirinya, proses identivikasi berlangsung dalam suatu keadaan dimana seseorang yang berindentivikasi benar-benar mengenal pihak lain(yang menjadi idelnya) sehingga pandangan, sikap maupun kaidah-kaidah yang yang berlaku pada pihak lain tadi dapat melembaga dan bahkan menjiwainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berlangsungnya identivikasi mengakibatkan terjadinya pengaruh-pengaruh yang lebih mendalam ketimbang proses imitasi dan sugesti walaupun ada kemungkinan bahwa pada mulanya proses identivikasi diawali oleh imitasi atau sugesti.

Simpati atau proses simpati merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Inilah perbedaan utama yang  ada antara identivikasi yang didorong oleh keinginan untuk belajar dari pihak lain yang dianggap kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena mempunyai kelebihan-kelebihan atau kemampuan tertentu yang patut dijadikan contoh. Sedang proses simpati akan dapat berkembang dalam suatu keadaan dimana factor saling mengerti terjamin.

Semua hal yang tersebut diatas merupakan factor-faktor minimal yang menjadi dasar bagi berlangsungnya proses interaksi social, walaupun dalam kenyataanya proses tadi memang sangat kompleks, sehingga terkadang sulit melihat perbedaan yang tegas antara factor-faktor tersebut.

Setelah ada faktor, maka dalam kajian masalah sosial terdapat syarat-syaratnya sehingga interaksi sosial tersebut dapat dikatakan atau di golongkan kedalam suatu intrraksi sosial.

Sistem Sosial

Dalam proses komunikasi sosial, sistem sosial merupakan target atau sasaran dari perubahan yang akan diciptakan. Sistem sosial dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama. Sebuah sistem sosial terdiri dari subsitem-subsistem sosial yang dalam konteks tertentu dapat pula menjadi sistem tersendiri (sitem sosial tersendiri). Ditinjau dari luas lingkupnya, sistem sosial dapat berupa sistem yang sangat besar, misalnya sebuah bangsa, sebuah komunitas budaya, komunitas sosial, dan masyarakat. Namun demikian, sistem sosial dapat pula berupa kumpulan unit manusia dalam skala kecil, misalnya organisasi dan kelompok.

Perubahan Sosial

Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaruan yang diadopsi oleh para anggota sistem sosial yang bersangkutan. Proses perubahan sosial biasa tediri dari tiga tahap:

  • Invensi, yakni proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan
  • Difusi, yakni proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial.
  • Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat.

Jenis-jenis Perubahan Sosial

Salah satu cara untuk mengidentifikasi jenis-jenis perubahan sosial yang terjadi adalah dengan mencermati dari mana sumber terjadinya perubahan itu. Jika perubahan itu bersumber dari dalam sistem sosial itu sendiri, perubahan yang terjadi disebut perubahan imanen. Sedangkan jika sumbernya ide baru itu berasal dari luar sistem sosial, disebut perubahan kontak.

Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan mengembangkan ide baru dengan sedikit atau tanpa pengaruh sama sekali dari pihak luar dan kemudian ide baru itu menyebar ke seluruh sistem sosial.

Perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial memperkenalkan ide baru ke dalam suatu sistem sosial. Dengan demikian, perubahan kontak merupakan gejala “antarsistem”. Ada dua macam perubahan kontak, yaitu perubahan kontak selektif dan perubahan kontak terarah. Perbedaan perubahan tersebut tergantung dari mana kita mengamati datangnya kebutuhan untuk berubah itu, dari dalamkah atau dari luar sistem sosial.

Perubahan kontak selektif terjadi jika anggota sistem sosial terbuka pada pengaruh dari luar (bersikap kosmopolitan) pada pengaruh dari luar dan menerima atau menolak ide baru itu berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan sendiri (felt-needs). Perubahan kontak terarah atau perubahan terencana (planned changes) adalah perubahan yang disengaja dengan adanya orang luar atau sebagian anggota sitem sosial yang bertindak sebagai agen pembaru (agent of changes) yang secara intensif berusaha memperkenalkan ide-ide baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga dari luar.

Ditinjau dari cakupan sasarannya, perubahan sosial dapat berupa perubahan dalam tataran mikro dan tataran makro. Perubahan yang terjadi dalam tataran mikro adalah perubahan yang terjadi dalam level individual, ketika seseorang menerima atau menolak inovasi, sehingga berdampak pada perilaku orang tersebut, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perubahan yang terjadi dalam tataran makro adalah perubahan pada level sistem sosial, ketika dalam sistem sosial terjadi struktur dan fungsi sistem sosial.

Kondisi Masyarakat Indonesia Saat Ini

Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju dalam rangka untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sebagai suatu bentuk perubahan sosial, modernisasi biasanya merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terencana. Perencanaan sosial (social planning) dewasa ini menjadi ciri umum bagi masyarakat atau negara yang sedang mengalami perkembangan. Suatu perencanaan sosial haruslah didasarkan pada pengertian yang mendalam tentang bagaimana suatu kebudayaan dapat berkembang dari taraf yang lebih rendah ke taraf yang lebih maju atau modern. Di Indonesia, bentuk-bentuk modernisasi banyak kita jumpai di berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, baik dari segi pertanian, industri, perdagangan, maupun sosial budayanya.

Berbagai bidang tersebut dapat berkembang melalui serangkaian proses yang panjang sehingga mencapai pola-pola perilaku baru yang berwujud pada kehidupan masyarakat modern. Sayangnya, penggunaan istilah modernisasi banyak disalah artikan sehingga sisi moralnya terlupakan. Banyak orang yang menganggap modernisasi hanya sebatas pada suatu kebebasan yang bersifat keduniawian. Tidak mengherankan juga bila banyak anggota masyarakat yang salah melangkah dalam menyikapi atau memahami tentang konsep modernisasi.

Globalisasi yang berasal dari kata global atau globe (globe = bola dunia; global = mendunia). Berdasarkan akar katanya tersebut, dapat diartikan globalisasi sebagai suatu proses masuk ke lingkungan dunia. Pada era modern ini harus diakui bahwa peradaban manusia telah memasuki tahapan baru, yaitu dengan adanya revolusi komunikasi. Dengan cepat, teknik dan jasa telekomunikasi yang memanfaatkan spektrum frekuensi radio dan satelit ini telah berkembang menjadi jaringan yang sangat luas dan menjadi vital dalam berbagai aspek kehidupan dan keselamatan bangsa-bangsa di dunia. Pemanfaatan jasa satelit tidak semata-mata untuk usaha hiburan, namun berkembang secara meluas dan digunakan dalam teknologi pertelevisian, komunikasi, komputer, analisis cuaca, hingga penggunaan untuk survei sumber daya alam.

Dengan adanya era globalisasi dan modernisasi berakibat buruk bagi moral masyarakat Indonesia yakni:

Munculnya guncangan kebudayaan; guncangan budaya umumnya dialami oleh golongan tua yang terkejut karena melihat adanya perubahan budaya yang dilakukan oleh para generasi muda. Cultural Shock dapat diartikan sebagai ketidaksesuaian unsur-unsur yang saling berbeda sehingga menghasilkan suatu pola yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan unsur-unsur budaya seringkali ditanggapi oleh masyarakat dengan beragam. Bagi masyarakat yang belum siap menerima perubahan-perubahan yang terjadi, maka akan timbul goncangan (shock) dalam kehidupan sosial dan budayanya yang mengakibatkan seorang individu menjadi tertinggal atau frustasi. Kondisi demikian dapat menimbulkan suatu keadaan yang tidak seimbang dan tidak serasi dalam kehidupan. Contoh: di era globalisasi ini unsur-unsur budaya asing seperti pola pergaulan hedonis (memuja kemewahan), pola hidup konsumtif sudah menjadi pola pergaulan dan gaya hidup para remaja kita. Bagi individu atau remaja yang tidak siap dan tidak dapat menyesuaikan pada pola pergaulan tersebut, mereka akan menarik diri dari pergaulan atau bahkan ada yang frustasi sehingga menimbulkan tindakan bunuh diri atau perilaku penyimpangan yang lain.

Dengan demikian jelaslah adanya problem yang sedang terjadi pada diri bangsa ini. Jika teori di atas mengatakan bahwa suatu perubahan tatanan sosial pada suatu kelompok atau negara yang sedang berkembang dapat berupa perubahan yang bersifat mikro dan makro; maka benar adanya. Namun yang perlu di garis bawahi adalah, perubahan mikro maupun makro sangatlah saling berpengaru terhadap keberlangsungan sebuah perubahan tatanan sosial tersebut.

Adanya perubahan tersebut juga tidak lepas dari Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial yang mana hal tersebut didasarkan pada berbagai factor, yakni antara lain; factor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati sebagaimana telah di paparkan di muka; serta adanya sistem yang terpakai namun tidak ideal dengan suatu kedaan tertentu dalam diri masyarakat.

Maka dari apa yang telah mengalami suatu perubahan, namun perubahan tersebut belum bisa dikatakan sebuah perubahan yang baik apa lagi memberikan suatu asa yang mengenakkan; maka kembalilah kepada nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara. Pahami dan hayati isi serta maknanya, wujudkan (implementasikan) dalam bentuk perilaku nyata (kepribadian bangsa) sehari-hari agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal asing yang dapat mengusik bahkan memunahkan kekayaan yang kita punyai terutama ciri dan ke khasan bangsa ini.

Jadikanlah UUD 1945 sebagai haluan (arah dan pedoman) untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, yaitu kesejahteraan rakyat yang adil dan merata. Implementasikan isi dan pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 tersebut secara konsekwen dan konsisten, sehingga terwujud pemerintahan yang bersih, jujur, berwibawa dan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi, baik yang di sebabkan oleh suatu sistem maupum yang secara langsung karena tuntutan sosial masyarakat yang tak terkoreksi keberadaannya.

 

Comments

comments

Leave a Reply