Hatimu Sebening Embun

Cerpen

Menjalankan metamorfosa kehidupan untuk menjadi sosok yang berakhlak dan berbudi tidaklah mudah di era globalisasi ini. Apalagi bagi seorang remaja putri yang jiwanya sangat rentan terkontaminasi oleh hal-hal yang bisa menyenangkan hati dan perasaannya tanpa menyelediki baik atau buruk cara memperolehnya. Karena puberitas remaja putri sangat rawan dengan pergaulan yang tidak bernorma. Sebab ketakutan itulah Orang tuaku memasukkanku ke salah satu pesantren di Jombang. Yang mungkin dengan memasukkannya aku ke sebuah pesantren, harapan orang tuaku untuk memiliki putri yang mengerti tentang agama Islam sangat besar. Tak terasa waktupun terus membawaku ke arah kedewasaan. Kini aku tumbuh menjadi remaja yang sudah cukup matang dan kuat untuk mengahadapi kerasnya mencapai sebuah cita di masa depan dan kejamnya kehidupan di luar pesantren dengan pegangan sedikit pengetahuan dari pesantren Al-Aqso ini.
***
Pagi ini aku membuka mata untuk melihat dunia. Apakah benar aku diciptakan untuk mengabdikan diriku dan cinta kepada-Nya?. Andai hatiku hanya terpaut cinta untuk-Nya, aku ingin mencintai semua karna-Nya. Karna cinta-Nya adalah cintaku. “ Gusti Robbi…. Maha Besar Allah dengan segala firman-nYa. Udara pagi ini sungguh banyak memberikan kesejukan dalam hatiku yang gersang dari sumber air salsabil. Yang sengaja Kau berikan kepada hamba-hambaMu yang taqwa.”, ucapku pelan sambil mengambil sandal untuk pergi jama’ah sholat subuh ke masjid. Di pesantren Al-Aqso ini aku sedang menjalani masa pengabdian selama satu tahun. Memang sudah menjadi syarat untuk pengambilan ijazah sekolah formal pagi untuk mengabdi terlebih dahulu selama satu tahun di pesantren. Entah menjadi seorang guru, pengurus, keamanan, penjaga kantin dan lain-lain. Itu semua tergantung dari kebijakan pengurus pusat yang sudah di musyawarahkan dengan Pak yai dan Bu nyai. Dan aku mendapat tugas sebagai ketua buletin pesantren. Karena semasa menjadi santri aku aktif dalam aktifitas buletin. Jadi tugasku gak berat-berat amat seperti temanku Nawa yang mendapat tugas sebagai kepala keamanan pesantren putri yang tidurnya mungkin bisa di hitung. Kasian banget aku melihatnya. Sering juga aku membantunya untuk menyelidiki kasus dan juga bisa aku masukkan ke dalam rubrik Mapea ( majalah pesantren Al-Alqso). Sebuah pengabdian memang sangat berat. Tapi tidak akan menjadi berat jika melaksanakannya dengan hati ikhlas. Namaku Maufuroh, dan teman-temanku sering memanggilku dengan panggilan Ema. Mungkin karena sulit dan aneh jika memanggil dengan sebutan, Mau,Furoh atau Maufu,.. lucukan?. Karena terlalu rumit. akhirnya teman-teman memaggilku Ema. Sebab kata Ema lebih mudah di ucapkan oleh lidah yang tak bertulang.
***
Sepulang dari masjid, aku langsung ikut membantu Bu dapur yang sedang memasak untuk para santri. Karena aku baru memulai aktifitas di bulletin pesantren mulai dari jam 09.00 – 12.00 WIB di saat para santri sekolah. Jadi masih banyak waktu longgar sebelum itu. Dan di sela-sela waktu longgarku. Aku ingin mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat seperti membantu memasak. Walaupun belum begitu mahir, setidaknya aku juga bisa belajar gratis.hehehe.
Saat di dapaur pesantren. “ Buk, Ema bantu ya?, mana yang bisa Ema bantu?”, ucapku menawarkan jasa baik untuk membantu ibu-ibu dapur yang masak banyak untuk para mujahid dan mujahidah pencari ilmu. Walaupun para santri yang mendapatkan tugas pengabdian di dapur pesantren cukup banyak. Tapi tidak bisa dipungkiri kurangnya kerelaan bantuan tenaga untuk membantu mempersiapakan makan para santri. “ howalah nduk.. matursuwun lo yo?, sebenarnya Ibu sudah banyak yang membantu. Kamu kerjakan saja tugasmu. Ini juga hampir selesai.”, ucap salah satu Ibu tukang masak dapur yang sering di panggil Ibu Semi yang baik hati bagi semua santri yang pernah menerima kebaikan dari Bu Semi. Karena beliau sering memberi tambahan makanan untuk santri-santri yang mungkin porsi perutnya dua kali orang biasa. Meski Bu semi sebagai kepala juru masak dapur pesantren juga sering kerepotan, Bu semi sering menolak santri yang ingin menawarkan jasa baik untuk membantu memasak di dapur. Karena beliau tidak ingin membuat santri pengabdian terlalu letih karena keras bekerja. “ Yah Ibu.., Ema gak ada kegiatan apa-apa kok!. Ema dengan senang hati ingin membantu ibu. Dulukan ema sering ibu kasih jajan. Kini Ema ingin balas jasa ibu. Boleh ya Ema bantu??, ya?” , rengek Ema penuh harap dan ketulusan. “ SubhanAllah nduk. Kamu ini kalau sudah karep gak bisa di nego., yowes, kalau kamu memaksa. Kamu bantu Ibu goreng kerupuk ini saja. Soalnya semuanya juga sudah selesai.”, ucap Ibu semi ramah. “ Beres bos!”, kata dan canda Ema penuh kehangatan kekeluargaan.
“ O ya Nduk Ibu baru ingat kalau ada sesuatu yang terlupakan., Ibu minta tolong kamu ke pasar nyusul mbak Siti dan Najma. Soalnya tadi Ibu lupa menyuruh mereka untuk membeli mie di Abah Hambali buat sahur nanti. Soalnya di koprasi pesantren stoknya sudah habis.” Pinta Bu Semi pada Ema. “ Inggih bu.” ucap Ema bersedia dan langsung berjalan meninggalkan dapur pesantren.
***
Setibanya dipasar. Ema langsung bertemu dengan teman seangkatannya yang bernama Siti. Mbak Siti dan Najma mendapat tugas pengabdian di dapur pesantren karena keahlian mereka dalam memasak. “ Mbak,.. Mbak Sit.. tunggu!”, teriak Ema sembari menghampiri Siti. “ ada apa Ma?”, tanya Siti. “ tadi aku disuruh Bu Semi nyusul sampean dan Najma ke pasar untuk memberitahu bahan pokok yang terlupakan untuk di beli. Soalnya di koprasi pesantren stiknya sudah habis. Kata Bu semi dapur membutuhkan mie cap dua santri 20 kardus di tokonya Abah Hambali untuk sahur santi malam, soalnya besok kan hari senin waktunya santri puasa sunnah. Dan sekalian minta Abah Hambali untuk mengantarkan mienya langsung ke pesantren..”, terang Ema. Abah Hambali adalah seorang saudagar kaya. Beliau salah satu adik dari Kiai Syafi’i yang mendirikan pesantren Al-Aqso Jombang. karena keahlian Abah Hambali dalam bidang Perdaganganlah yang membuat beliau tidak ingin menjadi seoarang guru di pesantren Kiai Syafi’i. melainkan lebih memilih menjadi seorang tajir (pedagang). Adanya kantin dan koprasi pesantrenpun juga berkat usul Abah Hambali untuk mendirikannya . supaya santri tidak jauh keluar pesantren untuk membeli keperluan pokok. Perbedaan profesi dan sudut pandang di antara saudara-saudara Kiai Syafi’i tidak menjadikan perpecahan dalam ikatan tali keluarga. Tapi lebih menjadikan persatuan dan keharmonisan di dalamnya. Dan keharmonisan dari keluarga pesantren Al-Aqso inilah salah satu faktor yang membuatku betah lama-lama tinggal di pesantren Al-Aqso. Asatagfirullahal’adzim.. Kok jadi nggosip sich?. Uda-udah, lanjutin cerita ajalah. “ MasyAllah.. aku kok juga lupa ya Ma. Yowes, aku minta tolong kamu saja yang membelikan mienya. sekaligus bilang ke Abah Hambali. Soalnya Najma juga masih membeli bumbu. dan Aku sendiri juga masih nunggu selepan kelapa dulu. Untuk uangnya biasanya di kasih di pesantren. Jadi kamu cuman tinggal bilang aja kok”, terang Siti detail karena Ema belum pernah belanja keperluan dapur pesantren di pasar hanya sesekali ke toko Abah Hambali untuk memesan minuman waktu ada acara pemilihan ketua Opeas (organisasi pelajar Al-Aqso). “ Iya Mbak”, jawab Ema patuh.
Usai belanja. Siti, Najma dan Ema segera pulang ke pesantren. Ketika di perjalanan menuju pesantren. Siti, Najma dan Ema melihat Ibu pengemis tua yang tampak begitu memprihatinkan keadaannya di samping pasar. Entah bagaimana bisa ada perempuan tua tak berdaya seperti pengemis itu di jalanan tanpa ada sedikitpun orang kaya yang terketuk hatinya. Sedangkan keberadaan orang kaya banyak di sekitar pasar ini. Sungguh bukan pemandangan yang ingin aku lihat di saat keadaanku yang juga sama tak memiliki apa-apa untuk membantunya. Hatikupun miris dan terketuk untuk mendekatinya. “ Mbak boleh pulang dulu sama Najma. Aku ingin menemui pengemis itu dulu.” Izin Ema pada Siti dan Najma. “ Untuk apa kamu menemui pengemis yang keadaannya sangat menjijikkan seperti itu Ma?, bau busuknya saja sampai sini!”, ucap Najma jijik. “ Iya Ma, buat apa?, kita kasih uang sajakan sudah cukup.” Sahut Siti yang juga tampak sedikit jijik melihat pengemis yang penuh borok dengan keadaan duduk ngesot. “ ya memang keadaan pengemis itu menjijikkan Mbak, Na.. Tapi diakan masih saudara kita. Aku hanya ingin membantunya untuk mengobati lukanya dan membantunya untuk makan. Tampaknya dia kesulitan untuk mengambil makanannya dan kesakitan dengan lukanya yang terlihat masih basah, mungkin itu luka baru. Walaupun banyak orang dermawan memberi makan dan uang, tetapi percuma saja jika Ibu pengemis tua itu tidak bisa menggunakan uang dan memakan makanannya dengan tangannya yang penuh luka seperti itu. Seburuk-buruknya orang jika dia masih saudara dengan kita, apakah tega hati ini membiarkannya terlihat kesulitan sedangkan kita mampu untuk membantu?. Dan apa tega diri ini ketika ada saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita, sedangkan kita memiliki tangan yang kuat dan mampu membantunya?. Tapi kita hanya terdiam melihat dari jauh dan tidak membantu apa-apa. Akupun juga tidak bisa diam jika melihat orang seperti Ibu pengemis tua itu, meski keadaanku sendiri lemah tak berdaya.”, ucap Ema penuh Simpati. “ SubhanAllah Ma.. hatimu sungguh tulus dan sebening embun pagi. Kita juga akan membantu kamu. Aku dan Najma akan membelikan obat.” , ucap Mbak Siti ikut bersimpati. “ Halah, opo to mbak?, jangan memuji berlebihan seperti itu. Kalau Ema nanti jadi besar kepala dan sombong bagaimana coba?. Kita semua kan makhluk Allah yang baik.”, ucap Ema berkilah. “ Iya Maufuroh cantik.. hehehe”, jawab Siti menggoda. Dan tampak muka Ema yang memerah karena malu atas canda Mbak Siti. “ Iya, aku juga setuju. Aku tadi bawa sedikit uang. Mungkin uang ini cukup untuk membelikannya baju ganti yang lebih layak untuk di kenakan.”, sahut Najma ikut besimpati. “ terimakasih banyak ya Mbak,Na?, kalian mau membantu ibu pengemis tua itu. Kalian juga berhati mulia.” , puji Ema bahagia karena kedua temannya ikut membantu pengemis tua yang kesusahan itu. “ Ah!, kau ini Ma, ya sudah. Aku dan Najma ke apotik dulu.”, pamit Siti dan Najma sambil melangkah meninggalkan Ema. Dengan penuh ketulusan Ema menghampiri pengemis dengan keadaan memprihatinkan dan menjijikkan karena penuh luka yang sudah menjadi borok tanpa malu dan jijik. “ Assalamu’alaikum Bu!.”, ucap Ema mengawali. “ Wa.. wa’alaikumsalam”, jawab pengemis tua itu. “Apa ibu sedang kesusahan untuk makan?”, Tanya Ema. “ Iya nak!”, jawab Ibu pengemis tua itu lemah. “ Kalau begitu, izinkan saya untuk menyuapi Ibu?”, pinta Ema. “ SubhanAllah.. Gusti Allah telah memberikan sedikit sifat Ar-rohmannya kepadamu nak!. Saya memang kesulitan untuk mengambil makan-makanan ini. Karena banyak luka di tangan saya yang menjadikan tangan saya sulit untuk di angkat ke atas” jawab Ibu pengemis tua sambil meneteskan air mata karena menahan rasa sakit dan juga haru atas perbuatan mulia Ema. Dan dengan penuh kasih sayang tanpa sedikitpun rasa jijik, Ema menyuapi pengemis tua itu dengan penuh kasih sayang tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar pasar yang diam-diam meperhatikan perbuatan Ema. “ Sungguh berhati mulia sekali anak itu!. Tanpa rasa malu di lihat banyak orang yang lalu lalang di psar ini dan jijik melihat pengemis itu. Anak itu terlihat tenang penuh dengan ketulusan untuk menolong.”, puji salah satu tukang ojek kepada bapak-bapak yang sedang main catur di pangkalan ojek pada waktu itu. Tak lama kemudian Siti dan Najma datang membawa obat-obatan yang di butuhkan dan sepasang baju ganti. Dan usai menyuapi, mengobati dan mengganti pakaian pengemis tua itu. Ema, Siti dan Najma berpamitan pulang ke pesantren karena takut barang-barang belanjaanya di tunggu lama oleh Ibu dapur yang akan segera di olah. “ Nggehpun, semoga Allah senantiasa menolong hamba-nYa yang memohon pertolangan dan welas asihnya seperti Ibu. Mungkin bantuan kita belum bisa membantu banyak, tapi mudah-mudahan dengan semua ini cukup untuk membantu Ibu menahan rasa sakit dari lapar dan luka.”, ucap sekaligus pamit Ema sambil meneskan air mata tanda tak tega meninggalkan pengemis tua itu sendiri. “ terimakasih banyak nak?, ini semua sudah lebih dari cukup. Ibu tidak bisa membalas apa-apa kecuali hanya sebuah Do’a. Semoga kebaikan kalian semua di catat oleh malaikat Allah dan mendapatkan balasan yang lebih dari ini.”, ujar ibu tua itu sambil bercucuran air mata haru. “Amin.. kita pamit pulang dulu Bu. Assalamu’alakum” , ucap Ema, Siti dan Najma. Dan di jawab salam juga oleh ibu pengemis tua itu. Berat hati Ema meninggalkan pengemis tua itu setelah mendengar banyak cerita darinya. Karena kehidupannya tidak terjamin. Serta keadaannya sebatang kara karena tercampakan oleh suaminya. Sungguh suami yang sangat kejam. Disaat cobaan menerpa bertubi-tubi mulai dari kehilangan kedua orang tua, kehilangan anak, harta dan penyakit ganas yang mematikan. Tetapi bukan kekuatan dan dukungan yang di berikan oleh suaminya kepada istrinya. Malah di campakan begitu saja. Memang suami yang berperi kehewanan. Sungguh kehidupan yang memprihatinkan.ternyata hidup memang tidak semudah dan seindah dalam seketsa cerita roman. ucapku dalam batin
***
Usai menjalankan rutinitas yang seabrek di pesantren. Ema melepaskan lelahnya dengan bermuhasabah diri sekaligus merileks pikirannya di serambi masjid yang begitu hening di saat semua santri lelap istirahat dalam buaian malam. “ Ya Allah. Begitu melenakan dan melelahkan dunia ini. Aku takut melihat dunia di luar pesantren setelah masa pengabdianku usai. Mungkin ibu pengemis tua tadi adalah salah satu pelajaran kecil dari kejamnya dunia ini. Ya Allah semoga ibu pengemis tua tadi mendapatkan ruang yang layak di sisi manusia dan bisa menikmati kehidupan seperti manusia umumnya. Amin… Tapi aku akan berusaha untuk tidak takut menghadapi masa depan. Karena aku yakin, bahwa kekuatan dan keberanian itu terletak dalam hati. Aku tidak boleh takut karena ketakutan dari energi negatif yang terkesan nyata membelenggu jiwaku. Aku pasti bisa!. Ibu,, Bapak.. Ema merindukan kalian. semoga Ibu dan Bapak sehat selalu di dalam perlindingan-nYa dan mendapat rizki cukup untuk bertahan hidup. Ema sebentar lagi pulang. Dan Ema akan berusaha membuat Ibu dan bapak tersenyum bahagia dan bangga, walau memiliki anak yang bisa saja seperti Ema yang serba banyak kekurangan.” Gumam Ema dalam hati sembari menyadarkan punggung di tiang serambi masjid.
Kebaikan yang di iringi dengan ketulusan hati akan jauh lebih memiliki makna dibandingkan dengan kebaikan yang hanya berdasarkan atas dasar rasa kasihan atau bahkan karena mengharap pujian.. ^_^

Comments

comments

Leave a Reply