Hakikat Kesetaraan Gender di Mata Islam

Agama, Refleksi, Umum

Oleh : Annisa Fauziah

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan kekuasaan mereka kepada seorang perempuan.” ( HR. Bukhari ).

Berdasarkan nukilan dari hadits di atas, banyak dari kaum ulama tidak mengizinkan bahkan melarang kaum wanita menjadi khilafah atau pemimpin suatu negara. Atas dasar ini juga, kebanyakan suatu organisasi dipimpin oleh pria, daripada perempuan. Setelah ditelisik lebih jauh makna dari hadits tersebut bukan pribadi dari wanita, namun sifat wanita pada umumnya saat Rasulullah masih hidup, artinya sifat perempuan saat zaman jahiliyah.

Melalui hadits di atas juga, banyak kelompok-kelompok yang ingin menyudutkan islam, dengan memberikan opini sepihak tanpa landasan yang kuat. Padahal islam sendiri tidak membedakan antara hak dan kewajiban antara laki-laki dengan perempuan, mereka diberikan anatomi yang sama, dengan kegunaan yang sama juga. Inilah yang membuat beberapa pemudi yang sesungguhnya mempunyai potensi untuk berkembang, larut seketika semangatnya. Sebagai pemuda dan pemudi yang cerdas sudah selayaknya dan seyogyanya hadits tersebut lebih didalami arti beserta maknanya. Padahal islam adalah agama yang adil-se-adil-adilnya, adalah hal yang mustahil jika islam memberikan batasan lantaran perbedaan gender.

Kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. Echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam islam dikenalkan dengan qadar atau ketetapan, semua hal sudah ditetapkan dengan kodratnya masing-masing seperti firman Allah dalam su rah Al-Qamar ayat 49 :

اناكلاشي ء خلقنه بقدر

“Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadar” (QS. Al-Qamar: 49).

Kodrat, disinilah perempuan dan laki-laki diatur, artinya ada batasan tersendiri bagaimana seorang manusia baik perempuan atau laki-laki diatur. Contohnya, perempuan diwajibkan menutup auratnya dengan hijab sedangkan laki-laki tidak. Manfaat dari berhijab sendiri sudah nampak, salah satunya adalah untuk melindungi perempuan.

Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat disangkal karena memiliki kudrat masing-masing. Perbedaan tersebut paling tidak dari segi biologis. Al-Quran mengingatkan:

”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

Baik perempuan maupun laki-laki memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak ada masalah seorang perempuan menjadi pemimpin asalkan dia mampu dan masih menjaga kodratnya sebagai perempuan, artinya dia tidak bertindak selayaknya seorang laki-laki.

Teori dan konsep Gender memang mudah nampaknya, namun dalam peng-aplikasinya bukanlah perkara yang mudah, terlihat dari masih adanya beberapa kaum dan golongan yang memandang sebelah mata akan perempuan. Kuatnya sistem budaya yang mengakar membuat sebagian besar masyarakat masih menganggap perempuan kurang  mumpuni jika bergelut di ruang yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Selanjutnya dengan ajaran agama yang dipahami secara setengah-setengah, membuat perjuangan perempuan untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender semakin sulit tercapai.

Inilah tugas pemuda dan pemudi ini, sebagai agent of change haruslah mampu mengubah mindset masyarakat Indonesia yang mengakar tentang padangannya terhadap wanita. Pemuda dan pemudi perlu menyebarluaskan ilmu tentang kesetaraan gender ini, dengan menyampaikan ilmu secara utuh. Sudah ada wujud nyata bagaimana sebuah daerah yang menjadi cukup makmur ketika di pimpin oleh perempuan salah satunya adalah Kota Surabaya yang dipimpin oleh Risma.

Oleh karena itu, tidak perlulah para pemudi muslim berkecil hati, saat memiliki kemampuan yang mumpuni, meskipun banyak yang memandang sebelah mata lantaran gender yang dia miliki. Semuanya serba adil, apalagi untuk mereka yang mau berusaha.

Comments

comments

Leave a Reply