Gus Sholah: “Saat ini Makruh Berpolitik”

Berita Kampus

Solidaritas—Selasa (11/4) Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya bekerja sama dengan Komunitas Baca Rakyat (Kobar) Surabaya mengadakan Seminar dan Launching Buku Membuka Ingatan Memoar Tokoh NU yang Terlupakan terbitan Pustaka Tebuireng di Aula Pascasarjana Lantai 3 gedung Twin Tower B. Seminar yang dikemas dalam bedah buku ini menghadirkan KH. Salahuddin Wahid atau terkenal dengan sebutan Gus Sholah sebagai pembicara utama. Turut hadir dalam seminar ini, Achmad Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya dan Prof. Masdar Hilmy, Wakil Direktur Pascasarjana UINSA sebagai pembicara dua dan tiga.

Gus Sholah didampingi istri, Nyai Faridah, mengawali seminar ini dengan mengupas segala sesuatu tentang buku yang direncanakan terbit lagi pada jilid duanya. Buku berisi profil tokoh-tokoh NU yang kurang dikenal masyarakat luas ini sebagai pembangkit semangat untuk calon pemimpin masa kini meneladani sikap mereka yang penuh tanggung jawab dan berintegiritas. Seperti yang diungkapkan Gus Sholah, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang juga Adik kandung Gus Dur tersebut menyoroti sikap pemimpin dan politisi saat ini yang sangat jarang bersikap tanggung jawab dan kurang memiliki integritas. Sambil mengutip pernyataan Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah, “Pejabat saat ini banyak yang hanya mengais rejeki, istilah mengais umumnya dipakai untuk ayam,” tegasnya.

Lebih lanjut Gus Sholah menyebut sekarang masyarakat makruh berpolitik, “Karena peluang untuk masuk ke dalam lingkaran setan yang tidak jelas sangat besar. Bahkan akhirnya yang lebih banyak masuk ke “pesantren” Suka Miskin. Jadi yang bisa saya sampaikan anda tetap harus kritis, anda harus punya sikap, anda tidak boleh oportunis. Tapi tetap kritis yang tahu batas sehingga tidak mungkin terjerat oleh sesuatu yang saat ini sedang musim. Hukum sekarang betul-betul tumpul ke atas dan tajam ke bawah, tumpul terhadap kawan tajam terhadap lawan” imbuhnya.

Pernyataan Gus Sholah ditanggapi Prof. Masdar Hilmy dengan sedikit pengecualian. Prof. Masdar menyatakan pentingnya jabatan-jabatan di pemerintahan dipegang orang yang mengerti dan bisa bertanggung jawab. Untuk itu pemuda perlu dipersenjatai sebelum terjun ke dunia politik.

Rektor UINSA, Abd. A’la, dalam sambutannya mengapresiasi acara ini dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh yang berkontribusi menyukseskan. “Saya berharap yang hadir di sini bisa menjadi penebar nilai-nilai yang terkandung dalam buku ini, terlepas apakah NU apakah Muhammadiyah. Ini tentang bangsa, tentang anak bangsa yang menegakkan NKRI, menegakkan Ahlissunnah Waljama’ah dan mengembangkan kaum pesantren menjadi bagian yang tak terpisahkan dari NKRI.” (mzn)

Comments

comments

Leave a Reply