Gang Dosen Tutup Sementara, Rofiq Harapkan Sebaliknya

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org – Sudah hampir seminggu pintu gerbang menuju gang kecil yang biasa disebut “Gang Dosen” ini ditutup. Pasalnya, pintu gerbang yang terletak di belakang UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini sedang dibangun proyek untuk saluran air supaya tidak banjir─drainase. Sehingga pintu gerbang Gang Dosen ditutup untuk sementara waktu. Hal ini berdasarkan penuturan Taufik, petugas keamanan UINSA. “Sudah hampir seminggu ditutup karena ada proyek buat saluran air biar enggak banjir. Sudah ada kok pemberitahuannya ditempel di situ.” Namun nyatanya lembar pemberitahuan itu jatuh tergeletak di tanah, sehingga para pejalan kaki, khususnya Mahasiswa UINSA, dibuat resah karena tidak banyak yang tahu sebab ditutupnya gerbang Gang Dosen.

Wacana akan ditutupnya gerbang Gang Dosen secara permanen pernah dimuat di Koran Beranda edisi November-Desember 2015, dan hal ini menuai pro-kontra. Mengingat gerbang Gang Dosen merupakan jalur alternatif bagi sivitas akademika UINSA, supaya tak perlu berjalan jauh menuju kampus. Namun, di sisi lain dengan tetap dibukanya gerbang Gang Dosen banyak pengemis, penjual, dan orang asing masuk berkeliaran di area kampus. Menanggapi hal ini, Isna, Mahasiswi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UINSA menyatakan penutupan gerbang Gang Dosen tak perlu dilakukan. “Tetap dibuka saja, kan kasihan mahasiswa yang kosnya di belakang dan enggak punya sepeda,” tuturnya.

Terkait permasalahan ini, Abdullah Rofiq Mas’ud, Kepala Bagian (Kabag) Umum UINSA menuturkan, adanya wacana penutupan gerbang Gang Dosen sudah sejak lama, namun tak kunjung terealisasikan karena banyaknya pro dan kontra. Rofiq menambahkan risiko keamanan dan ketertiban memang wajar jika membuka gerbang selain gerbang utama. Baginya, lebih baik gerbang Gang Dosen ditutup saja. Dengan ditutupnya gerbang tersebut, dapat memperkecil peluang orang asing masuk untuk berbuat jahat, mencuri, dan lain sebagainya.

Tidak ditutupnya gerbang Gang Dosen secara permanen juga membuat cemburu pihak lain. Pasalnya, dulu UINSA memiliki banyak gerbang tepatnya di sebelah selatan gedung Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), dan di belakang Gedung SAC (Self Access Center). “Semua gerbang itu akhirnya ditutup. Nah, tinggal gerbang yang satu ini belum ditutup. Akhirnya timbul kecemburuan masyarakat sekitar. Gerbang iki ditutup kok gerbang seng iku gak ditutup? (Gerbang ini ditutup kok gerbang itu, enggak ditutup, Red),” imbuhnya ketika ditemui Solidaritas di ruang kerjanya (31/7).

Mengenai realisasi wacana penutupan gerbang Gang Dosen perlu diadakan rapat pimpinan baik dari Rektorat maupun pimpinan tiap fakultas. “Yang jelas ini perlu dirundingkan di rapat pimpinan. Dan ini juga tergantung Pak Rektor menyetujui atau tidaknya,” pungkas Rofiq. (Ard)

Comments

comments

Leave a Reply