Di Balik Jendela Hitam

Cerpen

Oleh Nurul Hidayah*

“Satu, dua, tiga”

“Hmm.. tiga orang, satu anak kecil kepala botak memakai kolor putih, dan dua lagi makhluk tanpa kepala.”

Petang itu terdengar suara adzan yang berkumandang seakan menyeru para manusia untuk mendatangi sumbernya. Di balik jendela, aku hanya bisa melihat semua yang berlalu lalang di depan rumah, aku melihat beberapa makhluk yang tak lazim layaknya manusia pada umumnya.

Desaku memang terkenal akan manusia yang memperbudak makhluk-makhluk halus untuk menjadi suruhan mereka, dan begitu pula berlaku hukum sebaliknya, kebanyakan manusia juga menjadi suruhan mereka. Kebanyakan mereka menyuruh makhluk-makhluk itu untuk mengambil harta milik orang lain. Tak heran jika banyak tetanggaku kaya raya tanpa punya pekerjaan yang jelas.

Kuingat desas-desus tetangga tentang peristiwa seminggu yang lalu. Ya, peristiwa yang sangat aneh. Peristiwa itu terjadi pada seorang janda paruh baya dengan empat cucu yang tinggal di kota. Kelima anggota keluarga hidup menyendiri di rumah yang cukup besar untuk ukuran janda paruh baya yang telah beruban.

Suatu ketika ia belanja ke pasar, karena cukup jauh jarak dari desa ke pasar, wanita itupun harus naik angkot untuk ke sana. Setibanya di pasar, ia membeli sayur-sayuran dan jamu tradisional kesukaanya tak luput dibeli. Aneh tapi nyata, ya penjual jamu yang hanya lesehan di teras toko itu mengenakan emas berkilauan di bagian tubuh tetentu. Dia mengenakan kalung, gelang, dan cincin untuk menghiasi tubuhnya.

SKSD (baca: sok kenal sok dekat) mungkin sebutan itu pas untuknya. Dia bertanya banyak hal ke janda paruh baya itu.

“Mbak, namanya siapa?” Tanya si penjual jamuh dengan ramah.

“Ruroh.” Jawab si janda singkat, tanpa berniat basa-basi.

“Beli jamu apa?” wanita penjual jamu kembali bertanya, dengan senyum lebar. Senyum yang seolah terlihat dipaksakan, sekilas si janda merasa janggal.

“Beras kencur saja.” Jawabnya lirih.

“Loh, kok sendirian Bu belinya? Gak ada keluarga yang mengantar?” Si penjual jamu begitu terus bertanya tanpa henti, bukan kepalang ia terus bertanya pada si janda tanpa memperhatikan mimik janda yang ingin segera pulang dan menyudahi percakapan

Pertanyaan demi pertanyaan dia lontarkan hingga dia pun bertanya letak rumah janda itu. Kepolosan tetanggaku tak dapat diragukan lagi, ia memang terkenal baik dan tidak pernah menaruh curiga meski pada orang yang pertama kali ditemui. Tanpa ragu ia memberitahu letak rumahnya yang berada di depan sekolah Madrasah, tepat bersebelahan mushola. Penjual jamu lesehan itu memang terkenal kaya raya, walaupun hanya menjual jamu lesehan depan teras toko tapi itulah kenyataanya. Setelah selesai meminum jamu, wanita paruh baya itu memberi uangnya dan lekas berlalu pulang.

Siang berganti sore dan sore berganti malam. Janda paruh baya itu tak kunjung keluar rumah, dia selalu cepat terlelap setelah sholat isya itu.

Jarum jam menunjuk ke angka 00.00 WIB tanda tengah malam tiba. Perlahan tapi pasti, ada sesosok bocah berkolor putih dan kepala botak khasnya masuk ke rumah janda itu. Dia mendekati janda yang telah terlelap di lautan kapuknya. Dia merasa ada yang mendekatinya, dan dia pun terbangun. Janda paruh baya itu  hanya bisa menganga melihat makhluk itu. Ia hendak teriak, tapi seakan suara enggan keluar dari tenggorokannya. Sesaat ia menangis menyebut nama tuhannya spontan membaca ayat-ayat suci yang sudah ia hafal.

Awalnya bocah berkolor putih yang sering dipanggil Tuyul itu tak mau keluar. Namun, lama-kelamaan dia mulai kepanasan dan berguling-guling di lantai. Wanita itu berhenti berkomat-kamit dan menanyakan siapa dia dan darimana asalnya.

“Hei siapa kamu dan dari mana asalmu?” Meski si janda sudah tahu siapa makhluk yang ada di depannya, namun ia dengan lantang bertanya demi menyelamatkan harta dan keluarganya

“Aku Tuyul, si pencuri harta.” Jawab bocah itu dengan cengingisan, setelah si janda berhenti membaca ayat-ayat suci.

“Untuk apa kamu kemari?” Tanya si janda dengan penuh curiga.

“Aku haus, dan majikanku menyuruhku kesini, minta susu ke kamu”

“Siapa majikanmu?” Jawaban-jawaban yang diberikan tuyul, semakin membuat janda dengan lima orang cucu itu dipenuhi amarah.

“Penjual jamu yang kau beli tadi siang” Jawabnya tanpa ragu.

“Kau pergi atau kubacakan ayat-ayat ini lebih keras” Hardik si janda, dengan tatapan menyala tajam.

Dengan sigap tuyul itu pergi secepat kilat. Berita itu ku dengar dari beberapa warga sekitar. Dan aku melihat sendiri ketika tuyul itu masuk ke rumah janda paruh baya yang rumahnya tepat di depan rumahku. Kuhanya bisa diam, melihat dari jendela hitam rumah kosong yang sekarang Kuhuni ini.

 

*) Mahasiswa Sastra Inggris semester 6 UINSA Surabaya dan sedang menggeluti dunia jurnalistik di LPM Solidaritas dan Forum Lingkar Pena (FLP) Surabaya.

Karyanya yang lain bisa dinikmati di mnurulhidayah.blogspot.com.

Comments

comments

Leave a Reply