Dentang-Denting Kehidupan

Cerpen

By: Sovilia Malda*

Senja tak pernah jemu menemani rutinitas padatku sebagai seorang Call Center, kali ini senja kembali memberikan wajah yang berbeda dari sebelumnya, menyuguhkan sebuah tanya pada relung batin yang menunggu sebuah jawaban, kapankah sepi ini akan berakhir? Hembusan nafas yang mulai terengah-engah perlahan memejamkan mata ini. Semilir angin terasa begitu menyejukkan, burung berkicauan pulang ke sarang masing-masing ketika malam semakin larut. Ku langkahkan kakiku menuju halte bus kota. Di tengah kerumunan penuh sesak, terasa ada sentuhan di sana, aku melihat seorang anak menuntun ibunya yang renta dengan penuh kasih sayang, genggaman tangannya begitu erat. Sungguh, suasana seperti inilah yang sangat kurindukan, kebersamaan bersama Ibu. Tepat satu tahun lalu, ibu meninggal karena, sakit lambung. Manis kehidupan lenyap begitu cepat, tertelan dua dan air mata. Aku harus mengucapkan kata-kata perpisahan kepada seseorang yang melahirkan dan membesarkanku hingga menginjak usia 25 tahun. Untaian do’a selalu terlantunkan di setiap keheningan sepertiga malam-Nya. Semangat, dukungan dan nasehatnya akan selalu tertanam lekat dalam derai memoriku. Perempuan istimewa yang mendidikku hingga menjadi pribadi lebih baik. Aku menyadari semua akan kembali menghadap-Nya.  Denting jam terus berputar bus kota melaju melewati rindangnya pepohonan. Jemari tanganku asyik menari-nari, membalik halaman demi halaman novel yang aku baca hingga selesai. Detik berikutnya, Bus berhenti tepat di tempat dimana aku melepas segala lelah. Keringat membasahi bajuku, lelah tapi lillah itu yang kurasakan. Malam kembali menyelimuti dengan untaian mimpi sebagai penghantar tidurku.

Esoknya, pagi menawarkan sinarnya, langit cerah tak telah menyapa, embun masih setia menetesi ujung dedaunan, awan menari seakan mengajakku bangkit dari kemalasan, angin menyelinap dan berbisik memecah kesunyian, terik mentari perlahan membangunkan semangat setiap insan yang menapaki setiap dentingan waktu mencari pendamping hidup terbaik dalam lorong rindu semakin jelas menampakkan tanda kebesaranNya untuk  menumbuhkan cinta sesungguhnya.

“Aku  single lillah, mungkin ini cara Allah untuk mengistirahatkanku dari cinta semu,” bisikku dalam hati ketika mengawali hari.

Biarkan saja rasa ini mengalir, sebelum pintu rumahku kau ketuk dengan niat muliamu untuk meminangku. Kau mengajariku bagaimana mencintai Allah sepenuh hati tanpa celah, sehingga tak ada ruang bagiku tuk memikirkan cinta-cinta yang lain karena kutahu Allah akan memberikan yang terbaik.

Biarkan saja segalanya mengalir sebelum akad terucap dan kita akan selalu mencintaiNya bersama. Tak perlu resah, cukup fokus dalam perbaikan diri karenaNya sudah Allah tuliskan nama jodoh kita dan kapan ia akan datang, menanti dalam taat dan bertemunya dalam kepastian.  Tak ada yang bisa lepas dari cinta. Terungkap dalam hati dan tumbuh hingga takdir menyatukan kita. Siang malamku menanti, memantaskan diri dan yakin akan takdirnya yang indah untukku. Bagiku, Senin adalah hari teristimewa, karena hari itulah aku dilahirkan dan berprasangka baik jodohku datang di hari Senin. Aku tiba ke kantor, bergegas menaiki lift menuju lantai 10.  Kuawali dengan doa “Wahai Engkau Dzat Yang Maha Pemberi, berilah ridamu untuk mencari rezeki yang lapang dan kutitipkan cinta ini padamu, aku percaya Engkau akan beri imam terbaik untukku.”

Ku percepat langkahku menuju loker, binar matanya menyapa dari jauh. Senyumannya berhasil mengetuk kotak rasaku.

“Pagi, masuk jam berapa?” Sapanya dengan senyumnya yang begitu khas.

“A-a-aku masuk jam 8,” jawabku terbata.

“Rajin amat jam segini sudah datang,” pujinya dengan tulus.

“Iya,” angguku pelan.

“Oh, iya jangan lupa, nanti kita makan siang bareng.”

Entah apa yang membuatku terbata-bata saat berbicara dengan Reyhan. Keheningan cinta tumbuh dalam hati,terlantun lirih mulai mengeja namanya dalam doaku. Ketenangan tampak dari wajah Reyhan membuat terlihat sangat berbeda dengan lelaki yang pernah aku kenal sebelumnya. Aku merasakan tempat paling nyaman saat berbagi cerita dan waktu bersamanya, meski seringkali cerita-cerita itu hanyalah curhatan. Entah aku memang aku yang sekarang merasakan sedikit perhatian spesial dari Reyhan ataukah ini hanya perasaanku yang salah? Aku tak dapat menerka dan mengingat kapan terakhir kali memberikan brownies special untuknya.

Saling mendoakan untuk yang terbaik dan saling support soal karir dan jodoh, itulah ketulusan dari persahabatan kita. Perlu waktu untuk memberanikan diri membuka hati untuk Reyhan. Bagiku dia sesosok pemuda cerdas, meski usianya sebaya denganku tapi ia lulus Sarjana lebih cepat dan menjadi karyawan terbaik. Dari waktu ke waktu ada yang berbeda dengan kami. Saat waktu berbagi mulai berubah dari kebiasaan menjadi sebuah keutuhan. Tanpa sadar kami saling menjaga satu sama lain.

Akhirnya kami memutuskan untuk menjadi best friend. Sebenarnya ini yang aku mau dari dulu. Tak perlu saling memberi harap dan saling mengingat, tapi aku bersyukur cukup menjadi sahabat terbaiknya. Rutinitas padat kantor yang berjalan berikutnya pun begitu menyenangkan. Jauh dari kata jenuh, berangkat sama-sama, lunch sama-sama, bahkan untuk sekedar selfie dengan hp android masin-masing. Kehidupan selalu memberikan pelajaran yang berharga. Aku memilih untuk selalu berjuang dan tidak pernah putus asa karena, hidup selalu penuh makna.

*) Penulis berdomisili di Sidorajo, bisa dihubungi melalui surelnya, soviliamalda@gmail.com

Comments

comments

Leave a Reply