Bertemu dalam Luka Berpisah dengan Suka

Resensi

Judul Buku      : KALA Aku Adalah Sepasang Luka Yang Saling Melupa

Penulis             : Syahid Muhammad (Eleftheriawords) dan Stefani Bella (hujanmimpi)

Penerbit           : Gradien Mediatama

Kota Terbit      : Yogyakarta

Cetakan           : I, Mei 2017

Tebal Buku      : 348 halaman

ISBN               : 978-602-208-155-5

Peresensi         : Novi Ariska Putri*

 

Dunia penuh dengan hal berpasangan, lelaki dan wanita, bertemu dan berpisah. Seolah hal tersebut memang sudah ditakdirkan berdampingan, tidak pernah bisa dipisahkan. Tak luput juga dalam novel karya Syahid Muhammad dan Stefani Bella ini yang menceritakan tentang kepergian dan kehilangan, ditinggalkan dan meninggalkan. Dua tokoh pada awal cerita,  Saka dan Lara, kedua nama tersebut memiliki latar belakang atas namanya masing-masing. Nama Saka terlebih dahulu diceritakan dalam novel ini, nama Saka diberikan agar kelak dapat menjadi sebuah tonggak yang tegak dan teguh. Menjadi sebuah pegangan bagi siapa pun yang membutuhkan. Saka yang harus mampu menjadi saka bagi tiga adik perempuan dan saka bagi ibunya semenjak kepergian ayahnya. Lara Alana sebuah nama yang memiliki makna yang begitu indah, pelindung serta pengambil keputusan yang pintar dan menyenangkan. Namun Lara  merasa arti namanya tak sesuai dengan kehidupannya, ia yang diharapkan dipenuhi hal menyenangkan justru lekat dengan kesedihan.

Dalam novel ini yang lekat pada kepergian adalah Saka, dan yang lekat dengan kehilangan adalah Lara. Saka yang sering meninggalkan lain halnya Lara yang sering mengalami ditinggalkan. Kedua nama itu dipertemukan dalam kesempatan yang sang sangat berguna. Mereka dipertemukan dalam pameran Antara komunitas fotografi dan komunitas menulis di Coffe Shop Bandung, mengkombinasikan antara gambar dan tulisan yang saling membentuk sebuah nilai rasa tersendiri. Tanpa sengaja pertemuan mereka berawal dari rasa jatuh hati yang ditimbulkan Lara pada gambar yang yang dihasilkan Saka. Komunitas menulisnya mengharuskan setiap anggotanya memilih dua gambar yang harus dituangkan dalam bentuk tulisan.

Lara dan Saka seolah menyatu karena keduanya sama-sama pernah merasakan kesedihan. Tak perlu waktu lama bagi Saka dan Lara merasa cocok untuk bersama. Dalam sepuluh hari pameran mereka menghabiskan waktu bersama menikmati suasana pameran dan indahnya kota Bandung yang bagi Lara adalah hal langka karena dia penghuni ibukota. Rasa yang semakin tumbuh hingga menyisakan rindu antara keduanya tak dapat menahan untuk menjalin komunikasi dan rasa ingin bertemu kembali. Dua minggu setelah pameran usai mereka memutuskan untuk meresmikan rasa yang bergejolak di hati. Hingga akhirnya Lara dalam weekend-nya sering menghabiskan waktu di Bandung bersama Saka. Seperti layakya kisah percintaan sepasang manusia lain hubungan mereka tergoyahkan dengan sikap Lara yang sering mengatur hidup Saka. Hubungan mereka usai karena rokok dan kembalinya Saka menjadi pekerja Freelance. Pertengakaran yang terjadi antara mereka berdua menyisakan penyesalan yang berlarut-larut.

Untuk kedua kalinya Lara dan Saka dipertemukan dalam kesempatan yang tak terduga. Lara yang dipindahtugaskan di Jogja mengharuskannya untuk menetap disana. Saka yang sering pergi ke luar kota, terutama Jogja, untuk menghilangkan rasa penatnya akan pekerjaan deadline-nya. Sebuah kegiatan komunitas menulis Jogja berjasa mempertemukan mereka dalam suasana ombak laut yang tenang. Tiada perdebatan bak terakhir kali mereka bertemu dan Lara memilih mengakhiri hubungan mereka. Obrolan santai yang penuh rindu mereka tuntaskan dengan kesepakatan untuk menjalin hubungan yang baik namun berbeda dengan hubungan yang dulu. Lara dan Saka memilih untuk menjadi teman baik, “hasilnya bukan balikan tapi baikan.”

Novel ini menarik karena menggunakan kata-kata yang sangat menyentuh hati. Sudut pandang cerita dalam novel mengambil sudut pandang dari kedua tokoh sehingga ada variasi yang bisa dinikmati pembaca. Aku dalam cerita bukan hanya tokoh Lara maupun tokoh Saka namun keduanya memiliki cerita masing-masing. Begitu juga dari segi tampilan kover dan judul sangat menarik. Namun bagi orang awam awal cerita akan sukar dipahami, ada beberapa bagian yang membosankan karena cerita Lara dan Saka seolah hampir sama dan dirasa tidak perlu diulang kembali. Terdapat penggunaan kata yang jarang diketahui maknanya.

*) Mahasiswa Universitas Negeri Semarang asal Kendal, Jawa Tengah.

Sumber gambar : www.instagramator.com/media/1537866221373170455_2072681130

Comments

comments

Leave a Reply