Bersuluk dalam Sajak

Puisi

menanti letak dahiku turun dan simpuh

menjadi semacam gemerisik di batang keladi

langkahku di jalan ini hanya sebagai pengungsi

aku melesak, menuju-Mu

 

menanti batu nisanku digerus dan pecah

menjumlah sekerat roti di lebar usia waktu

tundukku di peraduan ini hanya sebagai pengabdi

aku bergerak, menuju-Mu

 

menanti ubun sukmaku di laut empedu

merintis kata ampun di teluk-teluk sunyi doa

sediaku di bilik tikam ini hanya sebagai pembakti

aku melacak, menuju-Mu

 

menjauh tubuh padangku renta dilahap api

mengiba, meringis, meronta-ronta; berserah diri

ada-ku adalah ada-Mu

ada-Mu sebab ada-ku

aku bersajak, menuju-Mu

 

Darus-Sunnah, 2016

 

Dalam Ruh Alif

bilamana umur seabad telah berkandang dalam benak

digigir-pecah batu cemeti oleh godam anak-anak alif

petakanlah dengan arif selingkar jalan arah matahati

di celah musim tuai-berladang pucuk putih bersuluk

 

tapi hamba rasakan letih teramat pangkal

hingga keluh demi datu koyak kelopak hebras

 

menekur aksaramu serupa gading bertelur

payah hamba berjibaku bersitegang bersitutur

menyatu dalam ruhmu; kicau kepodang

 

tegak ruhku, tegak ruh-Mu

: dalam ruh alif

 

Darus-Sunnah, 2016

 

 

 

Dalam Ruh Ba’

 

menelikung tengadah dua sisi landai-seberang

dikayuh setitik langgam sebagai isyarat dedaun serai

napas sekedirian umur setuturan cinta seruntaian

laju hidup disandar arah papandayan asal ruh-Nya

 

setara dihibah neraca waktu melucuti detik ke detik

kau gumuli pemilik tak berusai debu-debu seteru

kusenggamai alam pemisah sekat-sekat petaka

menuju-Nya muara segala

ranum pinta dan bercuaca

 

semoga hamba letih bertaring api

luruh dosa menjadi bantalan jelijih

 

himpun ruhku, himpun ruh-Mu

: dalam ruh Ba’

 

Darus-Sunnah, 2016

 

 

 

Dalam Ruh Ta’

tiada rusak bercampur laksa kesemenaan dua titik

penjara tangkai rumbia berhias pagar motif batik

sebab telah disabda-lisankan para tetuha nyilam

hidup sebatas singgahan labuh untuk bertuhan

 

satu ruhku, satu ruh-Mu

: dalam ruh Ta’

 

Darus-Sunnah, 2016

 

*Imam Budiman, kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur. Kini aktif di Komunitas Kajian Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Buku puisi tunggalnya; Perjalanan Seribu Warna (2014) & Kampung Halaman (2016).

Comments

comments

Leave a Reply