Bersekolah di Tomoe Gakuen bersama Totto-chan

Resensi

Judul Buku        : Totto-chan Gadis Cilik di Pinggir Jendela

Penulis              : Tetsuko Kuroyanagi

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit         : Jakarta

Tahun Terbit      : Mei 2017

Cetakan             : Kedua puluh tiga

Tebal                  : 272 halaman

ISBN                   : 978–979–2–3655–2

Peresensi            : Iif Dwi Lestari*

 

Masih ingatkah kalian dengan masa kecil kalian? Ketika sebagian besar waktu kita habiskan untuk bermain, bermain, dan bermain? Apalagi jika kita habiskan bersama teman-teman sekolah. Tentu mengasyikkan, bukan? Namun, terkadang orang dewasa menganggap anak kecil ‘nakal’, ketika mereka tidak menuruti apa yang dikatakan orang dewasa.

Seperti halnya Totto-chan, gadis cilik yang sekarang naik kelas satu ini, mau tidak mau harus bersekolah di tempat lain. Gurunya menganggap Totto-chan adalah anak yang nakal. Di kelas, Totto-chan lebih gemar berdiri di depan jendela sambil memandangi suasana di luar, daripada mendengarkan penjelasan dari gurunya.

Dari situlah Totto-chan mendapati segerombolan pemusik jalanan, kemudian ia meminta mereka untuk menyanyikan sebuah lagu. Tentu saja hal itu membuat gurunya jengkel. Padahal, apapun yang dilakukan Totto-chan adalah proses dimana sebuah rasa ‘keingintahuan’ dari seorang anak kecil yang sedang berkembang.

Beruntung, Mama Totto-chan adalah pribadi yang penyabar dan penuh perhatian. Mamanya tidak memberi tahu Totto-chan, alasan mengapa dia harus bersekolah di tempat lain. Mamanya hanya menjelaskan bahwa, ada tempat lain yang sangat bagus untuk bersekolah.

Ketika pertama kali tiba di sekolah barunya, Totto-chan terkesima akan gerbang sekolahnya. Gerbang itu tidak seperti di sekolahnya dulu yang terdiri dari pilar-pilar beton. Melainkan berasal dari dua batang kayu yang tidak terlalu tinggi. Kedua batang itu masih ditumbuhi ranting dan daun. “Gerbang ini tumbuh, kata Totto-chan. Mungkin akan terus tumbuh sampai lebih tinggi dari tiang telepon! (hal. 19).”

Jika sekolahan pada umumnya terdiri dari kelas-kelas yang dibangun dari batu bata atau sejenisnya dan atapnya dilengkapi dengan genteng, lain halnya denga Tomoe Gakuen. Kelas-kelas di Tomoe Gakuen berasal dari gerbong kereta, ya lebih tepatnya sekolah Tomoe Gakuen adalah ‘Sekolah Kereta’, begitu Totto-chan menyebutnya.

Adalah Sosaku Kobayashi yang menjabat sebagai Kepala Sekolah Tomoe Gakuen. Lelaki yang kerap tertawa meski giginya sudah tak lengkap lagi ini, men-setting kurikulum di Tomoe Gakuen berbeda dengan sekolah lainnya.

Selain gedung sekolahnya yang unik, di Tomoe Gakuen murid diberi kebebasan untuk memulai pelajaran berdasarkan apa yang mereka sukai. Murid-murid akan sibuk dengan pelajaran masing-masing. Tugas guru di sini hanya sebagai fasilitator dan monitor belajar mereka. Tentu saja hal ini begitu aneh bagi Totto-chan. Namun, tak perlu waktu lama, Totto-chan pun menyadari bahwa sekolah di Tomoe Gakuen begitu mengasyikkan.

Banyak kejutan yang didapatkan ketika bersekolah di Tomoe Gakuen. Seusai mengikuti pembelajaran di kelas, semua murid yang hanya berjumlah lima puluh anak tersebut, akan berkumpul di Aula untuk makan siang bersama. Tak lupa Pak Kobayashi selalu memastikan apakah anak-anak membawa “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”. “Sesuatu dari laut maksudnya makanan dari laut, seperti ikan. Sementara “sesuatu dari pegunungan” berarti makanan dari daratan seperti sayuran dan daging. Sehingga, bisa dipastikan murid-murid Tomoe tidak akan ada yang berkata, “Aku tidak suka ikan, daging, ataupun sayur.”

Hal inilah yang membuat para orang tua murid, termasuk Mama Totto-chan, selalu kagum dengan cara Pak Kobayashi mengajak anak-anak untuk makan makanan yang bergizi tanpa susah payah merayunya. Banyak hal yang diajarkan di Tomoe Gakuen seperti bersikap sopan santun, bagaimana menghargai pendapat orang tanpa menyakiti, hingga bertanggung jawab dengan diri sendiri. Semua itu diajarkan secara tidak langsung ketika kegiatan bersama di sekolah.

Di antara kelima puluh siswa, beberapa murid seperti Yasuaki-chan dan Takahashi begitu beruntung bersekolah di sana. Dengan “keistimewaan” yang mereka punya, tidak susah untuk mendapatkan teman ataupun mengikuti pelajaran. Sungguh, mereka semua sama meski berbeda dalam kemampuan fisik. Mulai dari kegiatan makan siang dengan “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”, berenang bersama, mengunjungi kuil, berkemah, hingga berjalan-jalan mengunjungi kebun. Ada satu hal yang membuat bersekolah di Tomoe Gakuen semakin menyenangkan yaitu kelas Euritmik. Euritmik terkenal sekitar tahun 1904. “Euritmik adalah semacam pendidikan tentang ritme atau irama khusus yang diciptakan seorang guru musik dan pencipta lagu berkebangsaan Swiss, Emile-Jacques-Dalcroze (hal. 100).”

Ternyata sebelum mendirikan sekolah Tomoe Gakuen, Pak Kobayashi terbang ke Eropa untuk memperlajari ilmu tersebut. Tidak tanggung-tanggung, ia berguru langsung kepada Dalcroze di Paris selama lebih dari setahun. Hingga akhirnya, Pak Kobayashilah yang menjadi orang pertama di Jepang yang menerapkannya untuk pendidikan di sekolah.

Selain bercerita tentang kehidupan Totto-chan dan kawan-kawannya di Tomoe Gakuen, buku ini juga bercerita tentang Rocky, si anjing pintar kesayangan Totto-chan, hingga bagaimana keadaan Jepang saat mengalami masa genting ketika perang Asia Timur Raya. Tomoe Gakuen pun menjadi salah satu korban kelamnya peristiwa pengeboman Jepang oleh sekutu.

Buku ini diceritakan dalam bentuk memoar dengan penulis sebagai tokoh utama yaitu Totto-chan. Dengan begitu, seluruh alur cerita tersusun dengan apik karena penulis menguasai semua peristiwa yang terjadi. Bahasa yang digunakan Tetsuko dalam meramu buku ini begitu ‘ramah’ bagi semua kalangan pembaca, sehingga ketika membaca buku ini, pembaca akan merindu dengan masa kecil, khususnya saat duduk di bangku Sekolah Dasar.

Kalau ditanya tentang bagaimana pesan atau nilai moral dalam buku ini, akan lebih baik bagi pembaca untuk segera membaca dan menjadikannya sebagai koleksi yang harus berada di rak buku. Buku ini begitu luar biasa, sangat baik dibaca oleh semua kalangan mulai dari ibu rumah tangga, pendidik, orang tua, calon pendidik, ataupun anak-anak.

Akhir kata, ada satu hal yang patut kita renungkan bersama, dengan kurikulum pendidikan yang hampir setiap lima tahun berganti, sejauh mana karakter generasi penerus bangsa terbentuk? Apakah lebih baik? Atau malah semakin tergerus oleh perkembangan zaman?

15 Agustus 2017. Di bawah sinar lampu meja belajar.

*) Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris UINSA angkatan 2014, saat ini sedang mengabdi sebagai Sekretaris Divisi Penelitian dan Pengembangan LPM Solidaritas 2017.

 

Comments

comments

Leave a Reply