Belajar Nilai-nilai Kehidupan dari Kisah Mitologi “Mahabharata” India

Refleksi, Umum

RESENSI FILM

Judul: MAHABARATA

Genre: Drama Mitologi

Produser: Siddharth Kumar Tewary, Gayatri Gil Tiwari, dan Rahul Kumar Tewary

Sutradara: Siddharth Anand Kumar, Amarpith G, S Chawda, Kamal Monga, dan    Loknath Pandey

Penerbit: Swastik Pictures

Tahun Rilis: 16 September 2013-sekarang

Durasi: 20 menit per-episode

Resenator: Wilayatul Istianah

Film Mahabharata, adalah salah satu film yang populer dan cukup digemari saat ini. Meskipun termasuk kategori film lama, namun film bergenre drama ini sudah banyak memukau mata penonton. Ceritanya yang menyentuh dan kaya akan pelajaran hidup juga menjadi salah satu kelebihan dari film 257 episode ini. Secara umum Mahabarata menceritakan tentang persaingan dan perebutan kekuasaan Dinasti Kuru.

Diawali kisah kehidupan Prabu Santanu (Sameer Dharmadhikari), raja kerajaan Barata yang dikenal sebagai Kerajaan Hastinapura. Prabu Santanu mempunyai permaisuri bernama Dewi Gangga (Vivana Singh) dan seorang putra bernama Bisma (Arav Chowdary). Suatu ketika Prabu Sentanu jatuh Cinta pada pada seorang anak nelayan bernama Setyawati. Inilah yang menjadi awal dari persaingan akan kekuasaan Hastinapura. Lantaran Setyawati mengajukan syarat hanya akan menikah jika anaknya kelak yang akan manjadi pewaris tahta Hastinapura.

Beruntung Bisma yang karena cintanya pada sang ayah, merelakan tahtanya di Barata untuk putra yang akan lahir dari Setyawati kelak. Alkisah, dari perkawinan tersebut Setyawati melahirkan dua orang putra bernama Citranggada dan Wicitrawirya, namun keduanya meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan.

Setyawati pun Setyawati meminta Wiyasa, anaknya dari perkawinan yang lain untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Setelah gagal membujuk Bisma untuk menikahi bekas menantunya. Sebab Bisma telah bersumpah untuk hidup melajang selamanya. Dari perkawinan Abiyasa lahirlah Destrarasta (Putra Ambika), Pandu (Putra Ambalika), dan Widura (Putra dari dayang Setyawati bernama Datri). Kendati lebih tua, namun Destrarasta (Anoop Singh Thakur) tidak bisa menjadi raja di Hastinapura karena buta. Sehingga tahta itupun diberikan kepada Pandu (Arun Rana).

Persaingan merebut kekuasaan kembali berulang ketika karena suatu kesalahan Raja Pandu harus memutuskan bertapa di hutan bersama kedua istrinya Kunti (Shafaq Naaz) dan Madri (Suhani Dhanki ) dan memberi kewenangan pada Destrarasta untuk menggantikannya. Ambisi akan kekuasaan memenuhi jiwa Destrarasta sehingga ketika kelima Putra Pandu, Pandawa (Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, Shadewa) kembali ke Hatinapura, Destrarasta keberatan mengembalikan tahta yang seharusnya menjadi hak Yudhistira (Rohit Bharadwaj), Pandawa tertua. Destrarasta justru ingin agar Duryudana, putranya lah yang menggantikannya sebagai raja.

Puncak dari kisah ini adalah perjuangan Pandawa mengambil kembali haknya atas tahta Hastinapura yang secara licik diambil oleh pihak Kurawa (Keturunan Destrarasta). Pandawa dan Kurawa menjadi simbol yang apik dari karakterisasi manusia. Pandawa digambarkan sebagai perwakilan sifat baik manusia. Kebijaksanaan, kejujuran, kekuatan, keadilan, keuletan, serta kesetiakawanan dan kesederhanaan hidup. Sementara Kurawa menjadi wakil dari keserakahan dan angkara murka manusia yang tak pernah puas dengan apa yang dimiliki.

Dalam perjalanan kisahnya, Arjuna (Shaheer Syeikh) menjadi tokoh yang memegang penuh alur cerita. Posisinya sebagai penengah Pandawa dan kemampuannya yang ahli tanding menjadikan Arjuna sebagai sentral kekuatan Pandawa. Bahkan dialah penentu dari keberlangsungan Dinasti Kuru. Dikisahkan bahwa setelah memenangkan perang Barathayudha. Cucu Arjuna, Parikesit lah yang menjadi raja di Hastinapura dan membawa kejayaan bagi kerajaan tersebut. Lantaran dialah satu-satunya keturunan dari Dinasti Kuru yang selamat.

Ada begitu banyak pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang bisa dipetik dari serial yang diangkat dari epos negeri Hindustan ini. Tidak hanya gambaran sifat baik dan buruk para tokohnya. Namun juga bahwa apapun pilihannya, hidup harus dijalani dengan penuh perjuangan juga pengorbanan. Lihatlah Pandawa, demi haknya atas tahta Hastinapura mereka harus menghadapi begitu banyak rintangan hingga rela diasingkan berkali-kali. Bahkan Kurawa, simbol dari sifat jahat pun berjuang keras untuk ambisinya. Meskipun semuanya berakhir sebagaimana hukum alam. Dimana kejahatan akan selalu kalah oleh kebaikan.

Sebagai sebuah tontonan, serial Mahabharata bisa menjadi salah satu alternatif. Ditayangkan pada prime time menjadikan film ini sebagai tayangan yang bisa dinikmati bersama keluarga. Satu-satunya hal yang nampak menjemukan adalah penggambaran tokoh-tokoh yang terkesan berlebihan. Bagaimana Pandawa yang digambarkan nyaris tanpa cela. Sementara Kurawa, tak sedikitpun digambarkan sisi putihnya.

Tak hanya, belajar dari tokoh utama. Pelajaran mengenai perjalanan dan pilihan hidup yang berbuah konsekuensi pun ditampilkan apik oleh tokoh pendukung seperti Karna, raja Angga. Dia yang dikisahkan sebagai putra sulung Dewi Kunti yang dibuang pun menjadi bagian menarik dari pergolakan berbagai karakter yang saling bertolak belakang. Sebagai putra titisan Dewa Surya, Karna mewarisi ketangguhan kesatria, sifat welas asih, dan keluhuran budi. Namun jalan hidup membuatnya harus berada di pihak Kurawa, membawanya pada dilematis kehidupan. Walau akhirnya mati sebagai pejuang dari pihak Kurawa, namun Karna menjadi satu-satunya Kesatria yang mendapatkan penghormatan langsung dari Shri Krisna (Saurabh Raj Jain) yang merupakan perwujudan Dewa Wisnu.

Sebagai serial dengan budget terbesar di India, Mahabharata tak hanya mendulang sukses untuk rating tayangannya. Beberapa pemain pun memetik manisnya ketenaran setelah membintangi serial tersebut. Hal ini semakin menegaskan bahwa industri perfilman Bollywood sebagai pusat perfilman paling produktif di dunia setelah Hollywood. Didukung dengan lighthing, kostum, efek editor yang sudah canggih (animasi), kesesuaian karakter pemain, hingga penggambaran lokasi yang pas, serial Mahabharata sungguh merupakan tontonan yang apik.

So, bagi anda yang bosan dengan tayangan konyol yang hanya mengisi ruang santai anda dengan tontonan. Maka Mahabharata juga menawarkan sebuah suguhan akan tuntunan kehidupan yang bisa dipetik hikmahnya. Happy Watching!

Comments

comments

Leave a Reply