Bedah Buku “Membuka Ingatan”, Dalam Kawalan Gus Sholah

Berita Kampus

Solidaritas-Pondok Pesantren (Ponpes) Tebu Ireng Jombang mengadakan acara seminar dan launching buku “Memoar Tokoh NU yang Terlupakan” yang bekerja sama dengan Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) Surabaya pada Selasa kemarin (11/04).

Acara tersebut diselenggarakan di gedung Twin Tower B dan dihadiri oleh 153 peserta. Dalam seminar itu ada tiga pemateri yakni KH Shalahudin Wahid (Gus Sholah, Red.), Achmad Muhibin Zuhri, dan Masdar Hilmy.

“Alasan kenapa pondok pesantren Tebu Ireng Jombang memilih KOBAR sebagai partner dan bukan kampus atau aktifis? Karena KOBAR adalah komunitas baca dan acara ini untuk bedah buku, bukan untuk menyuarakan aktifis, walaupun yang dibedah adalah orang-orang aktifis,” ungkap Dwi Yanto panitia bagian perlengkapan.

Ada hal yang mengejutkan ketika acara akan dimulai, Abd. A’la selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya secara spontan mempersilakan Nyai Faridah sebagai salah satu narasumber. Ia menganggap bahwa, Nyai Faridah lebih tahu tentang enam tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi bahasan dalam seminar tersebut, yaitu Ashmah Sjahruni, Fahmi Ja’far Syaifuddin, H.Z. Subchan Z.E, Mahbub Junaidi, Muhammad Zamroni, dan Tolchah Mansurt.

Persiapan acara tersebut dilakukan selama tiga minggu dan dipublikasikan H-7 sebelum hari H. Acara tersebut dipandu oleh Miftahul Haq dari Pondok Pesantren Ngelom Sidoarjo selaku moderator acara. Dalam kesempatan itu, Gus Sholah dan pemateri lainnya mengajak peserta untuk lebih mengenal enam tokoh NU yang menjadi bahasan dalam bedah buku tersebut.

“Mereka bukan orang-orang oportunis, mereka tidak hidup dari NU tapi menghidupkan NU,” ungkap Gus Sholah. Ia juga menjabarkan bahwa tokoh-tokoh NU dahulu integritasnya sangat tinggi dan rata-rata dari segi ekonomi mereka mapan. Sehingga terjunnya mereka dalam perjuangan NU benar-benar untuk menghidupkan NU, bukan ajang mengisi perut semata.

“Kita sekarang hidup di dunia antah berantah, yang digerakkan oleh kesadaran palsu yang lebih percaya oleh berita hoax,” ungkap Masdar Hilmy selaku Wakil Direktur Pasca Sarjana UINSA. Ia juga berpesan, bahwa sebagai seorang akademisi sudah seharusnya kita lebih cermat dalam menerima berita.

“Kalau kita kritis dikatakan anarkis, kalau kita diam dikatakan apatis, lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?,” tanya Syanusi, mahasiswa program studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ketika proses tanya jawab berlangsung. Gus Sholah selaku salah satu pemateri menjawab, bahwa seseorang memang harus kritis, tapi ada batas dan cara dalam penyampaiannya. (jhn)

Comments

comments

Leave a Reply