Basmi ISIS, Selamatkan Bumi Pertiwi

Kolom

Oleh: Ummahatul Mu’minin*

Akhir-akhir ini dunia internasional dihebohkan dengan hadirnya suatu kelompok militan jihad yang meresahkan penduduk muka bumi. Kelompok tersebut adalah Islamic State of Irak and Syam (ISIS). Pada awalnya, kelompok ini merupakan bagian dari al-Qaidah yang merupakan kelompok menyimpang dari prinsip-prinsip jihad.

ISIS dimotori oleh Abu Bakar al-Baghdadi sebagai tokoh sentral militansi ISIS. Dibawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Front al-Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi al-Qaidah di Suriah. Namun, karena metode ISIS dianggap bertentangan dengan al-Qaidah lantaran telah berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah, ISIS dianggap tidak lagi sejalan dengan al-Qaidah. Sebagai balasannya, Front al-Nusra lalu melancarkan serangan perlawanan terhadap ISIS dan merebut kembali kontrol atas kota Abu Kamal, wilayah timur Suriah yang berbatasan dengan Irak.

Namun, karena kebrutalan dan ambisi dari ISIS yang tidak segan melakukan penyiksaan bahkan pembunuhan terhadap para penentangnya, membuat ISIS bisa menguasai sebagian besar wilayah Irak. Bahkan dibawah kepemimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, ISIS mendeklarasikan negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah dan juga menyatakan bahwa Abu Bakar al-Baghdadi akan menjadi pemimpin bagi umat muslim di seluruh dunia.

ISIS dianggap lebih berbahaya ketimbang al-Qaidah karena mempunyai ribuan personel yang siap mendeklarasikan perang terhadap mereka yang dianggap bertentangan atau menentang berdirinya negara Islam. Mereka menjadi kekuatan politik baru yang siap melancarkan serangan yang jauh lebih brutal daripada al-Qaidah. Gerakan revolusi yang mulanya mempunyai misi mulia untuk menggulingkan rezim otoriter ini berubah menjadi tragedi.

ISIS menjadi sebuah kekuatan baru yang siap melancarkan perlawanan sengit terhadap rezim yang berkuasa yang dianggap tidak mampu mengemban misi terbentuknya negara Islam. Ironisnya, mereka mengabsahkan kekerasan untuk menindas kaum minoritas dan menyerang rezim yang tidak sejalan dengan paradigma negara Islam. ISIS menjadi kekuatan politik riil dengan ideologi yang jelas dan wilayah yang diduduki dengan cara-cara kekerasan.

Dari awal sampai pada pembentukan negara Islam murni telah menjadi salah satu tujuan utama dari ISIS. Menurut wartawan Sarah Birke, salah satu perbedaan yang signifikan antara Front al-Nusra dan ISIS. Menurutnya ISIS cenderung lebih fokus membangun pemerintahan sendiri di wilayah yang ditaklukkan. Sementara kedua kelompok tersebut berbagi ambisi untuk membangun sebuah negara Islam. ISIS yang jauh lebih kejam melakukan serangan sektarian dan memaksakan hukum syariah secara segera di kawasan yang mereka kuasai. Akhirnya pada tanggal 29 Juni 2014 ISIS mencapai tujuannya, dengan menyebut dirinya sebagai negara Islam, dan menyatakan wilayah okupasi di Irak dan Suriah sebagai kekhalifahan baru.

Kontroversi ISIS di Indonesia

Masuknya ISIS di Indonesia membuat seluruh elemen pemerintahan mulai dari pemerintah, POLRI, TNI, BNPT, Kementerian Pertahanan, hingga organisasi massa (Ormas) Islam harus siaga dalam menyikapi keberadaan ISIS yang mulai “meracuni” paham masyarakat Indonesia. Kelompok ISIS yang telah mendeklarasikan dirinya untuk membentuk negara Islam, ditentang “habis-habisan” oleh para elemen pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila sebagi dasar negara NKRI dan UUD 1945.

Cara-cara radikal dan kekerasan dalam memperjuangkan negara Islam di Irak dan Suriah, mencerminkan kelompok ini berpaham radikal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam sebagai agama rahmatan lilalamin. Kepala Kementerian Agama (Kemenag) telah menghimbau bagi seluruh masyarakat Indonesia tentang fenomena ISIS untuk mewaspadai masuknya ISIS ke nusantara karena ideologi yang dianut ISIS mengusung konsep Daulah Islamiyah -kekhalifahan Islam- yang sangat bertentangan dengan prinsip NKRI, kesejarahan Islam, dan penyebarannya di Nusantara.

Indonesia yang menganut asas kebhinekaan dari suku, agama, ras, dan golongan bukan Negara Islam. Menuntut para petinggi bangsa sangat diperlukan untuk melakukan clearing house bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan berpergian khususnya ke Timur Tengah, ke daerah konfik maupun ke Asia Selatan, demi meminimalisir pengaruh ISIS yang akan menjadikan Nusantara ini sebagai Negara Islam atau Islamic State (IS).

Pelan tapi pasti ISIS yang merupakan kelompok radikal bersenjata yang mengklaim sebagai pejuang Islam. Mereka berencana memperluas daerah kekuasaannya di wilayah Afrika Utara hingga Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia. Penyebaran ISIS di Indonesia mulai terungkap setelah ada sebuah video yang diunggah ke You Tube untuk menyebarkan pahamnya. Video itu berisi sekelompok warga Indonesia yang meminta kaum muslim Indonesia lain untuk bergabung dengan kelompok mereka. Dalam  video berdurasi delapan menit berjudul “Join the Ranks” itu, seseorang yang menyebut dirinya Abu Muhammad al-Indonesi meminta warga Indonesia untuk mendukung perjuangan ISIS agar menjadi khilafah dunia.

Fakta mencengangkan, ternyata ajakan tersebut disambut oleh sebagian warga Indonesia yang setuju terhadap pendirian kekhilafaan Irak dan Suriah di Indonesia. Nyatanya ratusan orang di Solo, Jawa Tengah menyatakan mendukung ISIS beberapa waktu lalu. Dukungan serupa juga muncul di Jakarta, dimana sekitar 600 orang menggelar sebuah pertemuan tertutup dan kemudian melakukan aksi unjuk rasa mendukung ISIS.

Berbagai cara mereka kerahkan mulai dari melakukannya dengan paksaan, kekerasan, bahkan mereka melakukan pembunuhan terhadap masyarakat setempat yang tidak mau untuk diajak bergabung. Selain itu, kekerasan terhadap perempuan juga dilakukan. Para perempuan diajak untuk menikah, meskipun si perempuan tidak suka.

Sungguh sangat ironis, jihad yang merupakan tugas mulia bernilai pahala harus dinodai dengan cara-cara yang tak sesuai dengan yang diajarkan agama. Indonesia yang mayoritas pendudukya beragama Islam menjadi sasaran “empuk” bagi kelompok ISIS untuk dipengaruhi agar mau mengikuti paham mereka. Ini merupakan “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan dengan cara yang baik, tidak hanya bagi para pemerintah, petinggi Negara, ormas Islam, namun juga seluruh masyarakat Indonesia. Jika dalam “pembasmian” kelompok ISIS di bumi pertiwi dilakukan dengan cara yang tidak baik dan tidak tegas, maka akan banyak menelan korban jiwa dan keamanan NKRI akan terancam.

Selain itu, dalam proses “pembasmian” kelompok ISIS harus mengedepankan semangat ukhuwah islamiyah dan kerukunan nasional. Umat Islam dan segenap kekuatan bangsa, tidak boleh terpecah-belah dan terjebak dalam strategi adu-domba yang dapat merugikan kepentingan umat yang lebih besar. Dan juga harus berkomitmen bahwasanya apa saja yang berpotensi merusak perdamaian NKRI, harus segera dicegah dan ditangani secara komprehensif. Apabila masih ada kelompok yang tidak mau “berkolaborasi” untuk merealisasikan apa yang telah dicanangkan oleh para elemen yang menolak paham ISIS di Indonesia, sama saja kelompok tersebut mengkhianati bumi pertiwi Indonesia.

*Penulis adalah mahasiswa BKI UIN Sunan Ampel  Surabaya semester 4 dan sedang mengemban amanah menjadi Editor di Redaksi LPM Solidaritas.

Comments

comments

Leave a Reply