Bamboo Revival, Terobosan Baru dari Himarsa

Berita Kampus

Solidaritas-uinsa.org-Minggu (01/09/17), bertempat di lahan kosong sebelah Pesantren Mahasiswi (Pesmi), Himpunan Mahasiswa Arsitektur UIN Sunan Ampel (Himarsa) Fakultas Sains dan Teknologi yang bekerja sama dengan PT Indotekno Bambu, mengadakan workshop bertajuk Bamboo Revival in Architectural Design.

Workshop bertajuk bambu yang diadakan oleh Himarsa adalah terobosan pertama desain arsitektur yang ada di Surabaya. Oleh karena itu, 96 peserta sangat antusias mengikutinya, dengan 24 peserta yang berasal dari luar kampus UINSA dan selebihnya dari mahasiswa UINSA.

Untuk membantu acara tersebut, pihak penyelenggara mendatangkan 4 trainer dari pihak PT Indotekno Bambu. “Diharapkan dengan adanya workshop inovasi bambu ini, dapat mengangkat citra bambu menjadi material bangunan, sekaligus mengurangi komponen yang merusak alam,” tutur Muhajir selaku trainer dalam workshop tersebut. Para trainer mengarahkan serta mengawasi pembuatan konstruksi bangunan dan momen ini pun dimanfaatkan oleh para peserta untuk belajar secara langsung.

Setiap peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memudahkan dalam pembagian tugas. Masing-masing peserta diperkenankan memilih untuk mengerjakan apapun. Akan tetapi, tetap sesuai dengan instruksi dan pengawasan dari para trainer.

“Saya sangat tertarik dengan workshop yang bertajuk bambu. Saya merasa salut dengan Himarsa karena sudah mengadakan acara ini dan berhasil bekerja sama dengan PT Indotekno Bambu,” ungkap Vina, mahasiswa semester 5 Jurusan Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Namun, dibalik kesuksesan acara tersebut. Pihak penyelenggara masih menuai kendala. Salah satunya adalah masalah waktu, workshop yang berjalan 3 hari, ternyata masih kurang untuk menyelesaikan 1 konstruksi bangunan. Padahal, rencana awal pihak penyelenggara memiliki 2 desain untuk dikerjakan oleh 96 peserta.

Nyatanya 1 desain saja memakan banyak waktu. Tiga hari dirasa masih kurang untuk mencapai tahap finishing. “Sulitnya ya itu, kita harus kejar waktu, untuk waktu normalnya konstruksi bangunan ini selesai pada waktu 5 hari. Nah, kita hanya dikasih waktu tiga hari,” ungkap salah satu panitia penyelenggara pada Solidaritas. Hal tersebut membuat pihak penyelenggara harus bekerja keras untuk menyelesaikan bangunan sesuai target.

Terlepas dari kendala tersebut, pihak panitia berharap setelah diadakan workshop bertajuk inovasi bambu ini, mampu menjadikan bambu sebagai material sustainable dalam arsitektur. “Tentunya, saya sangat berharap dengan penggunaan bambu, mampu memanfaatkan sumber daya alam dengan baik, serta peserta mampu mempertimbangkan materi alam,” ungkap Puspita mahasiswa semester 5 Program Studi Arsitektur sekaligus ketua penyelenggara workshop tersebut. (rna/elv)

Comments

comments

Leave a Reply