Bahaya Destruktif Korupsi yang Merajalela

Galeri Foto, Jurnalisme Warga, Kolom, Refleksi, Umum

Oleh  : Yenik Wahyuningsih

Bermula dari sesuatu yang tertutup hingga membendung menjadi bencana yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Awalnya dalam hal ini anda mungkin tidak menyadari bahwa penyakit yang satu ini bisa timbul kapan saja, dimana saja dan tidak memandang usia dan status yang disandangnya. Bagaimana bisa? Dewasa ini dengan kondisi bangsa yang dipengaruhi oleh perkembangan IT, kondisi sosial yang memungkinkan seseorang individu untuk tidak terjebak dala jaring permasalahan yang satu ini sangatlah kecil.

Ruang lingkup dalam korupsi inipun tidak hanya berkaitan dengan uang saja, tetapi dapat meluber ke dalam hal yang berkaitan dengan waktu maupun tenaga. Masalah uang bisa anda cermati sendiri sudah berapa kasus yang ditangani oleh oleh Komisi Pemberantasan Korupsi seperti yang masih terngiang di ingatan kita yakni kasus korupsi yang dilakukan oleh Gayus, kasus korupsi yang dilakukan oleh Angelina Sondakh, dan masih banyak lagi. Sedangkan yang berkaitan dengan tenaga maupun waktu mungkin sering anda jumpai dalam keseharian kita pula seperti halnya datang terlambat tanpa alasan yang dibenarkan.

Korupsi bukanlah hal yang baru, namun hal ini agaknya sudah membudidaya dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain ini agaknya belum menibulkan efek jera para perilaku yang hendak ataupun telah melakukan perbuatan ini. Sehingga sangat disayangkan sekali jika nantinya generasi muda terserang penyakit destruktif yang satu ini. Karena adanya contoh penyimpangan perilaku yang tidak bertanggung jawab dari golongan muda. Parahnya, hak-hak yang telah dirampas oleh anda ataupun mereka terkadang tidak seketika anda lakukan perbaikan. Perbaikan yang bagaimana?

Perbaikan sistem kognitif di segala aspek, dengan memperbaiki kemampuan ataupun karakteritik “knowing”, “learning”, “understanding”, dan “acting”. Dan adanya downward accountability dan upward accountability belum sepenuhnya terlaksana. Sehingga permasalahan yang sering muncul dalam  sistem yakni tanggung gugat yang merupakan perwujudan tanggung jawab publik dan pelayanan publik. Yang dalam dimensinya pemberian kewenangan kepada aparat birokrasi untuk menjalankan kekuasaanya. Kedua, pemberian keleluasaan kepada masyarakat untuk mengontrol kerja aparat brokrasi.

Sebagai masyarakat anda pasti juga merasakan era keterbukaan yang sekarang ini. Namun saya masih kecewa terhadap permasalahan korupsi, yang sering kali peran pemuda dalam tataran pemerintahan khususnya. Untuk kasus pencegahan korupsi belum nampak adanya keterlibatan pemuda. Padahal, bila anda tahu, pencegahan lebih baik dilakukan sebelum nampak adanya signal buruk, indikasi adanya korupsi. Selain itu pemuda punya peran yang sangat strategis bukan? Kebanyakan pemuda bangsa ini adalah pemuda yang kritis dan membawa signal yang besar untuk perubahan bangsa, menjadi change maker untuk bangsa Indonesia.

Saya yakin bahwa setiap individu mempunyai kewajiban yang harus ia laksanakan dan mendapatkan hak-haknya. Dalam permasalahan korupsi ini tidak serta merta kita mengedepankan ego mereka yang katanya tertindas, menghalalkan segala cara hingga terjebak dalam lingkaran korupsi. Sebaiknya jika anda pemuda, khususnya mari menelaah bagaimana korupsi dapat terjadi disekitar kita? Karena sebenarnya sungguh kasihan diri mereka yang tergerus dibalik rumitnya birokrasi kehidupannya.

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply