Asean Economic Community (AEC) 2015 Bisa Saja Menjadi “Berkah” bagi Indonesia, namun Sekaligus Menjadi “Petaka”

Jurnalisme Warga, Kegiatan Organisasi, Kolom, Umum

Asean Economic  Community (AEC) mencuri perhatian. Masyarakat di kawasan Asia Tenggara kini tengah bersiap siaga menuju pasar bebas, yang akan launcing pada tahun 2015 mendatang. Misalnya saja Negara Thailand, Singapura dan Malaysia mereka terus menunjukan tingkat daya saing yang cukup besar, mereka telah menggembor-gemborkannya jauh-jauh hari, mengambil langkah-langkah yang lebih matang untuk bersaing dengan  Negara ASEAN lainnya dari berbagai sektor. Lantas, bagaimana  dengan Indonesia?, seberapa “siapkah” Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 mengingat Indonesia masih harus berbenah. Hal ini harus menjadi Pe-er penting bagi Indonesia. Sehingga dengan adanya AEC ini, mungkinkah akan menjadi “berkah” atau bahkan “petaka” bagi bangsa Indonesia?

Berbicara sekilas tentang AEC, pada dasarnya AEC merupakan bagian dari 3 pilar Komunitas ASEAN, yaitu: ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community, ASEAN Socio-Cultural Community. Untuk langkah pertama yang akan direalisasikan adalah AEC pada 2015 mendatang, setidaknya terdapat 5 hal yang akan diimplementasikan, yaitu arus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas investasi, arus bebas modal, dan arus bebas tenaga kerja terampil.

Adapun AEC sendiri, adalah bentuk kerjasama di sektor ekonomi yang tidak lain, kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas Ekonomi di Wilayah ASEAN yang akan direalisasikan pada tahun 2020, namun dipercepat menjadi tahun 2015 yang dideklarasikan pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu Filiphina, 13 januari 2007 dan dilanjutkan dengan penandatanganan Piagam ASEAN beserta cetak biru AEC 2015 pada KTT ke-13 ASEAN di Singapura, 20 November 2007. AEC membuka kesempatan kerja antar Negara anggota ASEAN yang terdiri dari 10 negara meliputi Indonesia, Malaysia, Filiphina, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Dalam program ini nantinya para pekerja bisa bekerja bebas di Negara lain, seperti bekerja di Negara sendiri tanpa menggunakan visa kerja, sehingga bisa saja guru dari Negara Thailand menjadi guru di Indonesia, Jaksa dari Negara Myanmar menjadi jaksa di Indonesia, bahkan tukang sapu dari Negara Singapura menjadi tukang sapu di Indonesia. Begitupu sebaliknya. Oleh karenanya, persaingan di dunia kerja akan semakin ketat. Bagi pekerja yang mempunyai skill rendah, akan tergantikan oleh pekerja Negara-negra lain yang lebih berkompeten. Hal ini juga berlaku dalam bidang usaha, terdapat banyak tantangan yang harus lebih dipersiapkan oleh para pelaku usaha salah satunya terkait masalah kualitas produk yang akan dipasarkan, karena setiap unit usaha bebas memasarkan usaha  di luar negaranya tanpa diberlakukan pajak dan dengan regulasi yang sangat mudah.

Lantas, apa yang menjadi berkah dan petaka bagi bangsa Indonesia dengan diberlakukannya AEC ini?

Dengan percepatan AEC di tahun 2015 mendatang, menjadi teguran dan kejutan bagi bangsa Indonesia.Namun hal ini harus kita ambil dari segi positif.Sehingga Indonesia bisa lebih serius dan lebih mempersiapkan AEC 2015.Hal positif Indonesia menghadapi AEC ini dengan terciptanya pasar yang tidak lagi pasar Nasional, tetapi Asia Tenggara.Sehingga Indonesia bisa mengekspor barangnya ke 9 Negara anggota ASEAN dengan mudah. Begitu juga Indonesia akan mudah mengimpor barang sehingga kebutuhan yang tidak ada di Indonesia akan terpenuhi oleh Negara lain. Indonesia pun harus optimis dengan sumber daya alam yang sangat melimpah, daripada Negara ASEAN lainnya, juga sebagian besar masyarakat Indonesia dalam masa usia produktif, sehingga diharapkan lebih mampu menciptakan kreatifitas dan inovasi yang lebih cermat, sebagai bekal yang harus ditingkatkan menuju persaingan global dan mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Menurut laporan yang dirilis oleh World Economic Forum pada tahun 2013 yang berjudul The Global Competitiveness Reports 2013-2014menyatakan bahwasannya secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-38, peringkat tersebut menyatakan tingkat daya saing dalam tingkat yang medium(tengah) dari tiga tingkat yaitu best, medium, dan worst. Sedangkan dalam tataran ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke-5 dari sepuluh negara yang tergabung, peringkat tersebut berada di tengah-tengah dari keseluruhan anggota ASEAN, Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan Singapura yang menduduki peringkat 2 (tingkat global) dan peringkat 1 (tingkat ASEAN).Untuk lebih jelasnya simak tabel berikut.

 

 

Tabel The Global Competitiveness Reports 2013-2014

Negara Tingkat Global Tingkat ASEAN
Singapura 2 1
Malaysia 24 2
Brunei 26 3
Thailand 37 4
Indonesia 38 5
Filipina 59 6
Vietnam 70 7
Laos 81 8
Kamboja 88 9
Myanmar 139 10

 

Jika berpacu pada laporan tersebut, dalam menghadapi AEC ini, Indonesia dikhawatirkan akan mengalami hambatan, mengingat tingkat daya saing Indonesia di kanca ASEAN menduduki peringkat ke-5. Dalam hal ini, Apabila AEC ini telah berlaku pasar Indonesia akan banyak diisi oleh produk-produk Negara lain yang memiliki tingkat daya saing yang jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia. Lantas apa yang harus dipersiapkan ?,

Pertama, Pemerintah Indonesia harus meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Dalam hal ini, birokrasi Indonesia harus tepat, cepat, bersih dan pasti. Hal ini, untuk menciptakan iklim investasi yang baik sehingga investor dari dalam negeri maupun luar negeri, lebih nyaman untuk berinvestasi di Indonesia.

Kedua, Pemerintah Indonesia harus meningkatkan kualitas infrastruktur yang lebih baik lagi, dalam hal ini Indonesia harus menyiapkan ketersediaan, dan jaminan kontinuitas suplai energi, serta meingkatkan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, dan transportasi masal. Dikarenakan selama ini, infrstruktur Indonesia sangat memperhatinkan, menyebabkan tinggi biaya produksi yang akan menekan tingkat daya saing produk Indonesia sendiri.

Ketiga, Pemerintah Indonesia harus bisa menjaga stabilitas makro ekonomi yang lebih baik. Dalam hal ini Indonesia harus menjaga tingkat inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang nasional,  keseimbangan neraca pembayaran, dan utang Negara.

Keempat, Pemerintah Indonesia harus menigkatkan pelayanan kesehatan untuk seluruh masyarakat Indonesia, serta meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan masyarakat Indonesia. Serta memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu, Indonesia harus menjamin pendidikan masyarakat Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi lagi, tidak hanya sebatas tingkat sekolah menengah atas, namun hingga jenjang perguruan tinggi, serta adanya kontinuitas training terhadap para pekerja Indonesia.

Kelima, Pemerintah Indonesia harus memberikan kepastian terhadap pasar kerja, dalam hal ini, pekerja Indonesia khususnya buruh sering melakukan unjuk rasa karena ketidakadilan kebijakan pemerintahan. Oleh karena itu, Indonesia harus memberikan kepastian kepada para pekerja, di lain sisi juga memberikan kepastian kepada para manajemen perusahaan. Juga Indonesia harus meningkatkan kualitas SDM para pekerja Indonesia.

Keenam, Pemerintah Indonesia harus menjamin adanya penjaminan atas pasar keuangan. Dalam hal ini, ketersediaan dan mengalokasikan modal dengan yang terbaik.

Ketujuh, Pemerintah Indonesia harus menyiapkan teknologi yang canggih. Dalam hal ini, Indonesia harus meningkat penetrasi penggunaan ICT (information, communication technologies) kepada seluruh produsen Indonesia, guna meningkatkan produktivitas produsen.

Kedelapan, Pemerintah Indonesia memiliki pasar domestik yang tinggi, namun tidak berbangga hati. Indonesia juga harus bisa membuat produk yang dapat diexpor , dalam hal ini produk Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar dalam negeri, tetapi produk Indonesia harus mampu bersaing di pasar luar negeri.

Terakhir, Pemerintah Indonesia harus memetakan produk-produk unggulan local, memberdayakan industri kecil dan menengah, khususnya industri kreatif yang berbasis pada budaya Bangsa, serta melakukan percepatan standarisasi produk-produk tersebut berbasis SNI.

Dengan demikian, Indonesia harus siap dengan persaingan ini. Karena, di satu sisi jika tidak siap, maka Indonesia akan menjadi pasar berbagai produk impor, dan hanya menjadi penonton dalam pasar bebas ini. Namun di sisi lain, jangankan mempersiapkan diri, masyarakat mengetahui AEC pun tidak, dan ini fakta yang ada di masyarakat kita saat ini. Oleh karena itu, hal pertama yang diperlukan hingga saat ini ialah, sosialisasi yang lebih luas tentang apakah itu ASEAN Economic Community 2015 kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan perhatian masyarakat, serta pengetahuan tentang AEC merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bukan hanya pada jajaran pejabat pemerintahan saja, mengingat pelaksanaan ASEAN Economic Communit yang semakin dekat. Hal kedua adalah menanamkan cinta, dan mengenali terhadap produk dalam negeri, terlebih lagi masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif, masyarakat lebih bangga dengan produk-produk impor sedangkan cinta terhadap produk-produk dalam negeri sangatlah minim. Hal ketiga adalah mempelajari bahasa asing, minimal menguasai bahasa Inggris. Mengingat di tahun 2015 mendatang akan terjalinnya kerjasama-kerjasama dengan 9 negara lainnya, dengan kemampuan bahasa asing yang baik, maka akan memudahkan dalam berinteraksi dengan Negara ASEAN lainnya. Itulah salah satu dari beberapa persiapan yang harus dioptimalkan menuju AEC 2015, yang akan menjadi ancaman atau bahkan peluang bagi bangsa Indonesia menuju arah yang lebih baik. Jika dipersiapkan dengan matang, maka kita akan menjadi pemeran utama yang ditakuti oleh Negara lainnya. Dengan kita meningkatkan kreatifitas, inovasi dan kualitas produk yang akan membawa kita menjadi penghasil produk-produk yang lebih hadal dan berkualitas, sehingga akan menjadi dorongan untuk tetap eksis dalam persaingan global. Dengan ini, maka Indonesia akan siap menuju AEC 2015.  [LE/HA]

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply