Puisi

T R A G E D I

By: Nur Sakinatul Jannah*

 

Gadis kecil bermata biru terisak di sudut ruang tamu.

“Satu, dua, tiga, empat, lima…” hitungnya di tengah isakan.

“Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, aku akan mencari…” lanjut gadis itu.

 

Ia mulai berdiri, tangannya menghapus air mata di pipi. Kakinya melangkah memasuki setiap ruang dalam rumah tua itu. Satu demi satu pintu terbuka, diteriakkan sebuah nama.

“Riana, aku mencarimu, bersembunyilah..” teriaknya serak.

 

Tangga tua mulai berderit saat kaki mungilnya berlari menapaki anak tangga berdebu itu.

“Riana, aku menuju kamarmu, bersiaplah..” pekiknya di tengah kesunyian senja.

 

“B O O O !!!” Teriaknya saat membuka pintu bercat putih di lantai dua.

“Ah, dia hilang lagi. Ya sudah aku bermain di bawah saja,” keluhnya.

Gurat kesedihan terlihat lagi, tangisnya pecah lagi.

“Tuhan, apakah masih lama? Sudah seribu empat ratus tiga puluh lima hari kuhitung, dan Kau masih belum menginginkanku? Tuhan, bagaimana cara agar Kau menginginkanku? Bagaimana Riana bisa begitu mudahnya Kau pilih Tuhan? Tuhan, aku ingin menemani Riana di rumah barunya, aku ingin menemaninya tidur dengan jutaan bunga di sekelilingnya. Tuhan, bolehkah?” Teriaknya, isak tangisnya semakin terdengar. Memori usang kembali terputar.

——–

“Riana, aku mencarimu. Aku menuju kamarmu. Bersiaplah!” Leony kecil berseru sembari menapaki anak tangga. Riana meringkuk di sudut kamarnya.

“B O O O !!” Teriak Leony

“Kau selalu tak punya tempat baru saat bersembunyi.” Lanjutnya.

“Aku punya, dan kau tak akan menemukanku setelah itu.” Jawab Riana.

“Benarkah?” Riana dan Leony berjalan menuruni anak tangga dengan sedikit berlari kecil.

“Ya, tunggu sa..,”  tak lama terdengar bunyi berdegum keras di lantai satu.

“Rianaa!!!” Pekik Leony.

———

 

“Kini aku tau persembunyianmu. Dalam pelukan Tuhan bukan?” Kekeh Leony.

 

Dan sejak hari itu, dia terus menghitung. Entah berapa ribu lagi dia harus hitung. Angka-angka terus terucap dari mulutnya. Ingin dipeluk Tuhan, katanya.

—sanju #sanjuku

 

[—ala kita.]

 

Rayuan rindu hingga elegi bernada sendu pernah kuterima darimu. Cakap-cakap sederhana hingga kalimat tanpa jeda temani diriku hingga pagi buta. Kala itu, kamu sedang bergelora. Mendamba insan yang biasa saja.

Aku pun begitu. Rela kehilangan jatah memejamkan mata demi pria berkumis tipis yang tanpa sengaja kudamba. Menjadi bodoh dan mudah terjebak rayuan sederhana. Menyerahkan hati untuk dibiarkan terluka.

 

K     I     T     A

Wujud cinta tanpa rupa. Ada tapi maya. Terasa tapi tak biasa. Hadir karena luka, dan pergi secara tiba-tiba.

 

Cinta —ala kita. Dapat dirasa karena ruang maya sibukkan kita. Menipu waktu agar tak mengganggu setiap topik yang aku sampaikan. Memaksa kamu membalas semua asa yang kulahirkan.

Rindu —ala kita. Disebabkan kebiasaan-kebiasaan yang terlalu memakai perasaan. Sesuatu yang harusnya tak perlu dipikirkan, malah menjadi sebab rasa nyaman berkelanjutan.

Hingga akhirnya bosan menerpa. Rutinitas menjemukan, yang katanya kewajiban sebuah hubungan cinta —ala kita, nyatanya justru menjadi bumerang. Bahwa semua ini hanyalah selingan kala sepi melanda, saat hatimu tak miliki siapa-siapa. Hingga akhirnya, kamu menemukan dia yang sejak lama kamu pinta.

Aku —pengisi sepimu, tak berdaya. Karena cinta, rindu dan nyaman yang kurasakan tak pernah mendapatkan pengakuan. Hingga hak memintamu menetap pun tak tersampaikan.

Seperti sebelumnya, semuanya maya. Rupamu, suaramu, hingga perasaanmu. Aku tertipu. Ruang maya ini membuatku kelu. Menangis tersedu karena cinta dan rindu yang menggebu, disebabkan Tuan tanpa wujud yang mampu kusentuh.

 

Aku termangu. Diatas kertas kuning langsat kutorehkan tinta pekat.

 

Kukatakan bahwa …

 

Siapapun dirimu, sayang ini tetap benar untukmu. Meski aku tak tahu bagaimana bisa aku mendamba sosok maya nun jauh di sana. Yang aku yakini, aku bisa mengimani Tuhanku tanpa pernah aku tahu wujud-Nya. Maka aku bisa mencintai makhluk Nya, meski pertemuan tak pernah ku rasa. Terima kasih untuk semua drama dan cinta pura-pura, semoga Tuhan pertemukan kita.

—sanju #sanjuku

 

 

Teruntuk Hatiku

 

Dan lagi, kamu terjatuh lalu dihempaskan

Penantianmu tak lagi berarti

Sabar dan usahamu bukan inginnya lagi

Jadi, pergi atau tetap di sini?

 

——-

Untukmu, hatiku

 

Ada banyak hal didunia ini yang perlu dinanti meski akhirnya tak bisa dimiliki. Karena Tuhan ingin melatih kita untuk menjaga apa yang akhirnya ditakdirkan menjadi milik kita.

 

Aku tahu perih jika memaksa pergi. Aku tahu perjumpaan setiap hari pasti membuatmu jengah dan tak sanggup menahan diri.

 

Menangislah! Menangislah! Hingga kamu tak lagi miliki alasan untuk teteskan sebulir air mata.

 

Cinta bukan drama. Ia adalah rasa yang yang tak pernah bisa kamu duga. Tuhanlah yang memegang kendali penuh atas itu. Dan kamu, hanya bisa menganggap pada siapa cinta itu berlabuh berdasarkan logika pemilikmu.

 

Kuatlah! Menjaga cinta bukan sesuatu yang hina! Dalam diammu, ada doa yang terucap. Dalam sakitmu, ada harapan yang dibuat. Percayalah, meski hanya menjaga untuk takdirnya, kamu tetap bermakna.

—sanju #sanjuku

 

Dulu kau katakan aku segalanya

Saat aku bersikukuh ini hanya ketertarikan sementara

Dulu kau buat aku merana

Saat aku berusaha meyakinkan bahwa ini tak nyata

 

Dan sekarang

Saat aku menyadari semua

Saat rasa tumbuh tak terduga

Kamu kembali menjadi sosok asing yang entah bagaimana

 

Mengacuhkanku

Melupakanku

Tak peduli ada atau tidaknya aku

Bahkan ocehanmu saat kuterlambat mengabarimu

Itu hanya jadi memori lama

 

Salahkah aku menerimamu?

Lantas bagaimana dengan segala bualanmu itu?

—sanju

 

 

Anomali Kehidupan

 

Ini hanya buah dari rinduku, bacalah.

Aku menyayangimu, he-he. Kata-kata yang tidak pernah bisa kamu percaya, karena memang begitu adanya. Sudah begitu banyak kata-kata yang tak berarti apa-apa. aku menambah kosakatanya kurasa, omong kosong kini bertambah lagi satu di dalam catatan daun-daun surga.

 

Dalam setiap perjalananku, kutemukan banyak orang. Yang lebih tampan, yang lebih lucu, yang lebih pintar, yang lebih komunikatif, yang lebih lebih badan dan pemikirannya. Namun sepertinya kamu ini bajingan. Melihat mata kini tak nyaman lagi kalau bukan kamu, dan bertambah lagi satu omong kosong di catatan daun-daun surga.

 

Selalu ada perasaan yang tak bisa kusangkal keberadaannya, bahwa mungkin ada rasa cemburu, bahkan sedari kau bukan siapa-siapa, dan bertambah lagi satu omong kosong di catatan daun-daun surga.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sangat sederhana seperti apa yang telah ditakdirkan. Namun kisah kita adalah bentuk penyimpangan kehidupan, sepertinya takdir tak akan mempersatukan kita.

Tapi aku lupa, akulah Anomali. Akulah Sang Penyimpang. Takdirku adalah melawan takdir. Atau barangkali itu semua hanya tipu muslihat semesta, dan aku telah terlena.

 

Aku,

Sangat Menyayangi,

 

Kamu,

Yang senyumnya semanis madu dan selalu mengundang lebah-lebah di sekitarmu.

 

Kamu,

Yang jarang berbicara namun berhasil membuatku selalu jatuh cinta tanpa sebab apa-apa.

 

Kamu,

Nama yang selalu kusebut dalam nama-nama lain. Wajah yang selalu kutampak di saat hadirmu tak nyata. Sebab senyum yang selalu tercipta saat sendu terasa.

 

Kamu,

bagai temaram lampu di tengah kegelapan. Tak terlalu terang, tapi sangat kubutuhkan.

 

Dan bertambah lagi satu ton omong kosong di catatan daun-daun surga.

 

Sudah cukup, aku menyayangimu. Tapi takut untuk mencintaimu. Dan catatan daun-daun surga mulai terbakar habis. Menjadi sangat sederhana seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Jumat, 27 Oktober 2017 (Lantai Peraduan)

—sanju #sanjuku [Ditulis berdasarkan karya Awali Taufiqi]

 

sumber gambar: satubahasa.com

 

 

*Penulis kelahiran Sidoarjo, aktif sebagai Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tabiyah dan Keguruan UINSA.

Comments

comments

Leave a Reply